
Bima memang selalu mengagumi Galuh di setiap ada kesempatan. Seperti saat ini, dia mmandang gadisnya itu meringkuk di sampingnya. Di bawah sinar samar mentari pagi yang berusaha menembus masuk ke dalam kamar mereka.
Bulu mata halus, bulu halus yang tampak sungguh menggoda di setiap wajahnya. Sungguh, pagi hari adalah cara mengagumi yang tepat. Tidak ada yang lebih mengagumkan selain kebahagiaan melihat gadis pujaannya di samping saat pagi hari.
Kenapa?
Jawabannya simpel, karena sudah ku miliki. Benar, Bima lah pemilik Galuh saat ini, dan bisa di pastikan jika tidak akan ia lepaskan lagi. Bima lelaki yang selalu ada di masa-masa Galuh terpuruk karena keegoisan seorang yang pernah ia cintai.
Untuk saat ini, apa dia masih mencintai lelaki itu? Tidak, karena Bima sudah berhasil menghapus ingatan gadis itu pada lelaki bajingaan itu. Tidak sekali pun Bima memberikan alasan Galuh untuk sekedar memikirkan Jovan. Lelaki itu sungguh sangat meresahkan, dan tidak baik untuk Galuh.
“Kamu sudah bangun?” ucap gadisnya yang malah mengeratkan pelukan mencari sisa kehangatan di pagi haru.
“Tidurlah lagi, aku tidak memaksa mu untuk bangun pagi. Tapi aku ada meeting pagi ini.” kata Bima sembari menghujani wanitanya dengan ciuman pagi.
“Bau,” rengek Galuh yang malah membuat Bima tertawa lepas.
“Maaf, ya sudah aku mandi dulu. Ingat, jangan melakukan hal yang tidak perlu.” pesan Bima hanya membuat Galuh tersenyum.
Menikah dengan orang yang tidak kita cintai mungkin akan memberikan sebuah rasa yang sangat mengganjal. Tetapi, ketika kita menikah dengan orang yang sangat mencintai kita. Di tambah dia bisa memperlakukan mu seperti ratu, itu adalah impian setiap wanita.
__ADS_1
Sungguh, tidak satu pun keinginan Bima untuk memberikan masalah untuk Galuh. Bima menerima segala kekurangan Galuh dengan baik. Bahkan lelaki itu tidak pernah berpikir untuk membuat Galuh merasa diri tidak bahagia.
Bima sadar, tidak ada cinta di hati Galuh saat ia menerima pernikahannya. Tetapi saat ini? Jangan di tanya lagi, Galuh bahkan bisa menahan Bima hanya ada di atas ranjang seharian. Berada di sampingnya dua puluh empat jam dan mencurahkan kasih sayang hanya untuknya.
“Galuh, gue lihat lama-lama lo bucin juga ya sama Bima.” kata Raya yang memang tengah main ke rumah Galuh.
“Bucin ke suami sendiri kan gak dosa. Lagian lo makin aneh deh Ray, bilang gue bucin. Lo gak nyadar kalau di tua bangka Fairus itu buat lo kaya orang goblok?” jawab Galuh merasa dirinya juga berhak mengkritik sahabatnya itu.
“Luh, gimana gue gak makin bucin sama di tua bangka itu. Makin hari, bapak tua itu keliatan makin tampan. Sumpah, jadi pengen kunciin di kamar aja deh.” jawab raya sambil membayangkan wajah tampan suami tercintanya,
“Inget itu perut isi anak, bukan balon ku ada lima. Lagian lo gak inget kalau di kampus itu banyak cewek cantik? Nekat banget lo lepas suami tercinta lo? Apalagi itu dosen sexy bibir merah cabenya juga masih dekat sama laki lo yang tua bangka itu.” Galuh berhasil membakar Raya yang bisa di pastikan kalau dia jauh lebih bucin ke suaminya.
“Sayang, kalau sudah selesai langsung pulang ya. Aku gak mau kamu ketemu sama si cabe itu.” kata Raya pada sambungan telfon suaminya.
Bima sudah berangkat sejak pagi setelah membuat sarapan untuk sang istri. Biasanya dia akan pulang untuk makan siang. Tetapi tidak untuk hari ini, katanya sih dia akan makan di luar bersama dengan papa nya dan para klien dari luar negeri. Serinci itu Galuh mengetahui keseharian Bima, bagaimana lagi dia harus curiga?
Melihat cinta suaminya padanya, Galuh tidak mau terlalu mengikat suaminya. Dan suatu saat akan menjadi malapetaka baginya di waktu yang akan datang. Rama masih setia mengelus perut buncitnya dan menikmati potongan buah yang di sajikan oleh pelayan rumah Galuh.
“Laki lo gak pulang? Ini udah jam tiga kalau lo lupa.” tanya Raya tak lupa memberikan percikan api di sela katanya.
__ADS_1
“Lagi sama papa, oh iya Ray. Kok perut lo bisa gede begitu ya? Apa tiap malam di pompa terus sama pak Fairus?” tanya Galuh penasaran.
“Tadinya di pompa terus, tapi sekarang enggak. Ya karena sudah mendekati HPL. Lagian pertanyaan lo yang enggak-enggak aja deh. Pan lu pernah hamil, gue jitak juga lo ya,” gemas Raya pada pertanyaan Galuh.
“Dulu perut gue gak segede itu Ray, wajarin lah gue tanya gitu.”
Percakapan kedua sahabat terus berlanjut sampai suami-suami mereka pulang tepat satu jam mereka asik ngobrol. Bima pulang dengan membawa sebungkus martabak dan segelas boba di tangan. Sedangkan Fairus pulang dengan tumpukan kertas yang membuat raya jengah.
“Pulang itu bawa makanan gitu, Yang. Kaya Bima bawa martabak sama boba, ini malah bawa kertas.” sungut Raya yang melihat suaminya mengeluarkan bertumpuk-tumpuk kertas yang di yakini sebagai kertas ujian teman-temannya.
“Jangan marah, kita makan di luar kamu mau?” bujuk Fairus pada istrinya yang terlihat tidak senang.
“Mau,” tak susah mendapatkan kembali senyum istrinya. Fairus tau betul memanjakan istrinya, terapi Raya itu sungguh bodoh tidak bisa melihat hal itu pada diri suaminya.
Galuh dan Raya sungguh beruntung mendapatkan suami seperti Fairus dan Bima. Mereka sungguh menyayangi istri-istrinya. Jika Galuh selalu di hantui Jovan, kalau Raya di hantui oleh dosen yang menjadi mantan kekasih suaminya.
“Bima sayang, aku mau dong makan kue. Tapi aku gak lagi ulang tahun,” rengek Galuh pada yang duduk di atas tempat tidur menunggu suaminya bersiap setelah mandi.
“Kalau mau makan kue, gak harus ulang tahun. Sayang, baik aku pesan dulu ya. Apa kamu mau ke tokonya langsung?” tanya Bima sambil menyisir rambut hitam legamnya.
__ADS_1
“Mau di suapi sama kamu yang pasti.” Galuh kembali menggoda suaminya.
“Baiklah, cepat bersiap aku mengajak mu ke tokonya langsung.” mendengar itu Galuh langsung bersiap dengan baju yang di samakan warnanya dengan baju Suaminya. Sungguh kekanakkan bukan? Tetapi Bima suka ini. Imut katanya, memang kalau cinta sudah berbicara ya…. apa pun akan terlihat indah saja gitu.