
Malam ini Bima pulang sangat larut. Galuh bahkan sudah tidur sambil memeluk Dewangga.
Hari ini Bima sangat sibuk sekali, bukan hanya mengurusi kerjaan saja. Bima juga turun tangan langsung memantau Vio dengan yang katanya mantan kekasihnya.
"Maaf ya sayang, seharian ini aku melupakanmu." Tutur Bima di tengah keheningan kamar.
"Kata maaf saja tidak berguna. Kalau istri di luaran sana sudah terbiasa dengan pengabaian. Aku tidak!" Galuh membenarkan posisi tidurnya sebelum kembali berkata. "Lebih baik kamu tidur di luar. Aku ingin sendiri."
Oh, tidak!
Baru saja Galuh baikan, dia bahkan baru keluar dari rumah sakit. Tapi Bima tak sekalipun memberi kabar seharian ini untuknya. Ini kesalahan fatal.
Bima terlalu fokus pada masalah perusahaan dan Vio. Dia melupakan Galuh. Matilah, Galuh pasti sangat kecewa kalau dia di abaikan oleh Bima hanya karena Vio.
__ADS_1
"Sayang, aku sudah tau salah. Tolong, maafkan aku. Janji ini yang pertama dan yang terakhir." Bima yang masih mengenakan piyama tadi pagi pun mengatupkan tangannya dan meminta maaf pada Galuh.
Wajah Bima memang memelas, namun rasa lelahnya tak bisa ia sembunyikan. Galuh yang melihat kantung mata Bima yang tampak sangat lelah pun tak tega. Galuh meraih kedua pipi Bima, dia melihat dengan seksama.
"Janji ini yang terakhir?"
"Iya, ini yang pertama dan yang terakhir. Aku janji." Ucap Bima memotong pembicaraan Galuh karena sangat senang.
"Ya sudah, kamu mandi sana."
Di dalam kamar, Galuh memindahkan Dewangga pada boksnya. Setelah itu, dia ke dapur entah mengambil apa. Bima menyelesaikan ritualnya setelah mandi. Dengan sabar menunggu istrinya yang tadi berpamitan ke dapur.
"Happy anniversary, sayang. Aku tau, kamu pasti lupa. Tiup lilin dulu," ujar Galuh membawa kue setrowberi kesukaannya.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku sungguh sangat sibuk. Bahkan hari pernikahan kita yang ke enam pun aku lupa. Maafkan aku, sekali lagi maaf sayang." Ucap Bima memeluk Galuh karena merasa bersalah.
Setiap tahun, Bima padahal sudah berusaha mengingatnya. Tapi, tibalah di mana dia sangat sibuk dan melupakan hari pernikahan mereka.
"Sudah, aku tau kamu juga sibuk. Tapi lain kali jangan ulangi lagi." Hati Galuh sudah kembali melunak.
"Baiklah, tahun ini kita tidak pergi berlibur. Bahkan kado pun aku melupakannya. Sekarang, apa yang kami inginkan? Aku pasti kasih." kata Bima mengiris sedikit kue lalu menyuapkan pada Galuh.
"Jangan repot, untuk tahun ini kamu cukup bayar lunas belanjaanku saja." Galuh menunjukkan total belanjaan yang harus di bayar oleh Bima.
Belanjaan Galuh lumayan banyak juga sih, Bima bahkan sampai melotot melihatnya. Secara di perinci dan di lihat ulang. Galuh hanya membeli tas seharga empat ribu tiga ratus dolar. sedangkan yang lainnya, ada kemeja cowok yang sudah pasti itu miliknya. Dan beberapa pernak-pernik bayi.
"Ok, habis ini aku transferin. Sekarang kamu mau apa selain itu? kamu ngantuk? Biar aku pijitin." Bima masih berusaha mengambil hati istrinya.
__ADS_1
Padahal, dia yang kerja seharian, dia yang kesana kemari mengurusi Vio dengan mantan kekasihnya. Sesampainya di rumah, dia malah menawarkan memijat untuk istrinya. Sungguh di luar dugaan, bukan?