Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Ninja Tanpa Pedang


__ADS_3

*Tinooong* suara pesan masuk pada ponselku.


"Rel" pesan dari Putri yang tiba - tiba masuk di sela lamunanku memikirkan Tiwi.


"Ada apa nih anak, tumben - tumbenan ngechat?" Aku berkata dalam hati sembari membuka pesan yang dikirim Putri.


"Ada apa put, tumben - tumbenan?" Aku mengetik pesan dengan begitu cepat.


"Ini rel, Aku gak tau Kamu bakalan percaya apa enggak sama Aku" pesan yang begitu membuat Aku penasaran membuatku menjadi bertanya - tanya maksud dari pesan Putri.


"Maksud Kamu apa put?" dengan penuh tanda tanya, Aku semakin penasaran apa yang ingin di sampaikan Putri mengingat Kami juga sangat jarang berkomunikasi.


"Tapi Kamu jangan gegabah dulu ya" kembali pesan yang dikirim Putri membuatku semakin bingung.


"Iya iya, memangnya apa sih put!! Buruan" Aku yang penasaran atas pesan Putri, sedikit memaksanya untuk menceritakan lebih cepat tanpa bertele - tele.


"Jadi gini, kemarin waktu Aku lewat di depan kosannya Tiwi. Aku ngeliat ada cowok yang sepertinya bukan dari Fakultas Kita nganterin makanan" ketik Putri panjang via Whatsapp itu, tentu setelah membacanya membuat tubuhku bergetar tidak percaya.


"Wanita yang selama ini Aku percaya ternyata bermain dengan lelaki lain di belakangku" Aku membathin termenung tersandar di dinding.


"Kamu jangan bikin lelucon ah put" Aku membalas pesan Putri sedikit terlambat karena sedang menelaah apakah yang di sampaikan Putri memang benar adanya.


"Seriuss rel!!!" balasan pesan dari Putri yang terlihat begitu meyakinkan membuatku sedikit mulai percaya.


"Oke deh kalau gitu, makasi infonya ya put" ketikku dan mengirim pesan kepada Putri dengan perasaan yang mulai campur aduk.


"Sama - sama rel" pesan terakhir Putri di hari itu.


Mengetahui hal tersebut, tentunya membuatku tidak ingin langsung percaya begitu saja. Walaupun pada dasarnya Putri merupakan sahabatku yang sudah sangat Aku kenal lebih kurang 4 tahun lamanya. Namun Aku harus mencari bukti terlebih dahulu apakah yang di sampaikan Putri benar atau tidak.


🔸🔸🔸🔸🔸


Malam ini Aku berniat menguji Tiwi dengan berpura - pura ingin tidur cepat karena tubuhku begitu lelah. Di saat setelah Aku menyampaikannya, Aku akan pergi menuju ke kosannya Tiwi dan memantaunya dari kejauhan.


"Wi, Aku tidur duluan gak apa apa ya?" sebuah pesan Aku kirim sekitar pukul 19.45.


..."Kok cepat amat rel?" balas Tiwi tak sampai 1 menit....


"Badanku kecapekan Wi, tubuhku juga sedikit pegal" Aku membalas pesan tersebut dengan perasaan yang tidak dapat Aku ungkapkan bagaimana rasanya.


..."Oh yaudah, Kamu istirahat aja dulu. Cepat sembuh ya. Sampai ketemu besok. Love you" balas Tiwi....


"Iya wi. Love you too" balasku.


***


Sekitar 15 menit Aku bersiap - siap untuk menuju ke kosannya Tiwi. Siapa tau pria yang dikatakan Putri itu benar.


Akhirnya Aku sudah sampai di seberang kosannya Tiwi dan sedikit lebih maju namun masih dapat terlihat dari kejauhan. Jika Aku berhenti tepat di seberang kosannya Tiwi, nanti takutnya Tiwi langsung melihatku sekiranya Dia ingin keluar dari kamar kos.


Sekitar 10 menit Aku terus menunggu sambil bermain ponsel namun masih tidak ada yang datang. Pikiranku terus tertuju pada pesan yang dikirim Putri tadi siang.


"Putri bercanda gak sih?' ucapku dalam hati mulai ragu apa yang di sampaikan Putri."Tapi kalau bercanda gak mungkin juga seperti itu" Aku terus membathin sesekali menoleh ke arah kosannya Tiwi dan tetap saja kosong.


Karena Aku menggunakan sweater kupluk berwarna hitam, tentu saja orang tidak akan mudah mengenaliku, di tambah lagi Aku menggunakan masker berwarna hitam. Lebih kurangnya Aku terlihat seperti seorang ninja yang kehilangan pedang.


Seteleh lebih kurang 1 jam Aku menunggu hingga mataku sudah mulai mengantuk, tiba - tiba Aku melihat seorang laki - laki dengan motor sport berwarna biru berhenti di depan kos - kosannya Tiwi.


"Siapa nih cowok?" gumamku memperhatikannya dengan sedikit menyipitkan mataku.


Sekitar 5 menit Aku memperhatikan pria tinggi dengan motor sport berwarna biru itu, akhirnya Aku melihat sosok wanita dengan baju kaos berwarna hitam dan celana training biru yang tidak asing di mataku. Benar!!! wanita itu adalah Tiwi, kekasihku.


Seketika hatiku kembali hancur, sehancur - hancurnya seperti pertama kali Tiwi mengucapkan kata putus sekitar 2 tahun yang lalu. Namun Aku mencoba untuk tegar dan mencoba memutar motorku ke arah seberang mendekati Tiwi dan seorang pria yang Aku sendiri tidak tau itu siapa.


Di saat motorku tepat berada motor mewah pria itu, Aku segera turun dan bertanya kepada Tiwi.


"Ini siapa?" tanyaku tegas pada Tiwi namun dengan nada yang tidak terlalu tinggi sembari menunjuk pria yang masih duduk di atas motor mahalnya.

__ADS_1


"Farel? Kok kamu di sini?" ucap Tiwi yang terlihat begitu gugup dan terkejut setelah tau Aku ada di sana.


"Anda siapa?" ucap pria menggunakan helm full face kemudian membukanya dan turun dari motor.


"Tanya saja sama Tiwi" ucapku untuk memastikan jika Aku satu - satunya orang yang spesial di hati Tiwi.


"Dia siapa wi?" tanya pria itu yang terlihat memang jauh lebih tampan dan kaya dariku.


"Diii...diii.. Dia pacarku Josh"jelas Tiwi gugup menatap wajahku yang sudah berkeringat dengan mata yang Aku pikir sudah sangat merah menahan emosi.


"Owh ternyata orang ini yang membuat Kamu gak mau lagi sama Aku" jelasnya dengan membusungkan dada dan menaikan dagu ke atas.


"Maksud Kamu apa?" ucapku dengan mata membulat ke arah pria yang terlihat begitu sombong.


"Udah rel" Tiwi menghentikanku dengan menggenggam pergelangan tanganku.


"Dia siapa wi? Sejak kapan?" tanyaku mulai sulit mengontrol emosi.


"Dia mantanku rel, taaaa...." ucap Tiwi.


"Tapi apa? Masih belum cukup apa yang ada di diri Aku? Masih kurang semua yang udah Aku berikan sama Kamu? Kamu mau apalagi?" ucapku berteriak tidak menghiraukan orang di sekitar yang sedang memperhatikanku.


"Cukup rel....cukuuuppp" perlahan Tiwi menangis tertunduk karena melihat Aku yang begitu emosi. Untuk pertama kalinya Aku memarahi Tiwi hingga menjatuhkan air matanya.


"Apa yang cukup? Hubungan Kita? Iya? Itu mau Kamu?" pertanyaan demi pertanyaan Aku lontarkan karena masih tidak percaya Tiwi melakukan hal yang begitu fatal di hadapanku.


"Udah wi, putusin aja" timpal pria sombong itu santai.


Seketika karena emosiku yang sudah sangat bergejolak hingga mencapai ubun - ubun. Tanpa pikir panjang genggaman tanganku melayang tepat di pipi kanan pria itu hingga membuatnya terpental ke tepi jalan.


*Gubraaaakkkk*


"Awwwwwww" desis pria itu dengan menahan sakit meraba pipinya yang sudah berdarah.


"Fareeeeelllll" Tiwi berteriak hebat melihatku yang sangat emosi di hadapannya dan menangis sejadi - jadinya.


"Cukup bang, cukupp" ucap salah seorang pria pengguna jalan melerai Aku yang sudah sangat marah.


"Mentang - mentang banyak uang, seenaknya saja mulut sampahmu berkata - kata" ucapku menunjuk ke arah Josh yang mencoba berdiri dengan mulut penuh darah.


Josh hanya terdiam tidak mampu menjawab kata - kataku karena mulutnya terlihat begitu sakit. Kemudian Josh pergi menaiki motornya dan meninggalkan Kami tanpa sepatah kata pun.


"Ada apa bang?" tanya pria yang mencoba meleraiku itu.


"Gak apa - apa bang. Maaf ya bikin keributan" ucapku kemudian pria yang tidak Aku kenal itu membawaku ke tepi teras kosannya Tiwi.


"Iya bang, lain kali kalau mau berantem jangan di sini bang" ucap pria itu meninggalkan Aku dan Tiwi.


"Iya bang" balasku singkat kemudian menoleh ke atas dan melihat Tiwi yang sudah berdiri tepat di hadapanku.


Menatap Tiwi yang sudah bercucuran air mata membuatku merasa iba walaupun hatiku terasa begitu sakit melihat yang baru saja terjadi. Semua di luar ekspektasiku, orang yang begitu Aku percaya seketika menghancurkan kepercayaan itu dalam satu waktu.


"Reelll" Tiwi memanggilku sesegukan.


"Apa lagi?" jawabku berpaling muka.


"Aku minta maaf rel" Tiwi berlutut di hadapanku yang sedang duduk. Membuat wajah kami saling berhadap - hadapan namun Aku menoleh.


"Maaf buat apa?" balasku jutek.


"Maaf udah bikin Kamu kecewa, ini semua bukan mau Aku" jelas Tiwi terus meneteskan air matanya.


"Haa!!! Bukan mau Kamu?" ucapku tidak percaya.


"Iya rel, Dia yang memaksa Aku untuk bertemu. Tapi Aku akui kalau tindakan ini memang salahku. Tolong pliss maafin Aku" ucap Tiwi memohon kemudian meraih tanganku dan Aku menepisnya.


"Beri Aku waktu sampai besok" ucapku mencoba berdiri dari dudukku.

__ADS_1


"Enggak rel... Enggak... Aku maunya sekarang" ucap Tiwi menarik tanganku hingga membuatku kembali terhempas duduk di posisi semula. Tiwi semakin terisak - isak yang membuatku menjadi tidak tega.


"Kamu tau gak kalau yang Kamu lakuin ini udah fatal wi?" ucapku mencoba menenangkan diri walaupun dadaku terasa begitu sesak.


"Iya rel, Aku tau kalau ini sangat fatal. Tapi di hati Aku hanya ada Kamu rel. Jangan tinggalin Aku" Tiwi dengan penuh perjuangan memohon dengan cucuran air mata.


"Hhuuuuuuhhh..." Aku menarik nafas panjang.


"Rellll" Tiwi memanggilku tersedu - sedu.


"Aku gak tau harus gimana wi, di satu sisi Aku sayang sama Kamu, di sisi lain Perbuatan Kamu membuat kepercayaan Aku sulit untuk di kembalikan. Apa Kamu mau menjalani hubungan dengan rasa kepercayaanku sama Kamu yang sudah hilang?" jelasku dengan lantang.


"Daripada Aku harus kehilangan Kamu, Aku lebih memilih kehilangan kepercayaan Kamu rel." ucap Tiwi dengan wajah yang sudah sangat merah dan basah.


"Aku masih belum percaya atas apa yang baru saja terjadi wi" ucapku menggeleng menyesali diri. Mungkin saja semua yang sudah Aku berikan masih belum cukup membuat Tiwi puas.


"Reelll...plissss" kembali Tiwi menangis memohon dan menggenggam erat pergelangan tanganku.


"Gini aja wi, Aku maafin Kamu. Tapi Aku gak mau ketemu Kamu dalam waktu 1 minggu ini" ucapku dengan memberikan syarat


"Aku gak kuat rel. Memangnya Kamu mau kemana?" ucap Tiwi menggeleng - geleng dan terus menangis.


"Gak kemana - mana, Aku mau memperbaiki hatiku yang udah hancur dulu" jelasku perlahan meneteskan air mata.


"Fareeelll" teriak Tiwi kencang saat tau kalau Aku mulai menjatuhkan air mata.


Tidak ada respon dariku beberapa saat. Aku hanya sedang menikmati air mata kehancuran yang baru saja Aku rasakan. Tanpa adanya isak tangis yang keluar dari mulutku, namun air mata begitu lancar mengalir membentuk aliran sungai yang bermuara di daguku. Sesaat Aku tertunduk dengan sisa - sisa kehancuran yang begitu sakit tak mampu di ungkapkan dengan kata - kata. Hingga Aku mencoba kembali berpikir jernih mengingat apa saja yang sudah pernah Aku lewati bersama Tiwi selama ini. Sejenak Aku mengingat sebuah kata:


"Lebih baik memperbaiki daripada mengganti, karena sejatinya pengganti bukan solusi untuk mendapatkan hal yang sama seperti sebelumnya"


Cukup lama Aku terdiam menenangkan pikiranku dan terus mengingat semua kenangan indah yang pernah Aku lalui bersama Tiwi. Tentu saja hal itu membuatku menjadi sangat berat untuk segera kehilangan semua itu, masih banyak moment indah yang ingin Aku ciptakan bersamanya. Jika saja semua berakhir di malam ini, maka semua angan - angan bersama Tiwi yang pernah Aku rangkai dengan teramat indah akan sekedar menjadi angan - anganku belaka.


Perlahan Aku mencoba kembali mengangkat kepalaku yang tertunduk cukup lama. Aku melihat air mata Tiwi sudah berhenti namun nafasnya terlihat begitu berat.


"Wi" Aku memanggil Tiwi dengan segala pertimbangan.


"Iya rel" balas Tiwi dengan tatapan penuh pengharapan.


"Ayo kita perbaiki lagi semuanya" ucapku kemudian tersenyum dan mengusap pipi Tiwi.


Tiwi menggangguk tersenyum dengan mata yang berbinar - binar memegang tanganku yang sudah mendarat dengan ramah tepat di pipi kirinya. Mata Tiwi terpejam sesaat menikmati sentuhan dari tanganku yang begitu lembut.


"Aku sayang Kamu rel" ucap Tiwi menatapku dalam.


"Aku juga sayang Kamu wi" balasku menatap Tiwi dengan tulus.


*


*


Malam ini begitu dramatis, semuanya terasa seperti di sebuah sinetron. Namun berakhir dengan ending yang bahagia. Setelah cukup lama perdebatan antara Aku dan Tiwi berlangsung dan malam sudah semakin larut. Lebih baik Aku pergi dari sana agar tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi.


"Kalau gitu Aku balik dulu ya wi" melihat jam sudah menunjukkan pukul 9.50 malam.


"Iya rel, Kamu hati - hati ya" ucap Tiwi melambaikan tangannya tersenyum ke arahku.


"Iya wi" Aku membalas lambaian tangannya kemudian pergi meninggalkan kosan Tiwi sambil menatap tetesan darah Josh yang berceceran di atas aspal.


Aku mengendarai motor sembari mencoba memperbaiki perasaan yang sudah begitu hancur, namun perlahan pulih dengan mengingat semua kenangan indah yang sama - sama pernah Aku lalui bersama Tiwi.


*


*


*


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2