Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kecapean, Pa. Kecapean....


__ADS_3

Jam empat sore, Utari dan Dewangga tertidur setelah percintaan yang melelahkan itu.


Di luar, Bima membunyikan bel berulang kali. Dia melihat motor dan mobil baru Dewangga terparkir di garasi. Tapi, kenapa tidak ada yang membuka pintu?


Sedikit lama, pintu baru di buka. Sosok gadis cantik yang menjadi kesayangan mereka muncul membukakan pintu. Dengan wajah yang terlihat jelas jika dia tengah mengantuk atau bangun tidur.


"Dewangga mana?!" tanya Bima sedikit keras nada bicaranya.


"Masih tidur pa, ada masalah apa?" tanya Utari yang duduk di sofa bersama dengan Galuh.


"Masalah apa? Masalah besar, anak ini malah enak-enakan tidur!"


"Papa!" Utari teriak karena Bima yang sudah emosi pada putranya mau naik ke lantai dua, di mana kamar mereka berada.


"Kenapa, sih? Papa tidak akan marahin dia, tenang aja." bohong Bima, padahal kan dia sudah terlihat sangat marah sekali.


"Bukan itu pa, tapi kak Dewangga masih tidur..... Kecapekan." Utari mencoba menghentikan ayah mertuanya untuk masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Dia tidak ingin, kalau papa dan mama mertuanya melihat keadaan suaminya sekarang. Tidur tengkurap tanpa busana, sungguh memalukan.


"Pa," Galuh menggelengkan kepala, Bima tau maksud dari Utari yang mencoba menghentikannya. Hanya saja masih kurang yakin dengan apa yang tengah mereka lakukan.


Gelengan kepala Galuh seperti memberi isyarat, jika apa yang dia pikirkan, ternyata memang begitulah yang terjadi.


"Ini masih siang, kalian ini... Apa tidak bisa menunggu nanti malam?" Gerutu Bima sambil meninggalkan rumah menantu dan anak tersayangnya.


"Maaf, pa. Utari yang kepengen...." Cicitnya.


"Astaga, iya tidak apa-apa nak. Kamu tidak harus menjelaskan." Galuh buru-buru menenangkan Utari, yang sepertinya sudah mau menangis.


"Bener, Papa tidak marah lagi?" Tanya Utari yang sudah ketakutan.


"Bener nak, oh iya. Tadi katanya, mama beliin es krim." Bima memberi isyarat ke istrinya.


Galuh mengambil es krim di dalam mobil yang dia beli tadi. Dengan senang hati dan kegirangan, Utari langsung menyambutnya.

__ADS_1


"Mama, makasih...."


Utari mengantar kedua orang tuanya hingga mereka hilang di telan pagar gerbang rumahnya.


"Mama sama papa nggak lupa beliin aku es krim kesukaan." Utari kegirangan, sampai dia tidak sadar. Jika Dewangga sudah mengamatinya dari anak tangga.


"Apa kakak harus belikan kamu es krim satu freezer? Sepertinya, kamu ini tidak pernah bosan sama es krim." ucap Dewangga mengagetkan Utari.


"Kakak ni, ngagetin aja!" Hampir tersedak, Utari pun protes.


"Maaf, sayangnya kakak. Tapi, kamu mau nggak kalau kakak belikan satu freezer penuh es krim?"


"Mau, tapi aku takut gendut." Rengek Utari yang ternyata juga memperhatikan badannya.


"Nggak apa, segendut apa sih kamu? Ini saja aku sudah naik dua kilo, selama hidup dengan kakak." sungut Utari yang mulai memprotes hobi Dewangga.


Kegemaran Dewangga memang membuat makanan yang di makan dengan lahap oleh istrinya. Dia bahkan hampir semua hafal menu apa yang membuat Utari bisa nambah nasinya.

__ADS_1


Tapi, yang terpenting bagi Dewangga adalah membuatkan makanan yang ingin di makan oleh Utari. Secinta itu Dewangga pada Utari.


__ADS_2