
*kressekkk...kreseeekkk* suara plastik terdengar.
Aku terbangun dari tidur dan melihat tiwi sedang membereskan plastik bekas makanan kami tadi malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Mataku yang masih menyipit mencoba untuk fokus, apakah yang aku lihat beneran Tiwi atau tidak. Setelah cukup lama aku mencoba membuka mata, akhirnya aku melihat kalau wanita yang sedang bersih - bersih itu adalah Tiwi dengan memakai baju kaos hitam dan celana training berwarna biru.
"eeehhh udah bangun ya? Enak banget tidurnya." ucap Tiwi memperhatikan gerak - gerikku sembari tetap membereskan plastik - plastik yang menumpuk disudut kamar.
"hehe..iya wi, kamu udah beres - beres aja ya. Ibu mana wi?" ucapku melihat sekeliling kamar namun tidak melihat keberadaan ibu.
"ibu lagi keluar nyari sarapan kayaknya rel. Gimana badan kamu? apa masih terasa sakit - sakit seperti kemaren?" Tiwi mendekat kearahku dan mengelus rambutku sambil menatapku dalam.
"alhamdulillah udah agak mendingan sayang" aku yang merasa nyaman sedikit menutup mata saat kepalaku diusap - usap oleh Tiwi.
"syukurlah kalau udah mendingan sayang" balasnya kemudian mencubit hidungku dengan gemas.
"kamu manja juga ternyata kalo lagi sakit ya rel" ucap tiwi kemudian duduk disampingku dengan sebuah kursi kecil.
"heheheh...kapan lagi kan" aku tersenyum kearah Tiwi
"tapi kamu jangan lama - lama ya sakitnya. Kuliah kamu sudah mulai banyak yang ketinggalan" ucap Tiwi kembali berdiri mengambil air minum.
"iya tiwiku, aku sebentar lagi sembuh kok" ucapku bersemangat karena pagi ini aku sudah mendapatkan usapan manja dari Tiwi.
"nih diminum dulu" Tiwi memberikan air minum kepadaku.
Aku berusaha sedikit mengangkat badan agar disaat minum airnya tidak tumpah. Tiwi mencoba mengangkat sedikit pinggangku perlahan dan itu membuat wajah Tiwi dan wajahku berada begitu dekat.
"pelan - pelan rel" ucap Tiwi perlahan mengangkat tubuhku setengah duduk.
"duuhh..iya wi" aku merasakan sedikit sakit dibagian pinggang kemudian meminum air yang disuguhkan Tiwi.
Dengan telaten Tiwi meletakkan gelas dimulutku, aku perlahan meneguk air itu dengan mataku yang sesekali melihat kearah tiwi karena begitu dekat denganku. Disaat aku melihatnya yang terlihat juga menganga disaat memberikanku minum, tiba - tiba Tiwi melihat kearahku dan itu membuat wajahnya merah merona. Sangat terlihat kalau Tiwi salah tingkah karena aku menatapnya begitu lama.
"reell...jangan diliatin gitu dong ahh" ucapnya malu kemudian menarik gelas kosong yang sudah habis aku teguk.
"kamu cantik wi" aku tersenyum kemudian kembali merebahkan tubuhku diatas ranjang pasien itu.
"udah ah rel, masih pagi udah bikin aku gila" ucap tiwi dengan senyum yang tertahan hingga membuat wajahnya semakin memerah.
"kamu kan memang tergila - gila sama aku" aku tertawa melihat Tiwi semakin salah tingkah dengan kelakuanku
"udah deh rel" ucap Tiwi kemudian mengambil plastik - plastik tadi dan membuangnya kedalam tong sampah yang terletak diluar kamar. Kemudian Tiwi kembali masuk bersamaan dengan Ibu. Dengan barang bawaan yang cukup banyak, Ibu meletakkannya diatas meja disudut kamar dengan wajah yang terlihat kelelahan.
"darimana aja bu?" ucapku melihat Ibu yang sudah berkeringat.
"ini habis beli lontong" ucap Ibu membuka plastik berwarna hitam yang berisikan 3 bungkus lontong gulai.
"kebetulan aku udah laper bu" ucapku sambil mengelus - elus perutku yang sejak tadi sudah terasa lapar.
"iya lah tu yang udah laper padahal baru bangun" ucap Tiwi dengan bibir bawahnya yang terlihat lebih maju dibandingkan dengan bibir atasnya.
"apaan sih wi, aku memang lapar lo" ucapku dengan nada manja kemudian aku menatap tajam kearah Tiwi dengan alis hampir menyatu antara alis kiri dan kanan.
"iya iya tuan muda" ucap Tiwi memelas sembari membuka satu bungkus lontong dan menyalinnya kedalam piring.
*Plaakk.
*Plaakk.
"banyak nyamuk ya?" ucap Ibu dengan menepuk - nepuk kedua tangannya seperti orang sedang menangkap nyamuk karena dia merasa sebagai pengahalau nyamuk.
__ADS_1
Melihat ulah Ibu yang terlihat lucu, Aku dan Tiwi tertawa tebahak - bahak sambil menatap satu sama lain hingga air mataku keluar karena terlalu senang.
"Ibu ada - ada aja ya kelakuannya. Maap deh bu" ucapku masih dengan tawa yang tetap saja tidak bisa ku tahan.
"udah kamu makan aja dulu lontong dari tuan putri mu" ucap Ibu kesal melihat kelakuan sepasang kekasih yang masih dilanda asmara ini.
"hahahahaa..."aku kembali tertawa mendengar perkataan Ibu. "iya - iya ibundaku yang sangat aku sayangi" ucapku dengan nada naik turun namun lembut.
"aaaallaaahh... Gaya kamu sayang - sayangan sama ibu, disuruh beli garam ke warung aja susah" ucap Ibu meledek aku yang sangat malas kalau saja Ibu menyuruhku ke warung.
"iya iya deh ibuku yang cantik" ucapku terus merayu Ibu sedangkan Tiwi hanya tersenyum melihat kelakuan Aku dan Ibu.
Setelah cukup lama aku saling bercekcok dengan Ibu yang terlihat cemburu disaat aku bermanja ria dengan Tiwi. Perlahan Tiwi menyuapiku dengan beberapa potongan bakwan yang sudah dirobek - robek Tiwi sebelumnya, karena Tiwi juga tau kalau aku sangat menyukai bakwan.
"Kamu ngerti banget ya kalau aku suka bakwan" ucapku dengan mulut masih berisikan lontong dan juga bakwan yang membuat suaraku terdengar tidak jelas namun Tiwi masih tetap mengerti.
"ngerti dong, siapa dulu?" ucap Tiwi membusungkan da-danya bermaksud menyombong dan membuat da-danya terlihat membentuk karena baju kaos yang dia gunakan cukup ketat sehingga membuat mataku membulat memperhatikannya.
"iya pacarku" ucapku perlahan menelan makanan dan mengalihkan padanganku agar tidak berpikir yang aneh - aneh.
Setelah cukup lama, akhirnya lontong yang aku makan sudah ludes hingga tidak tersisa sedikitpun. Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu.
*Toookkk.... Toookkkk.....Toookkkk"
"assalamualaikum" ucap seseorang diluar pintu.
"waalaikumsalam" ucap kami serentak dengan semua mata tertuju kearah pintu. "siapa itu bu" ucapku kemudian Ibu berjalan kearah pintu dan membukakannya.
"Bu, apakah ini benar kamar Farel" ucap seorang wanita yang tidak asing ditelingaku.
"iya benar, kamu siapa ya?" ucap Ibu heran melihat wanita itu.
"owh gitu, yaudah masuk dulu. Ibu sampai lupa menyuruh masuk" ucap Ibu kemudian membawa Putri kedalam.
"Hay rel, Hay Tiwi" ucap Putri melambaikan tangan kearah kami berdua.
"Hay put" ucapku serentak dengan Tiwi.
"Nando sama Yani kemana put? " heranku memperhatikan ke belakangnya Putri bermaksud mencari Yani dan Nando namun ternyata memang tidak ada.
"Yani pulang kampung rel, kalau Nando ada acara organisasi diluar kota. Tapi mereka udah tau kok dan nitip salam sekaligus sesuatu buat kamu" jelas Putri kemudian mendekat kearahku dan memberikan barang bawaannya yang terlihat seperti buah - buahan dan beberapa snack.
"oowhh gitu, terus kamu sama siapa kesini?" tanyaku kepada Putri.
"sendirian aja rel, aku kesini naik ojek online" jelas Putri masih dalam keadaan berdiri.
"ehh, duduk disini aja put" ucap Tiwi menawarkan kursi yang sedang dia duduki dan memberikannya kepada Putri.
"hehe.. Makasi ya wi" balas Putri dengan senyum tipis yang membuat matanya menyipit.
"sama - sama put" ucap Tiwi kemudian duduk diatas karpet bersamaan dengan Ibu.
"rell... Ga ada yang cemburu entar kan?" ucap Putri sedikit menaikkan nada bicara dan melirik kearah Tiwi yang bertujuan agar Tiwi sadar kalau yang sedang kami bicarakan adalah dirinya.
"heemmm.. Kayaknya ada sih put , kita liat nanti aja kali ya" ucapku melirik Tiwi yang terlihat mulai sadar kalau kami sedang membicarakannya.
"apaan sih, nanti kalau aku ngambek ntar nangis" ledek Tiwi dengan menjulurkan lidahnya.
"hahahaha" Putri tertawa mendengar ucapan yang dilontarkan Tiwi." serius wi?" tanya Putri kaget dengan mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"iya dong, kan dia paling takut kalau aku ngambek" ucap Tiwi sambil melihat layar ponselnya dan sesekali melirik kearahku.
Mendengar ucapan Tiwi yang bertubi - tubi, membuat aku tidak bisa berkata apa - apa. Karena semua yang dikatakannya memang benar adanya. Hingga aku hanya bisa terdiam dan menahan malu didepan Putri yang terlihat bahagia mendengar semua ucapan dari Tiwi tentang diriku.
"Farel... Farell. Dibalik sosok kamu yang sangar , ternyata hati kamu lembut banget ya" ucap Putri geleng - geleng kepala dengan sedikit senyum tipis.
"udah udah put" aku yang merasa begitu malu, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Setelah cukup lama Aku dan Putri berbincang - bincang akhirnya Putri pamit karena nanti siang dia ada jadwal kuliah.
"rel., aku balik dulu ya. Soalnya nanti ada kuliah juga. Kamu cepat sembuh ya" ucap Putri perlahan menuju kearah pintu kamar.
"oke put, aamiinnn.. Makasi ya udah datang" ucapku melihat Putri berjalan kearah pintu.
"sama - sama rel. Wi, kamu jagain Farel ya" ucap Putri kepada Tiwi dan tiwi mengangguk tanpa sepatah kata pun.
Sebelum pulang , Putri mencium tangan ibu terlebih dahulu kemudian perlahan pergi meninggalkan kami bertiga. Namun tidak lama setelah Putri pulang, kemudian Tiwi juga ingin pergi ke kampus karena juga ada kuliah.
"oh iya rel, aku sampai lupa kalau aku ada kuliah siang ini" ucap Tiwi sambil menepuk keningnya karena baru ingat kalau dia ada jadwal kuliah hari ini.
"yaudah , kamu segera ke kampus aja wi. Sekarang udah hampir jam 12 juga." ucapku sembari melihat jam dinding dikamar itu.
"oke deh rel, kamu jangan nakal - nakal ya. Bu, Tiwi pergi kuliah dlu ya" ucap Tiwi tergesa - gesa dan sudah bersiap ingin pergi ke kampus.
"iya nak, hati - hati dijalan ya" ucap Ibu mengkhawatirkah Tiwi.
"iya Wi" ucapku singkat.
"siap bu, Tiwi mau ke kosan dulu ganti baju habis itu baru ke kampus bu. Daaahhh" Tiwi melambaikan tangannya kemudian berjalan cukup cepat karena dia akan berkuliah pada jam 01.30 siang ini sedangkan jarak dari Rumah Sakik menuju kampus memakan waktu sekitar setengah jam.
"daaahhh" Ibu melambaikan tangannya dan menutup pintu kamar.
Setelah Tiwi meninggalkan Aku dan Ibu, perasaanku mulai tidak enak dan gelisah. Aku tidak tau apa yang sedang aku rasakan, yang jelas terasa begitu tidak enak. Keringat dingin yang mulai keluar dari tubuhku, membuat detak jantungku tidak karuan dan spontan pikiranku langsung mengarah kepada Tiwi.
"Ya Allah, kenapa perasaanku jadi gelisah gini" aku membathin.
"nak , kamu kenapa? Kok berkeringat gini?" ucap Ibu khawatir melihat aku yang sudah basah oleh keringat dan gelisah.
"ga tau bu, tiba - tiba aja perasaan aku ga enak" balasku dengan segala kecemasan yang berkecamuk dijiwaku.
"kamu coba tarik nafas dalam - dalam kemudian perlahan lepaskan lewat mulut ya nak" ucap terlihat mencoba menenangkanku.
Aku mencoba perintah yang diberikan ibu dan perlahan keringat yang tadinya sangat banyak, sekarang sudah mulai berkurang. Namun perasaan cemas masih saja menghantuiku.
Beberapa menit dengan perasaan gelisah yang masih saja aku rasakan, tiba - tiba ponselku berdering sampai - sampai membuat aku terkejut.
"siapa bu?" ucapku kepada Ibu sembari mengambil ponsel yang terletak tidak jauh dari jangkauan Ibu.
"ga tau juga rel, dari nomor yang tidak kenal" ucap Ibu heran dan memberikan ponsel itu kepadaku.
Dengan perasaan yang tidak enak, kemudian aku menjawab telepon dari orang yang tidak ketahui siapa sebenarnya yang menelepon.
"Halloo...assalamualaikum." ucapku namun tidak ada jawaban.
Terdengar isak tangis dari arah sana tanpa merespon salamku yang membuat perasaanku semakin tidak tenang. Sehingga membuat diriku bertanya - tanya.
"halloo...siapa ya?" kembali bertanya namun hanya respon dengan suara isak tangis yang aku terima.
Bersambung...
__ADS_1