
"Hai calon imam Nimas, sudah sarapan belum? aku bawakan sarapan buat calon imam Nimas, nih." dengan suara nyaringnya, Nimas Agatha menyambut kedatangan Dewangga di depan pintu kelas.
"Dih, memalukan!" Dewangga ogah-ogahan masuk ke dalam kelas.
Meski begitu, dia tetap memakan makanan yang di sodorkan oleh Nimas. Dewangga tau, Nimas ini gadis baik hati dan juga manis. Biar bagaimana pun, Dewangga keturunan langsung seorang Bima Fredrik yang memiliki mata tajam jika bertemu dengan gadis cantik.
Nimas selalu memberikan senyum termanis dan juga kata-kata yang mungkin membuat Dewangga diabetes. Sungguh manis sekali.
"Calon imamnya Nimas pinter banget. Udah ganteng, pinter, makannya lahap. Besok mau Nimas masakin apa?"
"Dih, Nimas. Kasihan itu Dewangga nya udah mau muntah. Jadi cewek kok enggak ada harga dirinya...."
"Nasi goreng lagi." Jawaban Dewangga seakan membungkam mulut teman perempuan yang berkomentar.
"Cemburu? Nimas ni bos.... senggol dong. Hahahaha...." merasa Dewangga berada di pihaknya. Nimas selalu berbangga diri.
__ADS_1
Walau Dewangga tak pernah menunjukkan ekspresi yang enak di lihat. Tapi, dengan dia memakan, mengatakan menu apa untuk besok. Itu cukup menunjukkan, jika Nimas memang ada untuk Dewangga.
Jam pelajaran pertama dan kedua sudah membuat pusing kepala. Bagaimana tidak, matematika di susul dengan kimia. Membuat otak tumpul Utari mau meledak.
"Utari, boleh nitip, nggak? kasih coklat ini ke kak Dewangga." Teman satu angkatan namun beda kelas, Utari. menitipkan coklat yang di balut dengan pita ping yang sangat lucu.
"Oh, ya taro saja." jawab Utari masih menyalin jawaban teman sebangkunya.
Setelah meletakkan coklat, gadis yang bisa di bilang saingan Utari dalam hal kecantikan. Pergi meninggalkan kelas.
"Ya." hanya balasan itu saja, Utari sudah berani membuka pita pink dan memakan coklat gratisan.
Jam makan siang Utari selalu di satroni oleh kakak kandungnya. Narendra. Dia membawakan makanan siang untuk adiknya. Satu-satunya wanita yang dia miliki di keluarga kecilnya.
"Makan rotinya dulu, baru makan coklat." Narendra mengambil coklat yang sudah mendarat di mulut Utari namun belum sempat di gigitnya.
__ADS_1
"Hais, ya. Utari makan."
Narendra hanya melihat adiknya makan roti dengan lahapnya. Dia tersenyum kala adiknya menikmati roti itu tanpa pilih-pilih sayur yang ada di dalam.
"Kak, apa kakak nanti akan menikahi ku." pertanyaan yang tidak hanya mengagetkan Narendra, tapi Tata yang satu bangku dengannya.
"Apa otakmu itu hanya terisi kakakmu? Kak Narendra itu tidak bisa menikahimu, kenapa? karena dia yang akan menikahkan kamu nantinya jika papa kamu tidak ada, dudul!" Tata mendorong kening Utari pelan.
"Terus, siapa yang boleh aku nikahi?" Narendra tersenyum menggoda Tata.
Ini bukan yang pertama, tapi senyuman itu masih tetap membuat Tata salah tingkah. Lihatlah wajah merah itu, bisa tau seberapa malunya dia, bukan?
"Aku tidak mau punya kakak ipar seperti dia. Nanti yang ada, aku nggak di masakin lagi sama kakak. Sudah sana balik, jangan lama-lama di sini. Nyamuknya banyak." Utari tau, kakaknya ini punya perasaan pada Tata Ningrum. Teman SD yang baru ketemu lagi di SMA ini dengan Utari.
"Nanti pulang bareng saja." Narendra masih menyempatkan diri mengantarnya pulang. Sungguh luar biasa.
__ADS_1
"Ya ya kakak ku. Kamu pulang sama Tata, dan kak Dewa, pulang sama kak Nimas. Tinggal saja aku sendiri. Besok aku bawa skuterku."