
"Rin, aku nggak tau ya. Ada masalah apa kamu sama Bu Galuh. Hanya saja, aku merasa kamu sejak tadi pagi, keluhanmu hanya untuk beliau." senior itu pun tak tahan lagi untuk tidak berkomentar.
"Yayuk, kamu kerjakan kerajaanmu dan segeralah pulang. Sekarang sudah mau jam dua, katanya kamu izin pulang cepat." Senior mengingatkan anak magang yang satunya.
Di ruangan Bima, Galuh tampak diam seribu bahasa. Tidak biasanya Galuh seperti ini, apa ini juga buntut dari dia menangis tadi?
Bima tak berani bertanya, karena dia tidak akan pernah mau cerita. Terlebih lagi itu menyangkut karyawan kantornya.
"Kita, makan di cafe mu aja gimana? Aku kangen makanan di sana." Ucap Bima membuka pembicaraan.
Setelah sekian purnama, akhirnya senyum Galuh mengembang juga. Bima tampak lega karena istri cantiknya kembali menunjukkan dua gigi kelincinya.
"Aku boleh makan kentang goreng? Aku kepingin sekali, tapi jangan kasih tau mama." Kata Galuh gembira.
"Memangnya kenapa?" Bima bingung.
__ADS_1
"Aku menyusui, pasti mama bakalan melarang ku. Aku tau mama benar, tapi aku kepingin." menunjukkan ekspresi lesu, Galuh tampak lebih lucu dari sebelumnya.
"Ya sudah, aku tidak akan mengatakan apa-apa pada mama. Tapi janji, hanya sekali ini. Tidak ada lain kali lagi." Bima dengan tegas mengultimatum istrinya.
"Janji."
Padahal, walau sudah berjanji sedemikian rupa. Jika Galuh sudah bilang 'pingin' pasti Bima akan memberikan untuknya. Sesayang dan secinta itu memang Bima pada Galuh.
Mungkin, jika ada batu karang di depannya, Bima akan memecahkan dengan tangan kosong hanya untuk Galuh.
"Kenapa, ma?" tanya Yasa melihat istrinya kembali tanpa menantu dan putranya.
"Galuh minta makan di luar bersama Bima. Sepertinya Galuh kepingin makan makanan cepat saji. Tapi dia takut padaku, jadi biarkan saja Galuh senang dulu." Kata Rosmia tanpa merasa kecewa, sebaliknya. Rosmia terkesan menggemaskan dengan tingkahnya.
Tak lama Yasa melihat Galuh dan Bima keluar dari ruangan. Bersama dengan seorang anak kecil yang mulai banyak gerak di dalam kereta dorong.
__ADS_1
Dewangga memang sudah mulai miring-miring, walau usianya baru dua bulan sekian hari. Yasa dan Rosmia melihat keduanya hanya bisa bangga dalam hati.
Setidaknya, anak bungsu dari empat bersaudara ini sudah bisa memuliakan istrinya. Wanita yang menerimanya dari dirinya tidak memiliki apa-apa. Wanita yang menikahinya dalam keadaannya terbuang.
"Hati-hati," Bima membantu Galuh berjalan yang mendorong putranya.
Percayalah, pemandangan itu sungguh damai bagi Rosmia dan Yasa. Namun, tidak dengan Ririn yang melihat kemanjaan Galuh dengan rasa jijik.
Dia merasa Galuh sangat mengganggu Bima sekali. Sosok tinggi, gempal dan tampan itu terasa ternodai dengan adanya wanita tanggung yang selalu ngintilin.
Galuh seharusnya menjadi ibu rumah tangga yang baik. Menunggu suami dan menjaga putranya di rumah. Bukan malah ikut kerja dan membuat sekitar risih, terutama bos-nya yang ia lihat tidak nyaman sekali.
"Memang dasar ******. Astaga, kok pak Bima bisa tahan dengan adanya wanita gatal seperti dia." kritik Ririn sendiri saat dia mengambil makanan yang ia pesan melalui gofood.
Ririn melihat punggung lebar Bima dengan ekspresi kagum. Di usia yang belum genap dua puluh lima tahun. Lelaki tampan, berkharisma dan yang jelas sangat berani juga tegas, bisa menjadi bosnya. Kemampuan yang di miliki Bima, pasti di atas pemuda seumurannya.
__ADS_1