
Duduk di teras di temani dengan teh hangat dan kue yang di belinya tadi, pikiran Bima menerawang. Dia berpikir akan apa yang di katakan oleh Jovan beberapa waktu lalu.
Lelaki yang pernah mengisi hari-hari istrinya itu seperti mengisyaratkan sebuah luka. Galuh, gadis yang ia nikahi karena patah hati oleh orang itu. Dia di tuduh luluh padanya, hanya karena orang tuanya yang sudah meninggalkannya.
Tidak, Galuh bukan orang seperti itu. Dia di besarkan di lingkungan yang positif. Tidak mungkin Galuh menjadi orang serakah.
"Sayang, kenapa kamu melamun saja?" tanya Galuh tiba-tiba duduk di pangkuan Bima.
"Aku pingin punya anak dari kamu." kata Bima serius.
Senyum Galuh membeku, dia tidak percaya dengan apa yang di dengar. Dia yang ingin memberi kejutan, tapi dia yang terkejut.
"Kenapa sekarang kamu membeku? Kamu tidak mau?" tanya Bima sinis.
Menurutnya, dengan Galuh mau mengandung buah cintanya. Maka, akan mematahkan ucapan Jovan saat itu.
"Tidak, em... Maksudku, apa kamu mengintip ku di kamar mandi?" ucapan Galuh membuat Bima linglung sepersekian detik.
__ADS_1
"Maksud kamu? Apa aku terlihat sehina itu, sampai mengintip mu di kamar mandi?" wajah Bima memerah karena ucapan Galuh yang terkesan frontal.
"Ini." Dengan lesu Galuh menunjukkan apa yang dia sembunyikan sejak tadi.
Sebuah alat pipih kecil untuk mengetes kehamilan. Di sana juga terdapat dua buah garis merah yang membuat Bima membeku sebelum memeluk Galuh.
"Sayang, ini benar kamu?" senyum manis Bima mengembang.
Kebahagiaan yang tidak pernah ia bayangkan akan mendapatkan lebih cepat. Bima menghujani Galuh dengan ribuan ciuman di wajah.
Mungkin Galuh akan merasa risih saat dia sebelumnya. Tapi saat ini? Dia sangat menyukai sentuhan, pelukan dan ciuman Bima.
"Kamu mau apa sayang? Biar aku beri semuanya." ucap Bima di tengah kebahagiaannya.
"Aku mau kamu, jangan tinggalkan aku. Aku anak terbuang....."
"Sstt jangan bilang begitu. Mama dan papa kamu lagi kerja di luar negeri, aku tau itu. Mereka hanya mau yang terbaik untuk kamu dan kak Maya." Bima mengecup kedua kelopak mata galih mesra.
__ADS_1
"Sayang, jangan sentuh lagi. Aku bisa melahapmu saat ini juga." suara Galuh serak, apa dia tidak ingat tengah mengandung?
Tapi tidak apa-apa. Bima juga lagi dalam keadaan ingin lebih dari mencium istrinya. Dia menggendong Galuh masuk ke dalam kamarnya di lantai dua.
Perlahan Bima membawa Galuh turun ke tempat tidur. ciuman hangatnya tidak berhenti hanya di situ saja. Perasaan bahagia Bima, tak mampu dilukiskan.
"Pelan-pelan ya," kata Galuh mengingat ucapan dokter jika dia akan susah hamil di kemudian hari karena kecelakaan waktu itu.
"Pasti, aku juga menginginkan anak kita, sayang." Bima menempatkan Galuh di tengah ranjang.
Dia memulai aksinya dengan mencium Galuh. Tidak hanya itu, setelah kedua tubuh itu menyatu. Bima menutup dirinya dan istrinya dengan selimut tebal.
permainan perlahan dan terkesan hati-hati. Bima tetap memperhitungkan kenikmatan di antara keduanya.
Permainan hangat itu sungguh melelahkan. Galuh tidur di pelukan Bima yang saat itu mengotak-atik ponselnya.
Pada saat itu pula ponsel Bima berdering.
__ADS_1
"Nomor baru?"
"Hallo." jawab Bima.