Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kerja pagi


__ADS_3

Dewangga menjalani hari skorsing mulai hari ini selama tiga Minggu ke depan. Utari, dia benar-benar memilih motor Scoopy sebagai alat transportasi untuk Dewangga. Kali ini, dengan bangganya, Utari duduk di jok belakang motor baru milik Dewangga.


Bayangkan, badan Dewangga yang bisa di katakan tinggi dan besar. Menaiki motor yang cocoknya untuk Utari. Cewek lemah lembut, bukan Dewangga yang menyukai kecepatan tinggi.


"Baiklah, suamiku yang ganteng. Kerja yang rajin, nanti jam satu siang aku menunggu jemputan mu. Jangan telat!" Utari mengultimatum suami gantengnya.


"Iya, istri bawel ku. Ingat, kalau kamu di bully, langsung lawan kalau tidak mau mengadu padaku." Dewangga tak segan lagi menunjukkan kemesraannya di hadapan yang lain.


Pada Nimas tak terkecuali.


"Siap komandan." Dewangga gemas sekali pada tingkah lucu Utari. Dia mencubit hidung Utari sebelum mencium kening dan kedua pipinya.

__ADS_1


Nimas, gadis yang selama ini tergila-gila pada Dewangga. Dia hanya bisa menangis dalam diam. Hatinya masih tidak mau menerima kenyataan hubungan keduanya.


Nama, ya. Nama belakang mereka berbeda. Bagaimana bisa dia mengabaikan hal itu? Padahal, Nimas sadar jika kedua orang itu adalah orang yang memiliki keluarga kuat dan tangguh. Tidak mungkin mereka berdua tidak memakai nama marga yang sama di akhir namanya.


"Dewa, apa kurangnya aku di mata kamu? Kenapa pilihan kamu jatuh pada wanita kotor itu?!" Isak tangis Nimas di dalam mobil.


Mulai hari ini, Nimas memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri. Sosok cewek manja yang selalu menggunakan kekuasaan orang tuanya untuk mendapatkan sesuatu. Tidak terkecuali akan niatnya memisahkan Utari dengan Dewangga.


"Eh, kamu udah mulai kerja full?" Tanya Lidya yang kaget melihat sosok Dewangga sudah bekerja di meja kerjanya.


"Tidak, tetep part time. Tapi jam-nya di balik aja. Oh iya kak Lidya, ini sepertinya masih ada yang keliru deh kerjaan kamu. Coba ini benarkan biar lebih jelas dan untuk nominalnya sepertinya tidak sebesar ini deh...." Dewangga ternyata mengecek kerjaan di divisinya saat ini.

__ADS_1


Pekerjaan yang menumpuk ini adalah pekerjaan yang lainnya yang harus di revisi. Dewangga ini terlihat lebih garang saja kalau pagi. Apa iya dia di sekolahan akan menarik perhatian juga? Pasti di sekolah, dia menjadi the most handsome. Mengingat dia sangat tampan dan juga gagah sekali.


Padahal, perhari ini Dewangga menjalani masa skorsing nya karena menghajar teman sekolahnya. Apa yang perlu di banggakan akan hal ini?


Dewangga bekerja sangat serius, dia hanya ingin mengusir rasa rindunya dapa Utari dengan pekerjaan. Dia berharap bisa mempercepat waktu dengan bekerja.


Benar saja, Dewangga sudah bekerja sekitar lima jam dia bekerja. Jam makan siang sudah tiba. Lidya mengeluarkan makanan yang dia masak sendiri sebelum berangkat. Dia berniat mengajak makan Dewangga bersamanya. Tapi yang ada, Lidya malah mendapat penolakan secara kejam dari berondong tampan dan kaya raya itu.


"Dewangga, aku masak lebih. Makan sama aku, yuk." kata Lidya mengeluarkan kotak bekalnya.


"Tidak, aku hanya terbiasa makan bersama Utari. Kakak cepat saja makan, besok aku mau kerjaannya sudah ada di mejaku."

__ADS_1


__ADS_2