Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Pembuat anak


__ADS_3

Malam ini Bima memasak kepiting requestan dari bumil Raya. Galuh yang juga menyukai pun tidak masalah dengan apa yang di minta oleh sahabatnya. Lagian, orang ngidam tidak bisa di tebak apa keinginannya. Kebetulan ada, Bima semakin semangat memasaknya.


“Bima, suami idaman pokoknya. Pantesan Galuh tidak pernah jajan di luar.” komentar Raya saat mencicipi masakan Bima yang sebenarnya dia ssendiri juga sangat hafal kalau lelaki ini pandai memasak.


“Maafkan suamimu ini yang hanya bisa memanjakan kamu dengan uang dan perhatian saja.”


“Hais, kamu suddah cukup menyayangiku kok, sayang. Dengan tidak menyamakan aku dengan para mahasiswa kamu yang lain. Itu adalah sikap yang di inginkan setiap istri dosen di mana pun.” Raya buru-buru mengatakan rasa sayangnya pada sang ssuami yang entah kenapa sekarang lebih sensitif darinya.


“Itu tidak akan pernah terjadi. Kamu dengan mereka kan lain. Kamu tersayang pokoknya.”

__ADS_1


Mendengar dosen killer itu menggombali istrinya, rassanya Bima dan Galuh ingin muntah. Tapi mereka sadar, kalau diri juga sering melakukan hal yang sama. Saling melontarkan kata sayang dan gombal agar pasangan tidak merasa kecil hati. Dan itu wajar.


“Sayang, aku mau udangnya dong.” kali ini Galuh yang meminta udang pada ssang suami.


Bima mengambilkan udang untuk Galuh, tapi tidak langsung di berikan di piring istrinya. Bima mengupass satu persatu udang yang ia ambil tadi untuk sang istri. Meski hanya beberapa biji, Bima dengan telaten mengupasnya untuk Galuh. Sungguh idaman sekali, bukan?


Tapi kali ini Raya tidak iri, karena Fairus juga melakukan hal yang sama. Yang di irikan Raya, kan cuma masak. Karena semua yang di dapat Galuh, dia juga dapatkan dari Fairus.


Dewangga sudah tidur dan saat ini adalah jam malam untuk para orang dewasa. Bima mengajak yang lainnya untuk berjalan-jalan sebentar. Gunanya untuk membuat diri sedikit banyak bergerak agar tidak terlalu begah sehabis makan.

__ADS_1


Berjalan-jalan di pesisir pantai dengan debur ombak yang seakan ingin menggapai kaki mereka. Galuh, dia memang sudah sedikit lebih lama tinggal di villa ini. Tapi jika di ajak untuk main di tepi pantai malam-malam begini, dia paling semangat.


Tidak ada kata lain yang bisa membuat dia menolak apa yang di tawarkan Bima. Karena pada dasarnya itu semua yang dia inginkan. Etah Bima itu seorang cenayang atau memang cucunya duku. Tapi yang jelas, apa pun yang di inginkan Galuh, bisa di pastikan akan di turuti tanpa meminta.


“Enak juga main malam-malam begini.” kata Raya yang tengah main air laut ikut Galuh.


“Hooh, kalau siang panas. Di sebelah sana ada pasar malam, mau ke sana?” ucap Galuh mengingatkan jika dirinya masih ada yang ingin di makan, tapi waktu itu dia sudah kekenyangan.


“Beneran? Aku mau. Di ana ada permainan apa?” tanya Raya yang terlihat lebih bersemangat.

__ADS_1


“Jangan macam-macam. Mainan di sana itu di tujukan buat anak-anak, bukan si pembuat anak.” celetuk Galuh yang mengingatkan Raya akan perut bsarnya.


“Mulutnya kejam juga, bu.”


__ADS_2