Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Imron meronta-ronta


__ADS_3

Keseruan makan malam, berakhir ketika semua merasa mengantuk. Rosmia dan Mimi menginap di rumah Bima, selama Yasa berada di luar kota.


Pemandangan Galuh menyusui putranya, seharusnya sudah biasa di lihat oleh Bima. Tapi percayalah, pemandangan itu jelas membuatnya tersiksa.


Sebulan tidak merasakan yang namanya sentuhan istri. Bima kadang merasa sakit kepala. Di tambah dengan pemandangan yang setiap hari ia lihat ini.


Oh Tuhan, apa ini yang menjadi ujian seorang suami di saat istrinya melahirkan? Dada Galuh terlihat lebih menonjol, lebih sempurna. Tapi sayang, Bima tidak sekali pun di bolehkan untuk menyentuh.


"Galuh, kamu sudah mengantuk? Ayo tidur." Bima membawa putranya yang sudah tertidur ke tempatnya. Boks yang sudah berganti warna biru dan menempel pada dinding dengan hiasan yang terlihat lebih mewah dari sebelumnya.


"Tunggu, temenin aku mandi yuk. Aku males mandi, tapi aku bau asi. Pasti nggak nyaman tidur begini." Galuh memang terlihat sangat malas dengan mata yang sudah enggan terbuka lagi.


Tapi, bagaimana Galuh mengabaikan Bima yang sudah sekuat tenaga menahan Imron untuk tidak menyerangnya.

__ADS_1


Dengan berat hati, Bima yang susah payah menahan diri pun tetap ikut masuk ke dalam kamar mandi. Dia pula yang menyiapkan air hangat untuk istrinya mandi. Bima tau, kalau Galuh sendiri yang menyiapkan air hangat, pasti bisa membuatnya melepuh.


"Bima, kok enggak di lepas juga bajunya?" Galuh tampak sudah siap untuk mandi. Dia yang sudah mengenakan handuk, melihat suaminya pun seperti jengkel sendiri.


"Aku sudah mandi, kenapa aku harus membuka bajuku?" Bima memang sepolos itu, meski dirinya dalam kesusahan, dia tetap tak tau arah pikiran sang istri.


Galuh membuang kejengkelannya. Dengan sabar dia membuka baju yang di kenakan suaminya satu persatu.


Tubuh gempal dan padat Bima terlihat sangat menawan di mata Galuh. Sampai-sampai dia tak tahan lagi untuk tidak menyentuh dan memeluk suaminya.


Galuh melempar handuknya ke sembarang arah, dia tidak peduli kalaupun handuk itu basah. Bima ikut masuk dalam bak mandi luas itu dengan tetap memeluk Galuh.


"Galuh, Imron sudah meronta-ronta di bawah sana." bisik Bima sangat tersiksa.

__ADS_1


"Tau, dan aku mau. Aku rindu kamu, sayang. Aku rindu ciuman mu, rindu pelukanmu, aku juga rindu adik kecil ini." Galuh membelai Bima sebisa ia.


"Tapi kamu masih masa nifas, sayang...."


"Kalau di sini tidak bisa, yang atas bisa kok. Aku nggak mau aja kalau kepuasan kamu tidak lagi ada padaku." perkataan frontal Galuh seakan menjadi pemantik untuk api asmara yang memang sudah menyala dalam diri Bima.


Bima tak banyak kata, dia yang tadinya memenuhi bak mandi besarnya. Dia pula yang menguras isi kolam kecil yang ada di dalam kamar mandinya.


Bima memberi jalan dan juga membiarkan Galuh melakukan apa pun padanya. Dia belingsatan tak mampu menahan ledakan yang sebentar lagi akan meledak.


"Galuh....."


Bima berusaha membuat Galuh sedikit menjauh darinya. Namun Galuh malah membuat ledakan itu di dalam mulutnya. Sial, Bima semakin jatuh cinta pada Galuh. Bukan karena dia selalu memuaskan dirinya. Tapi Galuh-lah yang seakan mengerti dirinya.

__ADS_1


"Kamu banyak makan sayur? Rasanya segar." Kali ini, Bima benar-benar tak mampu menyembunyikan wajah merahnya.


__ADS_2