
Apa yang di inginkan Utari, tidak kesampean. Karena ternyata sudah menyiapkan masakan yang hendak dia masak untuk makan siang.
Masakan papa mertuanya memang enak. Tapi masakan pak suami yang keturunan langsung papa mertua, tidak kalah enaknya.
Mungkin bukan hanya makanan yang Utari rindukan. Melainkan bertemu, bermanja dan berkumpul mama mertuanya yang dia inginkan.
"Sayang, baik-baik di rumah. Aku sebelum jam tujuh sudah ada di rumah. Jadi jangan keluyuran, mengerti?" Pesan Dewangga membuat Utari semakin jengkel.
"Lebih malam lagi aja sayang....." Utari malah membuat Dewangga di suruh lebih malam lagi pulangnya.
"Terus, papa marah. Kamu mau kejadian semalam terulang lagi? Ya sudah aku berangkat dulu." Dewangga mengusap kedua pipi Utari sebelum mendaratkan ciuman di hidung lancip dan bibir yang di tekan seperti bebek. "Jangan nakal." Pesannya lagi.
Utari menurut, dia juga tidak berani melawan amukan Dewangga. Kalau di sekolah, Utari masih bisa bersembunyi di ruangan kepala sekolah. Tapi kalau di rumah dengan dua kamar saja ini? Jelas Utari akan tertangkap begitu saja.
Di belakang rumah ada kolam renang yang lumayan cukup untuk Utari berenang. Walau tak sebesar kolam di rumah Bima. Utari suka berenang, lebih tepatnya suka air.
__ADS_1
Utari membuang rasa jengkelnya dengan berenang.
"Yo, anak siapa ini? Asik sekali berenangnya." Terdengar suara wanita yang dia rindukan. Utari langsung naik dari air dan mencari sumber suara itu.
"Mama.... Utari kangen." Rengek Utari di pelukan mama mertuanya.
"Eh, dudul! Rumah kita itu beda tiga rumah aja, kenapa enggak pulang ke rumah? Kasihan mama." omel Narendra yang saat itu menggunakan baju kantor seperti Dewangga tadi.
"Maunya minta makan ke rumah mama tadi. Tapi kak Dewangga masak, terus aku enggak boleh kemana-mana. Aku jadinya renang aja biar enggak bosen." Utari mungkin anak yang nakal dalam segi belajar. Tapi dia sangat polos dan penurut pada orang tua.
sedangkan Galuh masih saja memeluk dan menciumi Utari sesekali.
"Utari takut, kak. Marahnya kak Dewa itu mengerikan."
"Kakak sudah dengar masalah itu. Tidak apa-apa, Dewangga tidak mungkin semarah itu cuma karena kamu pulang ke rumah mama. Yuk kita pulang, sambil nunggu Dewa kerja." Narendra membasuh rambut Utari yang masih basah.
__ADS_1
"Tunggu, Utari mau ganti baju dulu. Kemarin, Utari di beliin baju baru sama kak Dewa." Utari langsung melesat ke lantai dua, di mana kamarnya berada.
Narendra melihat-lihat keadaan rumah adik-adiknya. Semua cukup bersih dan tertata rapi. Tapi yang jelas itu bukan karena adiknya, karena Utari tidak pernah di ajari angkat sapu oleh Galuh dan Bima.
"Ma, Dewangga bahkan sudah menyiapkan kamar anak. Hahaha benar-benar penuh planning dia." Narendra salut dengan adik angkatnya ini.
Merencanakan sesuatu dengan begitu detail. Narendra juga puas dengan rumah yang di tempati adik perempuannya ini.
Pada saat masuk dapur pertama kali, Narendra sudah membuka kulkasnya. Tempat penyimpan makanan dingin itu di penuhi dengan daging dan sayur kesukaan Utari. Ada buah-buahan yang sudah terpotong beberapa wadah.
Sedetail itu Dewangga menyiapkan untuk Utari. Narendra melepas rasa khawatirnya yang berlebihan. Karena adiknya sudah hidup senang dan bahagia bersama suaminya yang perencana.
Utari turun, dia mengenakan baju barunya. Dres selutut dengan motif bunga-bunga warna dasar putih. Dengan lengan transparan model lonceng, Utari tampak seperti gadis imut di dalam komik.
"Kak Dewa beliin ini, bagus kan ma?"
__ADS_1
"Bagus."