
Malam ini, Utari dan Dewangga mulai tidur di rumah baru. Setelah tadi tegang karena harus meminta izin ke keluarga Utari. Dewangga tidak menyangka, jika keinginannya memboyong sang permaisuri ke istananya sendiri, mendapat restu langsung dari sang mertua.
Sekarang, Dewangga dan Utari mandi sebelum tidur malam mereka. Kegiatan pindahan yang sudah semua ada di rumah baru. Ternyata memindahkan buku pelajaran dan koleksi Dewangga dan Utari terbilang sangat melelahkan.
Bahkan, hingga jam setengah sembilan. Mereka berdua baru menyentuh makan malamnya.
"Kak, Utari sudah kedinginan. Ayo naik, airnya juga sudah dingin." Dewangga menahan Utari di bak mandi air panas yang ada di kamar mandinya.
Benar, rumah Dewangga hampir mirip dengan rumah Bima. Karena kedua anak dan ayah ini memiliki rasa yang sama jika berurusan dengan interior rumah.
Mereka berdua selalu memilih yang terbaik dan yang paling bagus tentunya. Walau harganya membuat mereka jatuh miskin seketika. Mereka berdua tidak akan berpikir dua kali lagi.
"Ah, maaf. Kakak ketiduran." Dewangga tidur di dalam bak mandi dengan menahan Utari? Sungguh keterlaluan, bukan?
Dewangga membilas badannya dengan air hangat lagi. Begitupun dengan Utari sebelum selesai mandi dan mengenakan baju tidurnya.
Baju tidur yang sudah di sediakan oleh Utari? Perasaan Dewangga sedikit tidak enak, apa ini tidak ada masalah?
__ADS_1
Tidak, hanya saja sedikit mengganggu.
"Utari, kita...."
"Iya, kita pakai baju tidur ini." baju tidur dengan model jubah namun bukan jubah biasa.
Ya, jubah karakter. Punya Utari jubah karakter kelinci warna pink. Sedangkan milik Dewangga adalah dinosaurus warna merah, lengkap dengan buntutnya.
Oh, astaga. Apa yang di pikirkan oleh Utari saat memilih baju tidur ini?
"Kakak, pakai. Nanti aku kelonin dinosaurus bernapas." Dengan antusias, Utari menunjukkan keinginannya.
"Wah, dinosaurus kesayanganku." Utari langsung nemplok dan memeluk Dewangga.
"Hmm, ayo tidur. Besok kita masih harus sekolah."
Mendengar kata sekolah, Utari baru ingat. Dia masih belum mengerjakan tugas rumah yang di berikan oleh guru matematika tadi siang.
__ADS_1
"Astaga, matematika ku.....!" Utari histeris dan langsung mencari buku tugasnya.
Benar saja, bukunya masih bersih. Hanya terlihat beberapa soal di lembar buku yang posisinya berada di tengah buku.
Astaga, soalnya memang cuma lima. Tapi bisa di pastikan, jika jawabannya tidak sesimpel soalnya. Dewangga hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Makanya, kalau ada tugas rumah tu, di kerjain dulu." Dewangga memberikan susu hangat yang biasa dia bikinkan untuk Utari di rumahnya dulu.
"Makasih kak, sayangnya aku lupa soal ini bukan karena kelalaianku. Tapi karena kakak memberiku kerjaan yang begitu melelahkan." Omelan Utari benar, dan itulah sebabnya Dewangga tidak berani marah.
"Hahaha, maaf sayang. Ya sudah kakak bantuin." Utari sangat senang.
Dengan mengatakan hal itu, artinya Dewangga berniat menyelesaikan soal itu untuknya. Utari menyerahkan pensil, buku tugas dan segera minum susu hangatnya.
"Suamiku yang baik hati, terima kasih ya sayang. Ini aku serahkan dengan berat hati yang tiba-tiba ringan."
"Baiklah istriku yang cantik dan baik hati. Sekarang kamu tidur saja, biar besok bisa bangun pagi untuk nyapu lantai." jawab Dewangga bercanda.
__ADS_1
"Nyapu? Kakak menikahiku dan membawaku ke sini, hanya untuk menjadi pembantu? Oklah kalau begitu, jangan lupa kasih aku upah yang setimpal."