
Begitu banyak belanjaan Galuh dan Bima, selain belanja baju dan pernak-pernik. Mereka juga belanja bahan makanan untuk makan malam.
Mereka berangkat pagi hari dan pulang di jam hampir makan malam. Bima sendiri yang masak untuk Galuh, sesuai permintaan gadisnya. Sedangkan Galuh sendiri memilih untuk membersihkan diri.
Pintu rumah tidak di tutup, jadi orang bisa masuk begitu saja. Wanita dengan perut yang menonjol ke depan itu menghirup aroma sedap pun langsung tau di mana tuan rumah berada. Bersama dengan sang suami, Raya berniat meminta makan setelah mencium aroma sedap itu.
"Eh, ada Raya. Mau apa kamu?" tanya Bima yang masih berada di dapur tanpa sekat.
"Paman Bima, dedek mau minta makan." Jawab Raya dengan nada seperti bayi kecil.
Tatapan Raya memelas membuat Bima tidak tega mengatakan tidak padanya. Ah, dosen itu hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Ini semua menyiksa Bima, bukan menyiksa karena tidak ingin memberi makan. Tapi perasaan tidak enak karena berkata ketus.
"Ya sudah duduk. Awas aja nanti kalau sudah keluar tapi gak mau sama paman Bima. Aku culik nanti." kata Bima menyajikan makanan buatannya.
"Galuh mana? Aku mau cerita sama dia." sepertinya memang lagi ada sesuatu, tapi apa?
__ADS_1
Tidak butuh menjawab, Galuh sudah turun dari lantai dua. Mengenakan daster yang di belinya beberapa hari lalu, Galuh tampak segar setelah mandi.
"Mau cerita apa Lo?" tanya Galuh duduk di samping Bima.
"Kemarin lu ke mana aja? Gue clingukan nyari di depan kagak ada orang." kaget, Galuh merasa jika dirinya berada di rumah saja seharian. Tapi, kenapa dia tidak lihat Raya datang?
"Depan mana lu clingukan? Gue ada kok di dalem." jawab Galuh sedikit takut karena Bima kemarin masih ngambek padanya.
"Clingukan di dalem rumah gue lah, kan gue di kunciin dalam rumah." jawab Raya polos.
"Bukan cenayang sayang, tapi cctv yang bisa mengawasi orang tanpa ketahuan." Bima membenarkan ucapan Galuh yang ngasal.
"Cctv itu tetangga yang suka gibah, sayang. Aduh, kamu gak tau kan ya, hmmm." Kata Galuh sebelum kembali berbicara pada Raya.
"Eh, Ray, lu tau gak sama Bu Marlina? kemarin malem anaknya pulang jam setengah satu, di anterin cowok." kata Galuh memulai gosip.
__ADS_1
"Kok lu tau'an sih Luh? ngintip ya?" tanya Raya sambil menyendok nasi ke dalam mulutnya.
"Gimana gue gak tau, itu anak treak-treak manggil Bima. Ya gue lempar pakek pot kecil dari atas balkon." jawab Galuh.
Pantesan itu kembang berantakan di bawah pas aku pulang. Batin Bima.
"Emang kalian tau dia anaknya Bu Marlina? Awas salah lo, itu namanya pencemaran nama baik." Fairus sebenarnya tidak ingin tau yang mana anak Bu Marlina atau tidak. Tapi, dia berniat mengingatkan kedua wanita itu untuk tidak ikut campur urusan orang lain.
"Tau dong, orang cewek itu sering ilang dan ke sini nyarinya. Ya kali laki gue ngumpetin anaknya yang udah second itu." jawab Galuh jengkel.
"Omongannya di jaga sayang." Bima mengingatkan dengan lembut.
"Beneran, jengkel aku yang. Emangnya kamu suka bawa dia? Sampai emaknya nyari ke sini?"
"Enggak, yang mana orangnya aja aku gak tau." jawab jujur Bima dengan tegas.
__ADS_1
"Awas Sampek beneran kamu suka bawa itu anak."