
Bima langsung tancap gas, dia segera kembali ke kediaman kedua orang tuanya. Bima tidak memberi salam maupun apa. Dia langsung masuk rumah begitu sampai di rumah orang tuanya.
Bima mencari putranya, dia bahkan tidak mempedulikan pertanyaan Rosmia karena kaget.
"Sepertinya Bima mengambil salah langkah lagi." Hanya itu yang bisa Galuh katakan.
Tapi itu malah membuat Rosmia berpikir lebih. Bagaimana tidak, selain pernikahan Candra dengan Vio. Bima masih memiliki satu lagi kesalahan besar.
"Maksudnya?" tidak ada jawaban, karena Bima langsung membawa Dewangga untuk pulang ke Villa.
Di Villa, Bima langsung menutup seluruh pintu masuk dan menguncinya dari dalam. Ini mencurigakan, kalau hanya musuh perusahaan, apa tidak berlebihan?
Galuh mengikuti Bima dengan patuh, dia bahkan menutup pintu belakang yang menghubungkan villa dengan pantai.
__ADS_1
Galuh baru sadar, jika ada pintu besi yang menjulang tinggi di belakang taman. Pintu yang berdiri kokoh sekitar dua meter lebih itu hampir menutup pemandangan pantai dari villa.
"Mulai hari ini, siapa pun di larang menerima tamu orang asing. Kalau pun ada tamu yang di kenal, tetap harus melapor dulu padaku. Setiap staf yang keluar masuk, harus lapor dan menunjukkan identitas diri. Saya tidak mau ada seorang pun penyusup yang masuk ke sini."
Bima mengumpulkan pelayan villa, mulai dari staf dalam hingga pak satpam yang ada di luar gerbang. Bukan cuma itu, Bima juga berpesan untuk selalu lapor padanya jika akan keluar masuk villa.
Bima parno, dia teringat akan ancaman orang yang lagi dekat dengan Vio. Atau yang di katakan oleh orang kepercayaannya sebagai mantan dari Vio.
Orang itu mengancam akan memisahkan kepala dari badannya. Bukan untuk Bima, tapi istri dan anaknya. Walau bisa di pastikan, dia tidak pernah melihat Dewangga. Tapi orang jahat pasti memiliki seribu satu cara untuk mengetahui nya.
Tak jarang pula dia membawa Galuh ke kantor. Itu juga alasan Bima sekarang memperketat pengawasan. Galuh adalah titik kelemahan Bima seutuhnya. Dan Dewangga adalah hidup Galuh.
"Sayang, jangan menakuti mereka. Kamu tau, dengan begini, mereka bisa saja ikutan panik dan membuat kerja mereka tidak nyaman." Galuh, dia menenangkan Bima yang sejak tadi memiliki kepanikan yang tidak pernah di tunjukkan pada siapapun.
__ADS_1
"Tidak, kalian harus aman. Mereka...."
"Kalian, santai saja bekerja. Jangan ikutan panik, pak Bima banyak tekanan. Kerja seperti biasa saja, tidak ada perubahan selain pengawasan satu sama lain. Kami akan sangat berterima kasih jika itu terjadi." Galuh membuat beberapa orang yang tegang itu sedikit lebih rileks.
"Sekarang, kembali bekerja. Ingat, jangan jadikan ini beban." Pesan Galuh lagi.
Semua pegawai kembali bekerja, mereka sedikit waspada sekarang. Apa yang di katakan nyonya bos memang ada benarnya. Karena mereka tinggal dan menetap di villa yang sudah lama tanpa tamu. Pasti para pegawai pun memberi pelayanan yang terbaik.
Bima membangun tenda di belakang, tepatnya di rerumputan belakang kolam. Dia juga menyiapkan semua yang di perlukan saat berkemah. Dia seakan memindahkan lokasi kemah ke halaman belakang rumahnya.
Itu dia lakukan karena Galuh terlihat sangat menikmatinya tadi. Bima menelepon Fairus, Johannes dan Adnan untuk pindah lokasi kemah di rumahnya.
Karena Bima menjanjikan kemah tepi pantai, maka selain mereka. Masih ada beberapa yang bersedia pindah ke villa Bima.
__ADS_1
Orang itu, suami Rosaline. Dia tidak tau apa-apa, dia menjadi bingung. Apalagi ada beberapa tenda yang kembali di bongkar dengan alasan cuaca yang terlihat sudah mendung dan takut hujan di pinggir danau.
Satu pun dari mereka yang ikut, tidak di izinkan untuk mengatakan perpindahan lokasi pada satu sama lain. Bima segera pergi berbelanja persiapan untuk kemah untuk lima tenda. Semua di lakukan demi Galuh.