
Tiga jam menunggu di depan ruang operasi. Dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang serius. Tidak banyak yang di sampaikan, hanya kata, "Maaf, kami hanya bisa menyelamatkan satu dari keduanya. Ibunya kehilangan banyak darah dan sekali lagi kami mohon maaf....."
Hanya mengatakan itu saja kami sudah bisa mengerti apa yang sudah terjadi di dalam.
"Bima...." Galuh menangis sejadi-jadinya di pelukan sang suami. Takdir berkata lain untuk Raya.
Harapan ingin menghabiskan masa tua bersama suami tercinta, yang sering dia katakan pada Galuh pun harus terhenti di usia dua puluh lima.
"Pak." Bima melihat Fairus seperti manusia tak bernyawa. Dia seperti manusia hidup yang kehilangan hidupnya.
"Saya kuat, saya harus berjuang demi anak-anakku." kata Fairus penuh haru.
"Jangan di paksa, kami bisa membantu. Kami akan segera pindah lagi ke depan rumah bapak."
"Terima kasih Bima. Tapi apa yang saya katakan pada Narendra? Aku tidak becus menjaga istri dan ibu bagi anak-anak ku." Tangisan yang selama ini tidak pernah di perlihatkan pada orang selain Raya pun pecah.
Fairus tidak tau harus bagaimana sekarang. Dia hanya bisa menangis untuk menguatkan dirinya kedepan.
"Menangis lah pak, aku pun akan melakukan hal yang sama jika terjadi pada Galuh. Tenangkan pikiran, kalau boleh, biar Galuh yang merawat bayi kecil kalian. Karena kami.... tidak bisa memiliki anak lagi." ucap Bima haru.
__ADS_1
Fairus menatap kepiluan dua pasutri yang selalu mendambakan putri di dalam hidupnya. Tapi mereka tidak bisa melawan takdir untuk yang kedua kalinya. Galuh memang terlihat arogan, tapi bisa di pastikan dia adalah ibu yang sangat baik untuk Dewangga.
"Tapi dia putriku." Fairus mengingatkan sepasang pasutri ini jika bayi perempuan itu adalah bayi terakhir yang di berikan oleh almarhum istrinya.
"Ya, dia memang putrimu. Tapi, biarkan kamu yang mengurus selama kau bekerja, pak. Kasih kesempatan Galuh merawat bayi di siang atau di saat kamu bekerja saja." Bima tak melewati batas.
"Baiklah, tolong."
Upacara pemakaman sudah selesai begitu cepat. Hari terakhir melihat Raya yang tampak sangat cantik pun berakhir. Tidak ada yang menyangka hari ini akan tiba begitu cepat.
Galuh tidak ikut ke pemakaman, dia menjaga Narendra, Dewangga dan si kecil yang di beri nama Utari Dewi.
Hari-hari terberat Fairus sudah berlalu. Bersama kedua anaknya, Fairus tetap bergantung pada Galuh dan Bima. Peran mereka berdua selama lima belas tahun ini sungguh sangat besar.
Terutama untuk membesarkan Utari dan Narendra. Fairus yang memilih menduda, hal ini kadang menimbulkan banyak masalah. Tapi dia berusaha tidak membuat kedua anaknya terpengaruh.
"Astaga, Dewangga! Utari! kalian ini sudah dewasa, tidak boleh tidur berdua seperti ini! Cepat bangun dan pergi ke sekolah, ini...."
"Mama, kepalaku sakit...." rengek Utari yang langsung menghentikan Omelan Galuh.
__ADS_1
"Astaga, putri kecil mama. Kamu demam?" Perkataan Galuh langsung melunak saat mendengar keluhan Utari.
"Tidak, tapi semalam kak Dewangga memaksaku belajar sampai larut malam. Utari bahkan tidak tau kapan tidur di kasur. Yang Utari tau, aku lelah belajar." dalih yang di ucapkan Utari membuat Dewangga menjadi cengoh.
Bukankah semalam yang belajar hanya Dewangga? Utari bahkan datang hanya mengerjakan PR lalu tidur sendiri di kasurnya. Pasti mamanya ini akan lebih percaya ke Utari dari pada dirinya. Astaga, Dewangga hanya bisa menepuk jidatnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
dari pada dia harus mendapat Omelan lagi dari mamanya. Wanita ini memang benar-benar ular berbisa, bermuka dua.
"CK!"
"Dewangga! Sikap macam apa itu?" bentak Galuh.
"Ya, Dewa minta maaf. Lain kali jangan datang lagi ke kamarku." Teriak Dewangga dari kamar mandi.
"Mama.... kak Dewa nggak mau ngajarin aku lagi..." Utari merengek seolah dialah korban dari pertikaian pagi ini.
"Usstt jangan sedih, kakakmu itu kan nggak sekali bilang begitu. Jadi jangan di ambil pusing, ya sudah sana mandi di kamarmu sendiri. Sebentar lagi papa kamu datang bawakan seragam. Oh iya, kak Rendra sudah ada di bawah buat sarapan. Pasti kamu suka."
Mendengar kakak kandungnya yang membuat sarapan. Utari langsung bergegas kembali ke kamarnya untuk mandi.
__ADS_1
"Horeeee."