Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Berbaikan


__ADS_3

Sore hari, Bima membawa Galuh pulang ke rumahnya sendiri. Ya meski ada sedikit drama, itu karena Galuh masih ingin bersama dengan kedua orang tuanya. Tapi Bima sudah tidak ingin berpisah lebih lama dengan Galuh lagi.


"Kalau kamu enggak mau ikut pulang, ya sudah aku menyerah. Aku pulang sendiri saja, kan lebih bebas buat kete...."


"Awas aja kalau kamu lakuin, ku sunat lagi Sampek abis." Galuh tak ingin suaminya membuat gara-gara dengan membuat mimpinya menjadi nyata.


"Nggak apa-apa kok sayang, kamu di sini aja."


Galuh tak menjawab lagi ucapan Bima. Dia langsung mengambil tas dan mencari Dewangga. Bima hanya bisa tersenyum menyaksikan tingkah kekanak-kanakan istrinya.


Pencemburu buta, siapa yang sangka gadis itu dulunya preman sekolah?


"Hati-hati di jalan ya nak, jangan ngebut-ngebut di jalan. Titip Galuh." Prayan selalu tak lupa menitipkan putri-putrinya pada para menantu kala mereka hendak pulang ke rumahnya masing-masing.


Bima menenangkan mertuanya dengan janji akan menjaga istrinya yang merupakan putri tersayang di keluarganya hingga napas pergi meninggalkan jasadnya.


Selama perjalanan, Galuh tak henti-hentinya memperhatikan suaminya. Dia seperti mencari cela, letak kesalahan Bima.


"Mau kamu pandangi sampai kiamat pun wajahku nggak akan berubah. Tetap seperti ini," ujar Bima menggoda Galuh yang ketahuan memandanginya.


"Iya enggak pernah berubah, tapi suka berubah kalau di lihat perempuan lain." kata Galuh masih tak melupakan mimpinya.


"Astaga, sayang. Mau sampai kapan kamu menuduhku? Gini saja deh, kamu ikat aku dan kurung di kamar saja. Aku bisa pastikan nggak akan ketemu siapa pun dan memikirkan wanita mana pun selain kamu, ibu dan Mimi." Bima tak marah akan tuduhan sang istri, tapi malah semakin menggodanya.

__ADS_1


"Hilih, ogah. Sudah deh ku laper, ayo cepet pulang. Nanti aku minta di masakin kerang sama kepiting." Galuh sesuka hatinya meminta makan pada suaminya.


"Ya sudah, kita ke supermarket buat belanja."


"Nggak jadi, aku mau makan apa saja yang kamu masak. Jangan ketemu sama mbak kasir manapun lagi." kata Galuh semakin posesif.


"Ok, sesuai dengan keinginan kamu sayangku. Tapi, kasih aku hadiah nanti malam." Tampaknya ini yang membuat Bima tak mau pisah lama-lama dengan Galuh.


"Beneran? Aku enggak keberatan, asal nggak ada di Candra atau siapa lah itu si pengacau. Dewangga juga sudah tidur, jadi waktunya kita pacaran." Galuh meraih lengan Bima yang kala itu memegang kendali kemudi.


Sampai di rumah, Bima dan Galuh di sambut oleh pembantu dan baby sitter Dewangga. Baby sitter itu mengambil alih bayi lucu dari dekapan sang ibunda.


Sedangkan Bima, dia mengambil kebaya pernikahan mereka. Bima ingat pertama kali masuk ke sebuah butik di luar negeri. Dia pertama kali menggunakan bahasa yang sudah lama ia lupakan. Bahasa Prancis.


Awalnya dia memberikan itu hanya untuk kado pernikahan orang yang ia cintai. Siapa sangka, kado itu justru di gunakan saat pernikahan mereka berdua.


"Kenapa bengong" tanya Galuh yang berdiri di belakangnya.


Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar dengan pintu sudah tertutup rapat. Galuh memeluk Bima dari belakang.


Dingin, Bima merasa kulit punggungnya yang menempel pada dada Galuh, terasa dingin. Kulit bertemu kulit, Bima seharusnya tak kaget lagi. Mengingat mereka sudah memiliki anak dan pernikahan sudah hampir menginjak tahun ke lima.


"Menunggu kamu," ujar Bima membalikkan badannya.

__ADS_1


Kali ini mereka memang tak lagi saling bersentuhan. Tapi, mata Bima menunjukkan sebuah keinginan untuk terus menjamah wanita yang ada di depannya.


Sedangkan Galuh, dia malah memainkan jari-jarinya tepat di dada dan perut Bima. Sungguh pemandangan yang begitu indah di mata Galuh.


Dada bidang yang membusung, Galuh merasakan betapa kerasnya dada Bima. Bukan hanya itu, perut Bima bukan seperti roti sobek. Tapi seperti roti kasur manis.


"Apa kamu mau menggodaku?" bisik Bima yang sudah sangat tersiksa.


"Tidak, aku hanya mau membuatmu senang dan puas. Kalau aku mau menggodamu, pasti begini." Galuh memasukkan tangannya ke balik handuk.


"Galuh."


Wajah Bima sungguh lucu sekali, Galuh lebih aktif lagi menggerakkan jarinya di dalam. Tangannya juga sudah terlalu mahir untuk ini. Bima yang sudah tak tahan pun tak tinggal diam.


Memeluk, mencium hingga melucuti seluruh bajunya. Bima menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut tebal di atas kasur.


***


Percaya saja, mereka sudah berbaikan semalam dengan cara mereka sendiri. Sekarang, Bima tengah berenang di kolam belakang rumah. Jam delapan pagi yang biasanya dia gunakan untuk membuat sarapan pun, ia gunakan untuk hal lain.


Bima sadar, percintaan mereka berakhir tepat di saat mereka mendengar suara adzan subuh. Bima yang kelelahan pun tidur hingga jam setengah delapan. Tapi istrinya?


Wanita tercinta itu masih menikmati mimpi indah setelah kerja keras selama semalaman. Dia kelelahan, mungkin akan terlalu siang Galuh bangun. Tapi, tidak masalah. Dewangga juga bisa minum ASI yang sudah di persiapkan semalam.

__ADS_1


__ADS_2