
Meeting mingguan baru saja usai, Bima ingin sekali pulang. Tapi, pada saat dia baru masuk ruangan, ternyata dia di sambut oleh kekasih hati.
Di sana tidak hanya Galuh yang tengah menunggu kedatangan Bima. Ada Dewangga yang tengah asyik bermain dengan sang ibu. Galuh yang memakai baju formal--celana di atas lutut yang di padukan dengan kemeja dan jas. Terlihat sangat cantik, apalagi dengan rambut yang terikat keatas.
"Sayang, sudah lama?" tanya Bima langsung memeluk Galuh dan mencium keduanya.
"Iyaaaa lama banget. Lihat aku, bedak sama lipstik aku sudah pudar." Galuh menunjukkan bibir merah merekah miliknya tanpa rasa canggung lagi. Itu bisa di artikan jika dirinya sudah tidak marah lagi.
"Ya, baiklah. Sepertinya Dewangga juga terlihat bosan. Kita keluar setelah aku kerjain ini dikit lagi." Bima langsung menuju ke meja kerjanya dan berusaha mengerjakan kerjaannya secepat mungkin.
Galuh yang awalnya ceria pun tiba-tiba menjadi muram. Galuh mengira pada saat itu juga dia di ajak keluar. Tapi nyatanya, dia masih harus menunggu.
Tidak apa-apa, hanya menunggu beberapa jam saja bukan? Galuh masih bisa bermain dengan putra dan juga sedikit beristirahat.
__ADS_1
Hanya setengah jam saja, Bima sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak ingin membuat istri dan putranya menunggu lebih lama lagi.
Bima juga berpesan untuk menunggunya hingga kembali ke kantor. Sehingga tidak ada telepon yang akan mengganggu kebersamaannya dengan sang istri.
"Kita pergi cari mainan dulu yuk, habis itu baru beli lipstik di sampingnya." Ternyata, keluarnya Galuh kali ini sudah terperinci. Bima hanya mampu mengikuti dari belakang saja.
Mencari mainan yang jauh lebih singkat dari biasanya. Dan Galuh juga sudah menunjuk satu lipstik yang ia inginkan. Melihat betapa pengertiannya sang istri, membuat Bima sedikit curiga.
"Tidak, aku mau belanja online aja nanti di kantor kamu. Sekarang sudah jam makan siang, kita ke restoran kak Maya saja di sana yuk." Galuh memimpin perjalanan menuju ke restoran yang terlihat mewah namun sangat kental akan tradisional nya.
Kedatangan Galuh dan Bima yang tak di sangka-sangka membuat Maya sedikit kaget. "Wah, ada tamu agung. Ayo masuk, aku traktir kalian berdua makan sepuasnya di sini." kata Maya yang tanpa sengaja juga berada di restoran.
"Wah, keren juga konsep yang kakak usung ini. Di sini beneran makanannya Nusantara banget?" tanya Galuh yang melihat betapa Indonesia nya restoran kakaknya.
__ADS_1
"Ya jelas, kamu bisa menemukan berbagai macam makanan nusantara di sini. Silakan pilih sendiri, kakak pakai konsep prasmanan."
"Oh, yang tinggal ambil saja sendiri itu ya? Hebat
" puji Bima yang merasa kakak iparnya ini luar biasa sekali.
"Iya, aku lihat yang memiliki konsep ini juga jauh lebih ramai dan yang pasti tak membutuhkan banyak karyawan." jawab Maya.
"Benar juga, kan mereka sudah menyiapkan sendiri. Ada yang lagi viral juga enggak ni? yang all you can eat?." tanya Bima sembari mencari-cari apa yang ia inginkan.
"Aku juga buka, tapi bukan di mall ini. Aku membuka di mall sebelah, sama juga ramainya. Jadi aku bagi sama bang Arif."
Mendengar penjelasan dari Maya, Galuh tampak sedikit tenang. Karena selama ini, kakaknya tak menunjukkan apa pun pada dirinya. Yang paling di takutkan Galuh adalah kegagalan sang kakak yang tak di tunjukkan padanya. Karena keberhasilan sang kakak tunggalnya itu adalah kebahagiaan bagi Galuh juga.
__ADS_1