Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Mutiara beraksi


__ADS_3

Galuh bangun, dia merasa lapar. Melihat ada makanan di atas nakas, dia langsung memakannya. Nasi goreng sosis kesukaannya, Galuh melahap habis sarapannya sebelum mandi.


Galuh berangkat ke kampus sepuluh menit sebelum ke Datangan Bima.


"Galuh mana?" tanya Bima pada pelayan rumahnya.


"Sudah berangkat Den, baru saja." jawab pelayan.


Bima tidak lagi masuk ke dalam rumah. Dia berpikir, harus cepat mengejar Galuh ke kampus.


Galuh sudah sampai di kampus dengan bantuan ojek. Sedangkan Bima, di tengah jalan melihat ada seorang yang tengah kesulitan.


"Kenapa mobilnya?" tanya Bima.


"Macet, aku sudah telepon bengkel... ah itu dia, mobilnya mau di derek." jawab Mutiara.


"Oh, ya sudah bareng aku saja." kata Bima menawarkan.


Ini adalah kesempatan bagi Mutiara, jadi tanpa basa-basi lagi, dia naik mobil Bima.


senyum mengembang di wajah Mutiara, sedangkan Bima tetap pada wajah datarnya.

__ADS_1


"Dia baik juga." batin Mutiara.


Sesampainya di kampus, semua mata tertuju pada mobil Bima. Tidak biasanya ada seorang wanita yang bisa masuk ke dalam mobil itu selain Galuh seorang.


Tapi, lihat sekarang. Ada gadis blasteran yang cantik jauh lebih cantik dari Galuh yang keluar dari mobil Bima.


Galuh masih di kantin saat itu, jadi dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian itu. Ashar dan Dewi melihat juga, mereka langsung melihat ke arah Galuh.


"Aku tidak apa-apa. Kalau di tanya lihat aku atau tidak, katakan tidak. Aku mau ke cafe," Galuh tidak memberi waktu keduanya untuk menjawab ucapannya.


Galuh meninggalkan kampus sebelum kedua orang itu berbicara. Tapi keduanya tau, betapa sakit melihat suaminya membawa wanita lain di dalam mobilnya. Sedangkan dirinya datang ke kampus dengan ojek yang di pesan secara online.


"Non, tuan dan nyonya seminggu lagi baru pulang. Kok non sudah pulang duluan?" tanya pelayan kaget.


"Aku cuma mau ngambil beberapa baju yang tertinggal saja mbok. Oh iya, kak Maya ada pulang gak akhir-akhir ini?" tanya Galuh masuk ke dalam rumah.


"Neng Maya rutin tiga hari sekali ke sini non. Memangnya ada apa?"


"Tidak ada, kalau ada yang tanya aku ada pernah pulang. Bilang aja gak pernah," ucapan Galuh membuat pelayan menyadari.


Mungkin ada masalah dengan rumah tangga nona muda ini. Tapi, melihat Bima sebagai suaminya. Seharusnya tidak ada masalah, Bima sangat mencintai nonanya ini.

__ADS_1


Atau, kekasihnya yang dulu datang lagi? Benar-benar tidak tau malu.


Galuh tidak lama di rumah itu, dia mengambil beberapa lembar baju dan juga beberapa dokumen dari ruang kerja ayahnya sebelum dia meninggalkan kediaman orang tuanya.


Galuh bertekad untuk benar-benar menghilang. Dia sudah tidak ingin bergantung pada siapa pun lagi saat ini.


Di kampus, Bima mencari Galuh.


"Lihat Galuh?" tanya Bima pada Ashar dan Dewi setelah keliling kampus.


Keduanya diam, mereka tidak ingin mengkhianati Galuh. Tapi mereka juga tidak ingin keluarga teman sekaligus bosnya ini berantakan. Mereka dalam dilema, sampai akhirnya Dewi memberanikan diri untuk bicara.


"... Mungkin Galuh cemburu. Selama ini, tidak ada seorang gadis pun yang duduk di dalam mobilmu selain dia...."


"Sial!!!" Bima langsung pergi meninggalkan keduanya.


"Kenapa kamu ngomong?" Ashar berkomentar.


"Kamu mau ganti bos? Kalau aku sih gak mau. Lihat itu si ganjen ke sini, mau apa dia." Dewi lebih peka dari pada temannya ini.


Dia merasa kalau Mutiara, teman satu jurusannya memiliki tujuan tidak baik pada Bima. Jadi dia harus segera di jauhkan dari Bima.

__ADS_1


__ADS_2