Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Perkara nasi goreng


__ADS_3

"Sayang, aku jarang perawatan...."


"Ya sudah, besok aku ajak kamu ke salon." Bima dengan cepat menjawab perkataan Galuh tanpa mendengar hingga selesai.


"CK, kebiasaan. Dengerin dulu kalau ada orang ngomong,ini tinggalin dulu." Galuh yang jengkel, langsung menyingkirkan ponsel yang sejak tadi di pijit oleh suaminya.


"Apa?" kali ini Bima mengalah lagi dan menghadap ke Galuh.


"Bukan ke salonnya yang aku mau. Tapi, aku mau bilang.... Aku kan jarang perawatan, apa aku sudah keriput?" tanya Galuh menunjukkan dahi dan lingkaran sekitar mata yang rawan akan kerutan halus.


"Terus, apa maksudnya begitu? Kan bener aku nawarin ke salon." Masih mempertahankan argumennya, Bima merasa dirinya benar.


"Jadi aku beneran sudah keriput dan tua? huhuhu, kamu tidak cinta aku lagi?" kali ini Bima malah di buat bingung oleh Galuh. Dia yang tanya, tapi dia malah menangis.


"Sudah-sudah, kamu tidak keriput, sayang. Kamu masih cantik, masih membuat aku jatuh cinta dan berdebar setiap detiknya," ujar Bima memeluk dan menenangkan sang istri.


"Bener kamu masih cinta sama aku?"


"Jelas, aku bahkan akan melawan semua badai yang berniat memisahkan kita. Itu karena aku sudah jatuh cinta terlalu dalam padamu." kata-kata Bima begitu puitis, entah dari mana dia belajar.


"Hilih, bohong."


"Nggak percaya? Mau bukti?"

__ADS_1


"Iya dong."


"Ya sudah, kamu mau bukti apa?" pertanyaan Bima membuat Galuh sedikit berpikir. Sebelum ia mengatakan keinginannya.


"Ya sudah, kalau begitu. Bisa cariin aku nasi goreng abang-abang di pinggir jalan. Tapi kamu yang cari sendiri."


Bima sedikit tersentak atas permintaan sang istri. "Galuh, ini sudah malam Lo sayang. Lihat jam berapa sekarang, sudah setengah sepuluh malam ini."


"Hujan badai yang akan memisahkan kita, pasti aku lawan. Ini itu emprit kucing, cuma penghias doang." Galuh menggerutu.


Jelas dia menggerutu, baru di ucapkan tapi Bima sudah beralasan. "Menyebalkan."


Galuh tidur memunggungi suaminya, dia masih sedikit jengkel dengan suaminya. Dia hanya mampu membuat hati Galuh dalam mood jelek saja.


Galuh yang memang sudah sangat mengantuk, dia pun tak sulit untuk memejamkan mata. Tapi Bima? Lelaki berbadan bongsor dengan berat badan tujuh puluh tujuh kilogram dan tinggi seratus delapan puluh lima, tidak bisa tidur.


Siang sampai sore, cuaca panas membara. Namun, kenapa di saat dia keluar dari rumah, malah hujan lebat begini?


Hujan pun tak datang sendirian, dia membawa serta kilat dan petir. Mempersulit dirinya saja dalam mencari dagang nasi goreng abang-abang.


"Hais, memang ya. Ucapan adalah doa, ngapain tadi aku bilang hujan badai akan ku lawan. Kejadian kan sekarang, hujan petir." Kali ini Bima mengomel di dalam mobil.


Pada saat itu pula dia menemukan seorang pedagang gerobak nasi goreng. Penjualnya tengah berteduh di salah satu pos kamling. Dengan dagangan yang juga ikut masuk untuk melindunginya.

__ADS_1


"Nasi gorengnya masih, pak?" tanya Bima menghampiri pedagang nasi goreng tersebut.


"Masih, den. Mau berapa?" tanya pedagang yang terlihat sangat senang sekali ada yang datang membeli nasi gorengnya.


"Hmmm, lima ada?" Bima melihat sepertinya masih begitu banyak nasi yang ada di keranjang nasi milik pedagang itu.


"Masih, ini cukup kok untuk lima porsi terakhir. Wah, bisa pulang cepat saya ini den. Hujan-hujan begini kasihan anak sama istri di kontrakan."


Sepanjang membuat pesanan, pedagang banyak cerita pada Bima. Bima yang memang awalnya menjawab kalau ini permintaan istrinya. Setelah itu pedagang itu mengatakan bahwa Bima sangat beruntung mendapatkan istri yang bisa meminta padanya. Sedangkan dirinya hanya bisa melihat istrinya memandang yang di sukai tanpa berani mengatakannya.


"Sebenarnya istri bapak itu sungguh perhatian dan pengertian pada anda. Ini uangnya pak, saya buru-buru takut makin marah istri saya." Bima mengulurkan uang ratusan yang di gulung.


Bima segera menyalakan mobil dan meninggalkan bapak dagang nasi goreng.


Bima memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada bapak. Itu semua karena Bima merasa itu layak di dapat olehnya lantaran dia bersedia membuatkan nasi goreng untuknya di hujan deras ini.


Di rumah Bima hanya ada 3 orang dengan dirinya dan pembantu. Lalu, yang dua untuk siapa?


Bima memutar arah dan menuju ke arah rumah orang tua Galuh. Di sana, Bima di sambut dengan hangat. "Wah, nak Bima. Kok enggak ngabari dulu? Mana Galuh?" Itulah pertanyaan yang di tanyakan setiap orang tua. Keberadaan putrinya yang sudah menikah.


"Galuh di rumah, pa. Bima cuma nganterin ini, nggak bisa lama-lama. Takut Galuh khawatir." Bima menyerahkan nasi goreng langsung berpamitan.


"Iya nak, nitip Galuh ya. Ini mama sama papa baru mau ke sana besok. Bawa kue ini untuk istrimu, biar dia makin senang." Mia membawa sekotak kue kesukaan Galuh.

__ADS_1


"Bima tidak mau bawa, ma. Besok mama sama papa saja yang ke sana, sekalian bawa ini. Pasti Galuh jauh lebih senang, cucumu juga pasti menantikan kedatangan nenek dan kakakeknya. Ya sudah, Bima pamit dulu."


Bima benar, Galuh memang tidak memaksa kehadiran orang tuanya. Mengingat ibunya masih harus bolak balik rumah sakit. Bima pun memaklumi hal itu.


__ADS_2