Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Cemburu Akut


__ADS_3

"Wi, udah bisa jalan?" tanyaku kepada Tiwi yang terlihat masih kekenyangan.


"Udah rel, yuk berangkat" ucapku kemudian dari tempat duduk dan Tiwi mengikutinya.


"Biar Aku yang bayar rel" ucap Tiwi berjalan menuju kasir.


"Lah , kok kamu yang bayar wi?" tanyaku heran.


"Udah tau kan alasannya?" ucap Tiwi menatapku dengan wajah yang terlihat kesal.


"Hheheh.. Iya sayang" jawabku sambil tersenyum karena Aku tau kalau alasan Tiwi ingin membayar makanan kami adalah pelayan wanita itu.


Aku berjalan menuju parkiran sembari menunggu Tiwi sambil tersenyum - senyum karena kecemburuan Tiwi akan pelayan warung itu.


"Tiwi... Tiwi..." Aku menggeleng - geleng melihat tingkah Tiwi.


Sekitar beberapa menit Aku menunggu Tiwi diparkiran. Tiwi pun menghampiriku dengan wajah bahagia karena pelayan itu tidak tersenyum kembali ke arahku.


"Gimana wi?" tanyaku melihat Tiwi berlenggang menuju ke arahku.


"Aman terkendali" ucapnya dengan senyuman manis dengan sedikit mengangkat kedua alis matanya.


"Yuk naik" ucapku menyuruh Tiwi naik ke atas motorku.


Tanpa respon sedikitpun Tiwi pun naik dengan sigap dan kembali memelukku walaupun motorku belum dalam keadaan berjalan. Tentu saja hal itu membuatku terkejut. Mungkin saja Tiwi masih belum puas memelukku selama perjalanan menuju warung ini.


"Main peluk aja ya buk" ucapku tersenyum melihat ke arah Tiwi dengan kepalanya sudah stand by bersandar di pundakku.


"Iya dong, tadi kan cuma sebentar doang" balasnya dengan raut wajah manja.


Tanpa aba - aba Aku langsung saja mengendarai motor menuju ke Toko Buku dengan kecepatan standar agar pelukan dari Tiwi bisa terasa lebih lama. Sekitar 20 menit kami diperjalanan tanpa bercakap sedikitpun. Aku hanya menikmati setiap perlakuan Tiwi diatas motor, mulai dari memeluk, bersandar dan terkadang mengintipku lewat kaca spion yang memang sengaja Aku arahkan tepat ke wajahnya Tiwi.


Kelakuan Tiwi yang terlihat begitu manja membuat perjalanan kami terasa sangat singkat, hingga pada akhirnya sampai lah kami di Toko Buku itu dan Aku segera memarkirkan motor.


"Disini bang" ucap tukang parkir mengarahkanku untuk meletakkan motor ke arah yang Dia tunjuk dan Aku mengangguk.


Segera Aku mengarahkan motorku ke tempat sesuai dengan perintah tukang parkir itu.


"Stangnya jangan dikunci ya bang. Periksa dulu kalau ada yang ketinggalan" ucap tukang parkir itu terlihat sangat ramah dengan sedikit melemparkan senyuman.


"Oke bang" balasku kemudian mencabut kunci motorku dan pergi meninggalkan parkiran menuju ke dalam Toko Buku.


"Yuk wi" ajakku menoleh ke arah Tiwi yang terlihat sudah tidak sabar ingin mencari novel yang Dia idam - idamkan.


Langsung saja Tiwi menggandeng tanganku dengan erat tanpa memperdulikan orang sekeliling yang memperhatikannya. Sesekali Tiwi menoleh ke arahku dengan menatap sedikit ke atas karena tubuhku memang lebih tinggi darinya dan kemudian tersenyum.


"Di lantai berapa tempat novelnya wi?" ucapku perlahan melangkah ke dalam gedung bertingkat 3 itu yang dipenuhi dengan alat olah raga pada lantai 1 dan buku - buku pada lantai 2 dan 3.


"Dilantai 2 kalau gak salah rel" balas Tiwi dan Kami berjalan ke arah tangga yang terletak dibagian kanan ujung ruangan itu.


Tanpa melepaskan gandengan tangannya, Kami berjalan menaiki tangga dengan perlahan karena Tiwi tak henti - hentinya menggandeng tanganku. Takutnya jika berjalan lebih cepat nantinya akan membuat Kami berdua tersungkur dan akan sangat malu sekali apabila banyak orang yang melihatnya. Kebetulan sekarang merupakan Week End, tentu saja cukup ramai orang yang berkunjung ke sini.


Setelah sampai dilantai 2, Tiwi langsung menyusuri setiap rak buku yang ada disana. Dengan membaca papan yang tergantung di langit - langit gedung itu yang bertuliskan "Novel" kami menyisirnya perlahan - lahan. Sekitar 10 rak buku hanya untuk buku novel saja tentunya membutuhkan waktu yang lama untuk mencari novel yang diinginkan Tiwi.


"Rel, kamu bantu cari dong" ucap Tiwi yang terlihat kesal karena novel yang dicari tidak kunjung ketemu.


"Ini kan Aku lagi ikut nyari sayang. Kami kira Aku cuma membantu kamu buat jalan doang" ucapku menatap Tiwi dengan wajah lucunya.


"Iya kok gak ketemu - ketemu rel. Apa coba kita tanya aja sama pelayan yang ada disana?" ucap Tiwi melihat pelayan yang sedang sibuk menyusun buku dibagian pojok.


"Boleh, Aku apa Kamu nih yang nanya?" tanyaku berniat menjaili Tiwi karena Aku tau kalau Aku yang pergi bertanya pasti Tiwi akan cemburu.

__ADS_1


"Aku lah" ucapnya Jutek kemudian berjalan menuju pelayan wanita yang terlihat masih cukup muda itu."Kamu tunggu disini, jangan ganjen".


Melihat kelakuan Tiwi yang sangat posesif itu tentunya membuat Aku geleng - geleng kepala. Bagaimana tidak, orang yang dulunya begitu cuek dan dingin secara drastis berubah menjadi wanita yang sangat manja dan posesif. Salah satu sebab Tiwi sangat posesif saat ini tentu saja tak lain dan tak bukan karena Tika, juniorku.


Setelah selesai bertanya kepada pelayan Toko itu, Tiwi pun kembali menuju ke arahku. Dengan wajah yang terlihat murung dan kecewa.


"Kenapa cemberut gitu wi?" tanyaku heran karena tiba - tiba raut wajahnya berubah secara drastis.


"Aku benci rel" ucapnya sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


"Benci kenapa sayang?" tanyaku pelan dan mendekati wajahnya yang begitu lucu hingga berjarak sekitar 4 cm saja.


"Novelnya udah sold out semua. Kan Aku jadi kesal" ucapnya, terlihat Tiwi begitu kesal karena Novel yang sudah lama Dia inginkan telah habis terjual.


"Yaudah, kita cari novel yang lain aja ya?" usulku namun semuanya sia - sia.


"Aku kan maunya novel itu rel. Mana bisa diganti sama yang lain" ucapnya dan terlihat matanya mulai berlinang pertanda ingin menangis.


"Ehh..ehhh... Jangan nangis dong sayang" bujukku agar Tiwi tidak menangis. Wajahnya terlihat mulai memerah dan perlahan menjatuhkan air matanya namun tanpa suara.


Tanpa menghiraukan orang disekitarku, spontan saja Aku memeluk Tiwi dan menyandarkan wajahnya ke bahuku agar Dia menjadi tenang dan tidak menangis lagi. Sambil mengusap - usap punggungnya beberapa saat, Tiwi terlihat sudah mulai tenang. Dan mengangkat wajahnya dari bahuku. Bajuku sedikit basah karena air mata Tiwi , wajahnya yang sudah sangat merah seperti udang rebus dengan bermandikan air mata. Membuat Aku menjadi kasihan kepadanya.


"Kita keliling kota aja yok, supaya Kamu gak sedih lagi" ucapku lembut sembari menatap Tiwi dalam.


Tidak ada respon sama sekali dari Tiwi namun Dia langsung saja berjalan menuruni tangga bahkan sampai meninggalkanku beberapa langkah.


Setelah sampai diparkiran, Aku memutar motorku dan membayar uang parkir dengan selembar uang kertas 2000 rupiah.


"Makasi ya bang" ucapku kepada tukang parkir yang sudah bermandikan keringat karena cuaca pada saat itu memang sangat terik.


"sama - sama" ucapnya dengan senyuman sambil meraih uang yang Aku berikan.


"Yuk sayang" ucapku sambil tersenyum ke arah Tiwi bermaksud membuat moodnya kembali membaik.


"Iya" balasnya jutek hingga membuatku kehilangan akal.


Setelah di atas motor dan perlahan Aku memacu motorku menuju ke tengah kota hanya sekedar untuk berkeliling menenangkan Tiwi. Karena Tiwi berdiam diri saja dibelakang tanpa sepatah katapun, mungkin saja Dia masih teringat dengan novel impiannya yang tidak Dia dapatkan. Aku berinisiatif untuk menarik tangan Tiwi dan mengarahkannya agar memeluk tubuhku. Melihat perlakuanku itu Tiwi hanya diam saja namun tidak menolaknya.


"Wiii" Aku memanggil Tiwi yang sedari tadi hanya terdiam saja di jok belakang.


"Iya rel" balasnya terdengar sudah mulai baikan.


"Udah baikan kah sayang?" ucapku mencoba merayunya dengan kata - kata yang biasa Dia ucapkan disaat ingin merayuku.


"Udah sayang" balasnya lembut yang berarti Tiwi sudah mulai baikan.


Mendengar jawaban itu membuatku menjadi sangat lega dan tenang. Kemudian Tiwi langsung saja memelukku dengan erat tanpa Aku bimbing lagi.


"Gitu dong dari tadi" ucapku terus memacu motorku menembus kota yang cukup padat itu.


Sekitar setengah jam kami berkeliling dengan segala gurauan yang Kami lakukan selama berada diatas motor, hingga pada akhirnya Kami memutuskan untuk berhenti di cafe untuk membeli minuman karena sudah cukup lelah berkeliling kota.


Cafe yang terletak di tengah kota itu akhirnya Kami temukan dan Aku pun langsung menepikan motorku. Setelah memarkirkan motor dihalaman cafe yang cukup luas itu, Aku dan Tiwi langsung masuk ke dalam dan segera memesan minuman.


"Duduk disana aja yuk wi" ucapku kepada Tiwi dan berjalan menuju ke tempat duduk yang Aku tunjuk. Tanpa balasan Tiwi mengikutiku. Cafe yang kami kunjungi terlihat begitu sepi, hanya terlihat sekitar beberapa orang saja yang membuat suasana disana terasa hening.


Tidak butuh waktu lama, tibalah minuman yang kami pesan.


"Ini pesanannya bang" ucap pelayan pria yang mengenakan pakaian serba hitam dengan celemek merah yang melekat pada tubuhnya. Pakaian yang digunakan seluruh karyawan cafe itu terlihat cukup sederhana namun tampak keren bagiku yanh merupakan pecinta warna hitam.


"Iya terima kasih bang" balasku mengangguk.

__ADS_1


"Sama - sama" ucap pelayan itu kemudian kembali ke tempatnya meninggalkan Aku dan Tiwi.


Tiwi terlihat sibuk dengan ponselnya karena mungkin sudah banyak pesan yang menumpuk karena sejak bersamaku Dia sama sekali tidak ada memegang ponselnya.


"Balas chat siapa tu?" tanyaku sedikit mengintip ke layar ponsel yang digunakan Tiwi.


"Ini si Tya, dia nanyain Aku lagi dimana rel. Mungkin mau ngajak ketemuan karena Dia tau kalau dihari libur biasanya Aku selalu dikos - kosan" jawabnya sambil memperlihatkan pesan yang sudah selesai Dia balas.


"Terus Dia tau kan kalau Kamu lagi pergi bareng Aku?" tanyaku lagi sembari meminum cappuccino dingin dengan taburan oreo diatasnya itu.


"Udah sayangku" jawabnya kemudian meletakkan ponselnya diatas meja dan mulai menyentuh minuman dengan gelas yang sudah dipenuhi dengan embun disekelilingnya.


Percakapan demi percakapan kami langsungkan selama nongkrong dicafe yang terlihat cukup menarik itu dengan kerlap kerlip lampu yang memenuhi setiap sudut ruangan. Membuat suasana didalam cafe itu terasa sangat nyaman. Sampai pada akhirnya Tiwi mengajakku untuk mengabadikan moment dengan foto bersama.


Cukup banyak foto yang kami ambil di cafe yang terkesan aestetic itu membuat Aku dan Tiwi merasa bahagia. Setelah dirasa cukup, Tiwi langsung melihat hasil foto yang sudah kami ambil tadi. Satu per satu Tiwi mengecek foto dengan penuh senyuman karena foto yang diambil begitu bagus dan menarik. Hingga hal mengejutkan terjadi yang membuat Tiwi terdiam sesaat kemudian melihat ke arahku. Aku yang sibuk meminum cappuccino sampai yang tersisa hanya es batu saja.


"Rel, kamu tega ya" ucap Tiwi tiba - tiba air matanya mulai berjatuhan. Tentu saja hal itu membuatku terkejut.


"Kenapa wi?" tanyaku heran melihat ke arah Tiwi.


"Ini maksud kamu apa rel?" Tiwi mulai menangis terisak - isak hingga membuatku semakin kebingungan. Tiwi mengarahkan ponsel yang Dia pegang ke hadapanku dan Aku panik bukan kepalang.


"Wi, tunggu. Kamu jangan salah paham dulu. Kamu dengar penjelasan Aku dulu" jelasku mencoba menenangkan Tiwi yang terlihat begitu kecewa atas apa yang telah Dia lihat.


"Apa yang mau kamu jelasin lagi rel?" Tiwi tertunduk dan terus menangis.


"Kamu lihat isi pesan Aku dulu" ucapku mengambil ponsel itu dan membuka pesan yang dikirim Tika kemudian menunjukkannya kepada Tiwi.


Perlahan Aku memperlihatkan apa saja pesan yang sudah dikirim Tika kepadaku pagi tadi. Dalam keadaan masih berlinang air mata, Tiwi membaca setiap pesan antara Aku dan Tika.


"Kamu percaya sama Aku kan?" ucapku menatap Tiwi dengan harapan Tiwi memahami apa yang sudah terjadi.


"Tapi kan rel, kenapa bisa?" tanya Tiwi masih tidak percaya namun perlahan mulai tenang.


"Aku gak tau wi, tiba - tiba aja Dia ngirim foto itu" jelasku.


"Aku gak habis pikir sama Dia. Semurah itukah dirinya sampai - sampai mau ngirim foto seperti itu kepada Kamu" ucap Tiwi terlihat begitu geram dengan ulah Tika yang sudah sangat keterlaluan.


"Jangankan Kamu wi, Aku aja kaget kenapa Dia berani ngirim foto itu. Padahal Aku sudah mengancamnya akan menyebarkan kalau terus - terusan hal itu Dia lakukan". Aku terus menjelaskan kepada Tiwi semua yang sudah terjadi sejujur - jujurnya.


Setelah cukup lama kami berdebat menyelesaikan masalah itu, akhirnya Tiwi percaya dan langsung menghapus semua foto yang sudah dikirim Tika. Sampai - sampai Tiwi juga menghapus dan memblokir nomor Tika dari ponselku karena sangkin geramnya.


"Kamu jangan ragu sama Aku ya wi. Semaksimal mungkin Aku akan selalu menjaga kepercayaan Kamu". ucapku setelah Tiwi selesai memblokir dan menghapus semua tentang Tika.


"Iya rel, maafin Aku ya udah salah paham sama Kamu" balas Tiwi dengan menatapku penuh rasa bersalah.


"Aku udah maafin Kamu kok wi, Aku juga minta maaf sebelumnya kalau Aku gak cerita sama Kamu tentang foto itu" ucapku sembari menyentuh kedua pipi basah Tiwi hingga kami pun berdamai dan saling tersenyum satu sama lain.


"Iya rel. Kalau gitu kita pulang yuk" ajak Tiwi karena melihat minuman yang terletak di atas meja sudah habis.


"Yaudah yok wi" balasku kemudian bangkit dari dudukku.


Setelah membayar pesanan yang sudah Kami minum. Aku dan Tiwi langsung pulang menuju kos - kosan.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2