
Pagi ini Dewangga dan Utari berangkat sekolah seperti biasanya. Tidak ada yang lain, karena mereka berdua memang tidak memiliki cerita yang bisa di bagikan pagi hari ini.
Hanya sedikit lelah saja yang di rasakan Utari pagi ini. Dia benar-benar tidak di kasih istirahat hingga jam dua malam. Sedangkan Dewangga, dia tampak lebih segar dan berenergi sekali pagi ini.
"Sayang, jangan tebar pesona lagi sana-sini, inget itu!" ancam Dewangga pada Utari yang memiliki pesona menggoda selama ini.
"Iya, tidak bisakah kau berhenti mengomel, kakak? Aku bosen tiap hari mendengar om.... emmmpptt...." Dewangga langsung memblokir mulut Utari yang berisik.
"Berisik!" Dewangga meninggalkan Utari begitu saja setelah apa yang dia lakukan.
"Uh, kakak geblek. Belepotan begini, gimana aku turunnya?!" Utari ngedumel karena kesal.
Tapi Dewangga tidak mau tau akan hal itu. Dia seenaknya saja membuka pintu mobil. Padahal Utari masih membenarkan riasan wajahnya.
"Buruan!"
"Iya, sebentar dulu. Lihat ini belepotan!"
"Ah lama!" Dewangga dengan paksa menyeret Utari keluar.
__ADS_1
"Dasar suami jahat." bisik Utari yang malah membuat Dewangga tersenyum.
Senyum Dewangga benar-benar memabukkan. Bikin candu. Pantas saja Nimas tergila-gila padanya. Selain tampan, tajir dan gagah, Dewangga sangat manis. Astaga.
"Calon imam Nimas!" Teriakan Nimas membuat semua orang beralih pandang.
Jelas, itu membuat Utari tidak suka.
"Udah sana jangan deket-deket aku! Nanti malam tidur di luar!" ancam Utari yang hampir mati karena kesal.
"Astaga, Utari. Jangan dong sayang, aku bisa mati kedinginan di luar. Kan kamu selimut ku..." Rengek Dewangga yang mungkin tidak hanya Utari yang mendengarnya. Karena mereka masih ada di kawasan parkiran sekolah.
Dia melihat beberapa temannya memandanginya. Dia hanya nyengir sambil berkata, "Jangan salah paham, orang ini mulutnya memang tidak bisa di kendalikan."
Bukannya menyangka, Dewangga hanya tersenyum gemas dan melupakan Nimas yang ada di sampingnya.
Nimas, juga kaget awalnya. Tapi apa yang di katakan oleh Utari, sedikit membuatnya lega.
Bagaimana tidak? Ucapan Dewangga itu sungguh sangat vulgar sekali, untuk ukuran kakak. Dan terakhir juga, Nimas dengar jika Utari dan Dewangga tinggal berdua di rumah baru. Itu membuat jantung Nimas tidak karuan berdetak kencang.
__ADS_1
Sesampainya di kelas, Nimas langsung menyodorkan kotak bekal untuk Dewangga.
"Bekal hari ini adalah sushi dan kimchi. Aku....."
"Maaf Nimas, untuk hari ini dan seterusnya.... Aku tidak bisa lagi menerima makanan dari kamu. Aku tidak ingin memberikanmu sebuah pengharapan palsu. Aku sudah bertunangan, Utari seperti itu, dia menjaga aku untuk tetap setia pada istriku nantinya. Jadi, tolong hargai aku." Dewangga dengan lembut memperingatkan Nimas.
Dewangga tidak menyadarinya, karena baginya. Kelembutan Dewangga ini sebagai bukti, jika dirinya masih memiliki harapan. Bisa saja Dewangga menikah karena terpaksa.
Katakanlah sebagai pernikahan bisnis. Jadi, Nimas....
"Dewa, jika hubunganku dengan kamu di tentang. Aku siap untuk menjadi simpanan mu. Asal bersama kamu, aku tetap bahagia. Ya, walau aku harus menjadi simpanan."
"Apa kau gila?! Sepertinya memang tidak ada lagi alasan buat kita tetap berkomunikasi. Aku sangat mencintai tunanganku! Aku bahkan mengatakan hal ini padamu, karena tidak ingin menyakiti hatinya. Nimas! Sudah!" Dewangga langsung meledak mendengar apa yang di katakan Nimas.
Dia tidak menyangka, Nimas yang selama ini dia kenal baik. Berani melakukan hal ini padanya, dan ingin menjadi selingkuhannya.
Nimas yang tidak menyangka pun, kaget karena Dewangga akan meninggikan suaranya. Sehingga, satu kelas, bahkan luar kelas pun mendengar suara Dewangga yang menggelegar itu.
"Yo, ada yang di tolak rupanya. Hahahaha.... muka mana muka, oh ketinggalan di tong sampah. Cari sana muka mu!"
__ADS_1