Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Rumah baru


__ADS_3

Semua terdiam, tapi Dewangga diam seperti biasanya. Tidak kaget atau merasa jengkel.


"Besok. Semua sudah ada di sana, tapi apa perlu pamitan sama papa Fairuz?" jawab Dewangga santai.


"Harus, kalau tidak mendapat izin. Kamu harus pindah ke rumah papa Fairus." Jawab Bima tegas.


Mendengar jawaban papanya, Dewangga merasa sangat lemas sekali. Bagaimana bisa dia tinggal di rumah mertua? Ya, walaupun itu ada di depan rumah orang tuanya sendiri.


"Utari, habis makan kita lihat rumah kita. Kamu yang tentuin, mau tinggal di sana apa mau tinggal di rumah orang tuamu." Dewangga menemukan solusi yang menurutnya sangat efisien.


"Hmm, mana mau aku tinggal di rumah papa. Lebih baik aku tinggal di rumah kita saja. Tapi, kenapa papa Bima usir kita?" Utari tidak bisa menahan pertanyaan yang sejak tadi ingin si keluarkan.


"Bukan mengusir. Tapi ini kesepakatan mama, papa sama Dewangga sendiri." Bima mencoba meluruskan pelan-pelan salah paham ini.


Sedikit cerita, sebelum masuk ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Pewaris keluarga Fredrik harus menjalani yang namanya pembuangan. Atau, berusaha hidup tanpa bantuan orang tua.

__ADS_1


Tapi, dalam kasus Dewangga ini sedikit berbeda. Itu karena Galuh hanya memiliki satu putra, jadi tidak mengharuskan Dewangga menjalani hidup seperti Bima dulu.


"Terus, aku sama kak Dewa makan apa, ma?" tanya Utari polos.


"Usaha, nak. Papa sudah siapkan satu posisi untuk Dewangga di perusahaan. Tapi, jangan berharap untuk posisi tinggi." Galuh memeluk hangat menantu yang dia besarkan sendiri.


"Masalah itu, aku tidak apa-apa, Ma. Nanti kalo aku sama kak Dewangga tidak bisa makan, kami ke sini ya." Utari memikirkan semuanya lebih rumit dari pada yang sudah di persiapkan oleh Dewangga.


Rumah Dewangga ternyata tidak jauh dari rumah orang tua mereka. Lebih tepatnya, hanya berjarak dua rumah dari rumah Bima dan Fairus.


"Iya, aku sudah membeli rumah ini sekitar tahun lalu. Niatnya memang keluar rumah setelah lulus SMA dan membuat usaha di saat itu. Tapi...."


"Tapi apa? keburu menikahiku? Awas aja kalau menyesal, Utari tidak akan pernah mau menceraikan mu, kak." Utari memotong ucapan Dewangga karena gemas sekali dengan apa yang di bicarakan oleh kakaknya itu.


"Tidak, mana mungkin aku menyesal. Aku cuma mau bilang. Tapi, modalku belum cukup kalau untuk buka usaha sekarang. Jadi aku mau bekerja di perusahaan papa. Tapi jadi pegawai patuh waktu dulu mulai besok." Dewangga mencubit hidung Utari yang selalu salah paham dengan dirinya.

__ADS_1


"Hmm, bener ya.... Awas aja kalau sampai menyesal. Tak sunat lagi kamu nanti kak."


Utari dan Dewangga masuk ke dalam rumah yang masih bau kayu. Rumah itu tidak pernah di huni sejak di beli. Rumah baru itu sengaja di pilih Dewangga karena tidak mau berjauhan dengan kedua orang tuanya.


Harga yang hampir menyentuh satu miliar itu memang sangat indah. Tidak mengecewakan untuk harga segitu.


Rumah dua lantai yang sangat indah untuk pasangan muda seperti Utari dan Dewangga.


Baru masuk rumah, Utari sudah di sambut dengan dapur dan meja makan, serta ruang tamu. Ada satu kamar di bawah dengan kamar mandi luar yang cukup bagus jika di gunakan untuk kamar tamu.


Naik ke lantai dua, Dewangga menunjukkan satu kamar utama dan bersebelahan dengan kamar anak. Dewangga bahkan sudah mendesain kamar anak itu dengan boneka juga beberapa robot di sana.


"Apa kakak cuma mau punya anak dua saja? Tidak mau lebih?" pertanyaan Utari membuat Dewangga kaget.


"Kalau kamu bisa memberiku anak lebih dari dua. Aku pasti akan lebih giat lagi bekerja."

__ADS_1


"Ih, manisnya suamiku...."


__ADS_2