Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Meniru Utari?


__ADS_3

"Yo, ada yang di tolak rupanya. Hahahaha.... muka mana muka, oh ketinggalan di tong sampah. Cari sana muka mu!" Siska meledek habis-habisan Nimas.


Bagi Siska, ini adalah tontonan yang paling berharga. Karena pasangan yang selama ini terlihat akur itu ternyata harus terpisah dengan tragisnya.


Jika itu dulu, pasti Dewangga akan pasang badan dan membela Nimas dengan dingin. Tapi sekarang, Dewangga pun tidak menoleh padanya. Benar-benar jahat.


"Secantik apa dia, Dewa?! Apa dia lebih cantik dari aku? Apa kurangnya aku, Dewa? Aku berusaha menyamakan diri denganmu....."


"Nimas, kamu itu sudah cantik kok. Tidak ada kurangnya sedikit pun. Tapi kalau standar Dewangga di atas Utari, atau minimal Utari lah ya. Anda kalah telak! Lihat saja kulit Utari yang mulus dan putih bercahaya itu. Itu masih kulit ya, belum ke parasnya yang cantik walau tanpa polesan sekalipun. Mending mundur aku saranin, jaga muka busukmu itu untuk calon pengantin bisnismu kedepannya." Siska pergi meninggalkan Nimas setelah puas menghinanya habis-habisan.


Entah dendam apa yang di miliki oleh Siska untuk Nimas. Padahal, selama ini Nimas tidak ingin berurusan dengan Siska sama sekali.


"Dewa, jawab dong. Jangan diam saja seperti ini!"

__ADS_1


"Nimas! Secantik apa istri aku, nggak ada hubungannya dengan kamu! Dia pilihan aku, dan benar kata Siska. Lebih baik mundur teratur aja kamu, karena aku sejak awal tidak memiliki perasaan padamu!" Dewangga ikut meninggalkan Nimas yang masih berderai air mata.


Sial, wanita mana yang bisa berebut dengan dirinya?! Apa dia secantik Utari? Utari cantik? Tidak! Dia hanya lahir di keluarga kaya saja. Karena di manjakan kedua orang tua dan kedua kakak-kakaknya saja dia bisa seperti sekarang.


Manja, sok cantik, sok princess dan selalu menempel pada Dewangga. Nimas harus mengubah penampilannya seperti Utari, kalau benar Dewangga menyukai yang seperti itu.


Selama pelajaran berlangsung, Dewangga tidak pindah bangku. Hanya Nimas saja yang pindah ke bangku kosong di belakang. Terlihat sekali jika mereka berdua tengah tidak baik-baik saja.


Padahal, Dewangga tidak menunjukkan apa-apa setelah tadi.


Utari sudah menunggu di samping mobil dengan menyedot es keciknya. Terlihat segar sekali di mata Dewangga, tapi bagaimana bisa Utari jajan sembarangan begitu?


"Kak, panas." rengek Utari saat melihat Dewangga berjalan ke arahnya dengan santainya.

__ADS_1


"Sabar, kamu ini. Sini minta!" Dewangga mengambil paksa es yang di pegang oleh Utari.


"Awas kau batuk kak, itu aku beli di abang-abang sana."


"Bodo amat, udah ada kamu juga. Ngapain aku repot?"


Memang dasar Dewangga. Sepertinya dia tidak puas kalau tidak menyulitkan Utari. Tapi Utari tampak santai saja.


Baginya, ini memang sudah seharusnya, bukan? Seorang istri, melayani, meladeni dan menjaga suaminya. Menemani dari suami susah hingga menikmati hasilnya. Seperti Galuh dulu, yang sering di ceritakan.


"Iyalah, oh iya kak. Kakak langsung ke kantor, atau pulang dulu?" Tanya Utari.


"Kalau kakak langsung, kamu pulang naik apa? Kakak anterin kamu sebentar, baru langsung ke kantor."

__ADS_1


"Kakak paling baik deh. Ya sudah ayo cepat cuss, aku lapar."


Utari dan Dewangga langsung pulang ke rumah. Utari sudah punya planning untuk makan di rumah ibu dan ibu mertuanya. Dia sangat rindu masakan orang tua angkat sekaligus ibu mertuanya.


__ADS_2