
Tengah malam buta, Bima sudah tidur pulas. Dewangga yang tidur di boksnya tak jauh dari ranjang utama kamar itu pun juga tidur pulas. Lantas, apa yang membuat tengah malam buta ini menjadi cerita?
Galuh. Ya, hanya dia yang tidak bisa tidur karena kelamaan tidur bersama keluarganya tadi sore. Dan satu perasaan yang entah apa itu tak bisa di jelaskan, tengah menyerang Galuh.
Perasaan yang tak pernah singgah di hatinya sebelum ini. Galuh benar-benar tersiksa dengan rasa sialan ini.
Dia melihat Bima yang tertidur pulas miring ke arah dirinya. Perlahan-lahan Galuh mendorongnya tidur terlentang. Setelah itu Galuh masuk perlahan ke dalam selimut. Pelan tak bersuara, Galuh sudah berada di atas Bima.
Di dalam selimut, Galuh melakukan hal sesuka hatinya, namun membuat risau Bima. Galuh masih berusaha untuk naik ke atas Bima. Tapi suami yang merasa terganggu tidurnya itu hanya bisa membuka mata dan melihat apa yang di akan di lakukan istrinya.
Satu persatu kancing piyama Bima di buka oleh Galuh. Bima ngerasa, karena dia sudah sadar sepenuhnya sekarang. Bahkan, saat Galuh bermain dengan choco chips miliknya pun, Bima merasakannya.
Bima menahan diri, dia berusaha untuk tenang dan tak menakuti istrinya. Sedangkan Galuh semakin berani.
Apa Bima tahan? Tidak!
Bima memeluk Galuh erat, sebagai tanda dirinya sudah bangun. Galuh yang merasakan pelukan itu pun menyudahi aksinya dan menenggelamkan diri pada dada bidang yang sudah bertelanjang.
__ADS_1
Bima tersenyum, imut sekali istrinya. "Hahaha kenapa berhenti? Naik."
Galuh malu-malu menunjukkan kepalanya dari dalam selimut. Masih di atas Bima, Galuh seperti tikus yang baru keluar dari sarangnya.
"Kamu mau apa?"
"Aku nggak bisa tidur, Bim. Pengen main-main aja." Jawaban Galuh sungguh mencengangkan sekali.
"Main-main? Permainanmu berbahaya, nona." Bima mencubit hidung mungil Galuh.
"Aku tanggung jawab kok, beneran nggak bakal kabur." Masih dengan mode imutnya, Galuh malah semakin membuat Bima gemas.
"Siapa takut!"
***
Setiap pagi, Bima selalu orang pertama yang bangun. Sedangkan Galuh adalah orang terakhir yang bangun. Dewangga sudah bersama dengan Rosmia dan di bawanya jalan-jalan di hari Kamis ini.
__ADS_1
Bima setelah membuat sarapan, dia baru bersiap untuk ke kantor. Ya, Bima sudah mulai ngantor setelah penjemputan paksa waktu itu.
Galuh samar-samar mendengar suara gemericik air. Dia hanya mendengar awalnya, tapi setelah dia melihat suaminya keluar hanya dengan handuk saja. Itu membuat Galuh ingin menjahili suaminya.
Galuh mengambil baju piyama yang semalam di lempar oleh Bima. Tanpa sepengetahuan Bima, Galuh sudah berada di belakangnya.
menyemprotkan parfum sebelum memakai baju, adalah kebiasaan Bima. Aroma yang menyegarkan itu menusuk hidung Galuh. Pelan nan pasti, Galuh melingkarkan tangannya di perut keras Bima.
"Aku masih kangen, sayang." rengek Galuh membuat Bima menghentikan aktivitasnya.
"Huft. Kalau boleh, aku pun ingin terus bersama seperti ini, sayang. Tapi suamimu ini kan suami yang bertanggung jawab. Jadi harus bekerja, kalau enggak, buat beliin kamu barang-barang itu dengan apa?"
Dengan penuh kasih sayang, Bima menunjukkan barang-barang di pojokan kamar yang begitu banyak belum di buka. Bima tidak bermaksud untuk mengeluh, tapi dia hanya mau menunjukkan kalau dirinya harus bekerja keras untuk Galuh.
"Hehehe, maaf sayang. Tapi aku beneran masih kangen, rindu, Miss you...."
"Sudah-sudah, jadi enggak tahan." Bima kalah, dia segera menggendong istri nakalnya itu kembali ke peraduan mereka. Mengerang dan menikmati pagi setengah siangnya.
__ADS_1
Kerja? Bima pamit kerja setengah hari. Galuh memang kelemahan Bima sampai kapan pun.