
Lima bulan, sudah lima bulan dari kepulangan Candra dari luar negeri. Tapi, acara pernikahannya baru di gelar hari ini. Candra selalu di sibukkan dengan pekerjaan keluarga.
Pada saat pertunangan pun dia hanya datang pada pemasangan cincin. Vio memang gadis yang cantik, jadi Candra tidak merasa rugi juga. Ya, walaupun dia masih belum cinta pada gadis yang akan ia nikahi ini.
"Kak Bima, kok aku deg deg an ya? Dulu kakak begini juga?" tanya Candra yang entah kenapa dia merasa takut tanpa sebab.
"Sama, kamu harus siap dan hafal. Jangan terlalu tengang, takutnya salah sebut nama. Nggak lucu, Can." Bima sengaja menemani adiknya yang sejak tadi merasa kurang nyaman.
"Santai." bisik Bima kala melihat penghulu datang.
Candra memang deg degan awalnya, namun ketika mengucapkan ijab Kabul, dia sangat lancar. Setelah semua keluarga dan saksi mengatakan sah, barulah Vio di bawa keluar oleh Galuh.
"Wah, cantik-cantik sekali. Tapi nak Candra, nggak lupa sama istri yang baru di nikahi, kan?" goda pak penghulu pada pengantin yang ia nikahkan.
__ADS_1
"Kalau sampai salah, tinggal jitak saja pak penghulu. Masa masih mau sama kakak iparnya." Bima secara spontan menunjukkan bahwa wanita cantik satunya itu hanya miliknya seorang.
"Wahahaha, aku kira dia masih gadis. Nggak taunya, sudah ada pemiliknya. Maaf maaf..." Bukan marah, tapi semua tertawa dengan tingkah Bima yang sangat posesif.
"Kakaknya baru nikah juga?" sambung pak penghulu.
"Sudah lima tahunan pak, sudah punya satu anak."
Menjalani pernikahan dalam kurun waktu lima tahun di usia muda. Banyak sekali yang bahkan tidak sampai di usia pernikahan ini. Kalau pun ada, pasti ada sedikit perbedaan. Tapi Bima dan Galuh? bahkan mereka masih seperti pengantin baru.
Acara ijab Kabul berjalan lancar, resepsi juga di lakukan di hari yang sama. Candra mengundang teman-teman yang ia kenal akrab. Ada banyak teman-teman dari luar negeri. Dan tidak ketinggalan pula bos-nya di tempat kerja lamanya.
Seorang bule yang kuliah mengambil jurusan manajemen namun menyukai sastra Indonesia. Jadi, sang bos bisa berbahasa Indonesia dengan lancar.
__ADS_1
"Pantas saja kamu tak mau dengan Mili. Rupanya sudah punya bidadari yang begitu cantik." Goda bos-nya pada saat memberikan selamat.
"Hahaha, she sangat menggoda. Aku takut tidak bisa tahan." kata Candra sedikit berbisik.
Bisikan macam apa itu? Bahkan Bima yang berdiri di sampingnya sedikit jauh saja bisa dengar. Bagaimana dengan Vio?
"Ya, kau orang yang paling susah di goda. Padahal kau tak sedingin adikmu," ujar bosnya lagi.
"Hahaha, iya. Aku juga sedikit kepikiran akan hal ini. Aku takut saja kalau Nanda tidak punya teman." mengingat adiknya yang berbeda dua tahun darinya. Candra menjadi sedikit cemas.
"Dia sekarang aku ajak tinggal bersama ku, santai saja kamu. Dia akan menjadi orang kepercayaan ku mulai bulan ini. Dia banyak kemajuan dan cara dia kerja juga aku suka. Diam namun semua selesai tepat pada waktunya."
Perbincangan antara bos dan mantan bawahan ini membuat Bima bangga. Candra yang selalu sesuka hatinya itu ternyata masih memikirkan adiknya. Itulah yang membuat Bima bangga padanya.
__ADS_1