
Di kantor, Dewangga datang jam dua tepat. Atau lebih tepatnya lagi adalah jam balik kantor setelah makan siang. Di meja Dewangga tidak banyak tumpukan berkas. Tapi bisa di pastikan jika berkas itu penting semua.
"Jangan tergesa-gesa dalam bekerja. Kalau kamu hanya bisa mengerjakan satu projek saja. Kerjakan itu dengan fokus dan penuh tanggung jawab. Jangan terlalu di paksakan untuk semua hari ini. Ingat, jam enam harus sudah pulang! Kalau sampai terjadi seperti semalam, Aku tidak akan mempekerjakan kamu lagi di kantor." Bima, dengan tegas menegur Dewangga di hadapan karyawan lainnya.
Bima memang tegas, itulah didikan Fedrik. Keluarga yang hingga lima puluh tahun tidak terkalahkan menjadi keluarga empat gugus besar. Memegang kedudukan puncak hierarki selama setengah abad dari nenek moyangnya.
"Baik, pak!" kata Dewangga tak bisa membantah selayaknya anak buah pada atasannya.
Bima meninggalkan ruangan Dewangga. Suasana tegang sebelumnya, akhirnya mencair juga.
"Huft, bagaimana bisa kau mengenal pak Bima? Eh, benar dia pak Bima kan? Terlihat lebih tampan dari yang di foto itu." Kata Lidya yang duduk di samping Dewangga.
"Aku kan di rekrut langsung dari sekolahan. Benar itu pak Bima. Memangnya, kamu belum pernah ketemu beliau? Kan kamu kerja sudah sangat lama di sini." Kata Dewangga sedikit aneh.
__ADS_1
"Ah, aku baru setahun setengah di sini. Aku karyawan kecil, mana mungkin bisa bertemu dengan orang atas. Tingkatannya itu masih ada tiga sampai empat atasan lagi di atasku. Jadi ya... wajar kalau tidak pernah bertemu." Lidya seperti orang yang kepanikan karena pertanyaan mendadak.
Dewangga tidak mempedulikan itu dan fokus bekerja. Utari di rumah Galuh, dia bersantai selayaknya tengah berada di villa untuk berlibur.
Bagaimana tidak? Galuh menyiapkan semua yang Utari sukai. Mulai dari Snack, jajanan dan minuman enak yang selalu di buatkan Bima untuknya.
Jam tiga sore, seperti biasanya. Bima pulang dengan membawa beragam kue untuk Galuh. Di tambah dengan es krim karena mendengar Galuh ada di rumah mereka.
"Papa...." Utari berlari seperti anak kecil yang mendapati ayahnya baru pulang kerja. Ya, seperti kebiasaan sebelum menikah Utari kembali lagi.
"Jangan lari-larian seperti anak kecil. Nanti kalau ada dedeknya di perut kamu gimana?" Bima tidak memungkiri, dia terlalu takut dengan kejadian sebulan yang lalu.
Bima sudah memikirkan semuanya, dari resiko teringan hingga terberatnya. Bima berharap Dewangga lah yang menanam bibit itu. Jika Utari di ketahui hamil.
__ADS_1
"Papa ini ada-ada saja. Baru beberapa hari yang lalu Utari datang bulan. Sekarang, siniin es krim Utari. Rasanya kangen sekali sama papa." Utari memanyunkan bibirnya karena tidak suka dengan apa yang di katakan oleh Bima.
"Benarkah? Wah, papa mau bikin syukuran kalau begitu. Biar kamu dan Dewangga selalu berada di lindungan Tuhan." ucap Bima bahagia.
Dia sudah bisa bernapas lega sekarang bersama Galuh. Setidaknya, jika Utari hamil, itu bisa di pastikan adalah anak dari Dewangga. Keturunan asli dari keluarga Fedrik.
"Bener pa, ma?" Utari yang menyukai makanan dari orang syukuran pun terlihat sangat bahagia dan kegirangan.
"Bener, anak mama sayang. Malam Jumat besok deh, biar lebih berkah." Ucap Galuh yang juga merasa lega.
"Hore... Tapi pa, jangan di marahi kak Dewangga nya. Kak Dewa kalau sudah kerja memang lupa waktu. Itu kan juga untuk Utari beli jajan juga, jangan di marahi lagi ya pa...." Utari berkata menahan air matanya untuk Dewangga.
"Aduh anak papa, iya... Papa janji, selama kak Dewa tidak buat papa dan mama marah karena bikin kamu menangis." Bima memeluk Utari selayaknya, dialah anak kandungnya dan Dewangga anak angkatnya.
__ADS_1