
Pagi-pagi Galuh bangun lebih dulu, dia melihat suaminya masih tidur. Bima mendengkur halus, mungkin dia kelelahan semalam. Sedangkan Galuh, dia merasa kepalanya sangat sakit sekali.
Kepalanya pusing, dia bahkan merasa kalau lantai yang dia pijak itu berputar-putar. Tapi perutnya terasa mual sekali. Mau nggak mau dia harus ke kamar mandi sekarang juga.
Hoek...
Hoek...
Hoek...
Bima mendengar Galuh muntah-muntah di kamar mandi. Samar-samar awalnya dia mendengar. Tapi Bima meraba sampingnya dan Galuh tidak ada.
"Kamu baik-baik saja? aku bikinin susu hangat, ya?" Bima membantu Galuh yang terduduk di depan closed mengeluarkan isi perutnya.
"Tidak, aku mau kamu saja." Galuh sepertinya kesakitan. Padahal dia tidak minum terlalu banyak semalam.
__ADS_1
"Ya sudah aku gendong kamu ke dapur, sekalian buatin sarapan kamu sama Dewangga."
Galuh rasanya sudah tak kuat lagi berdiri, walau hanya untuk menunggu di gendong Bima.
"Aku enggak tega, kamu tunggu di sini saja sebentar ya. Aku ambil Dewangga dulu, dia nangis." Bima mendengar putranya menangis dari boksnya.
Bima setelah menidurkan Galuh, dia membawa putranya yang sudah bangun ke dapur. Di letakkan di tempat bermainnya, Bima pun leluasa membuat sarapan.
"Den, tadi subuh-subuh sekali. Nyonya besar datang berikan rendang ini. Beliau juga berpesan agar Aden jangan kembali ke kantor dulu." Pembantu Bima memberikan rantangan yang di berikan Rosmia padanya.
Di dalam rantangan terdapat sebuah kartu kredit beserta pin nya. Bima paham sesuatu, tapi yang tidak habis pikir. Kenapa malah mereka yang harus mengalah dari pada langsung bertindak. Bukankah Bima jauh lebih berkuasa dari pada Vio?
"Baiklah, terima kasih."
Bima segera menyelesaikan membuat sarapan dan kembali ke kamar. Galuh pasti sudah bangun sekarang setelah di tinggal Bima sejak setengah jam lalu.
__ADS_1
Nasi goreng dan nasi tim untuk menu sarapan. Bima sudah secepat mungkin membuat dia menu itu. Dewangga yang sudah mulai makan pun sangat lahap sarapan di samping ibunya.
"Galuh, tadi pagi mama ke sini buat ngasih rendang...."
"Aku enggak mau makan, jangan-jangan ada racunnya. Biar kamu bisa cepet ganti istri, kan?" Galuh memiliki ketakutan yang berlebih saat ini kalau sudah sudah berhubungan dengan keluarga Bima.
"Galuh, sayang.... Berapa kali aku harus mengatakan kalau kamu itu tak akan tergantikan."
"Bima ku sayang, cinta ai ai... Mulutmu bisa mengatakan itu. Berjanji sebanyak yang kau mau, tapi kan keluargamu enggak ada hubungannya dengan itu..."
"Hubungan keluarga ya keluarga, beda sama istri. Istri itu belahan jiwa."
"Ngomongin belahan jiwa pagi-pagi, bikin mual aja. Bukan, aku bukan mau membicarakan keluargamu. Tapi, kamu ngomong ini itu padaku, keluargamu emang janji juga ke aku? Terus, kalau benar rendang itu ada racunnya. Yang mati itu aku Bim, aku! Kamu mah enak bisa kawin lagi. Lah aku? berduaan dengan belatung dan cacing menerima siksa kubur."
"Mulutnya! Ya sudah biar aku saja yang makan nanti. Biar sudah aku yang mati,"
__ADS_1
"Kamu mati, siapa yang manjain aku? ini orang kok geblek sih? aduh, sakit kepalaku kalau begini." Galuh seketika mual dan ingin sekali kembali mengeluarkan apa yang baru saja dia makan.
"Astaga, iya aku enggak mati cuma untuk memanjakan kamu." Bima memeluk Galuh dan siapa yang sangka kalau Galuh kembali tertidur dalam sekejap. "Yah, tidur."