Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Lucu dan Menggemaskan


__ADS_3

Karena Aku mengendarai motor dengan penuh rasa gembira, tidak terasa Aku sudah sampai di depan kos - kosannya Tiwi dan melihat Tiwi dengan baju kemeja putih hitam, celana jeans hitam dan jilbab berwarna hitam. Karena Aku sangat suka dengan warna hitam, jadi ketika melihat Tiwi menggunakan pakaian berwarna yang dominan hitam membuat Aku semakin terpana memandangnya.


"Udah lama nunggunya wi?" ucapku melihat Tiwi dengan lipstick berwarna merah muda nenghiasi bibir tipisnya yang membuat senyumnya semakin membuatku kagum.


"enggak kok rel. Kita langsung berangkat aja yuk?" pintanya dengan penuh semangat.


"Yuk gas" balasku antusias. Aku mencoba menurunkan pijakan kaki agar Tiwi bisa meletakkan kakinya dengan nyaman saat berada di atas motor yang membuat Tiwi tersenyum karena hal sederhana yang Aku lakukan itu.


"Makasi sayang" ucapnya setelah Aku menurunkan pijakan kaki kemudian Tiwi langsung naik ke atas motorku.


"sama - sama sayang" balasku dengan perasaan yang sangat bahagia disaat Tiwi memanggilku dengan sebutan itu.


Tanpa berlama - lama, Aku langsung mengendarai motorku menuju Toko Buku yang terletak di tengah Kota. Selama perjalanan tidak cukup banyak percakapan antara Aku dan Tiwi. Namun sesekali Tiwi mencoba mengajakku berbicara karena Tiwi memang tipe cewek yang banyak bicara jika sudah terlalu nyaman dengan seseorang sebaliknya akan sangat pendiam jika bertemu dengan orang baru.


"Rel, kamu udah makan belum?" tanya Tiwi tiba - tiba meletakkan dagunya diatas pundakku yang membuat Aku menjadi deg - degan.


"Ehh.. Apa wi?" jawabku gugup karena perlakuan Tiwi.


"Kamu udah makan sayangku?" ucapnya dengan nada yang begitu enak untuk didengar hingga membuatku menjadi salah tingkah.


"heheh... Belum wi" ucapku tersipu malu dan senyum - senyum sendiri. Begitulah Tiwi, jika sudah mengeluarkan sifat manjanya akan membuatku terbang mencapai langit tertinggi karena ulahnya.


"Aku juga belum makan nih, kita makan dulu aja kali ya??" ajaknya sesekali menyodorkan kepalanya ke depan agar dapat melihat wajahku, namun hal itu membuatku menjadi sulit untuk berkonsentrasi dalam berkendara karena wajahnya yang begitu dekat denganku.


"Mau makan dimana wi?" tanyaku mencoba tetap fokus mengendarai motor walaupun memang sulit.


"Hmmmm... Dimana ya?" Tiwi berguman sembari memikirkan dimana kita akan makan."oh iya, makan ayam geprek yang dipertigaan itu aja rel" ucap Tiwi.


"ayam geprek yang pedes itu wi?" tanyaku karena Aku tau kalau Tiwi tidak begitu kuat memakan makanan pedas.


"iya rel, kan cabenya bisa request mau pedes apa enggak" jelasnya kemudian perlahan melingkarkan tangannya ditubuhku.


"yaudah deh, kita kesana aja" ucapku sembari menikmati pelukan hangat yang diberikan Tiwi kepadaku. Samakin hari terlihat kalau Tiwi semakin nyaman jika berada di dekatku. Dia yang dulunya begitu sangat pemalu, namun sekarang semua tindakan yang Dia lakukan membuat Aku yang menjadi tersipu malu.


Semakin cepat Aku memacu motorku, semakin kencang pulang pelukan yang diberikan Tiwi sampai - sampai perutku terasa tertekan karena menahan nafas agar Tiwi tetap memelukku. Tentu hal tersebut membuatku sedikit tersiksa namun Aku juga sangat senang berada dipelukannya. Dengan posisi yang begitu rapat, perlahan Tiwi merebahkan kepalanya dipundakku yang memaksaku harus sedikit memiringkan kepala untuk memberikan ruang agar kepala Tiwi bisa pas berada di pundakku.


"Rel , aku sayang kamu" ucap Tiwi dengan nada yang cukup pelan namun masih tetap terdengar olehku karena kepalanya sangat dekat dengan telingaku.


Tanpa membalas ucapan yang dikatakan Tiwi, Aku mencoba membuat Tiwi senyaman mungkin agar tidak melepaskan pelukannya. Aku mengurangi kecepatan motorku agar dapat berlama - lama diatas motor dengan pelukan yang masih erat melingkar ditubuhku. Aku merasa ini kali pertama Tiwi melakukannya kepadaku, yang biasanya Tiwi hanya memeluk beberapa menit kemudian melepaskannya kembali. Karena tindakan yang sangat jarang dilakukan Tiwi ini, tentunya Aku berusaha menikmatinya semaksimal mungkin.


Tidak terasa kami pun tiba di warung ayam geprek yang dimaksud Tiwi tadi.

__ADS_1


"Wi , udah sampai nih" ucapku memanggil Tiwi yang masih saja bersandar dipundakku dengan pelukan yang masing melingkar di tubuhku.


"Ehh.. Udah sampai ya? Haaaahh kok cepat amat sih?" ucap Tiwi terlihat kesal karena harus melepaskan pelukannya.


"Katanya mau makan. Nanti di ulang ya sayang" ucapku, dengan perlahan Tiwi melepaskan pelukannya dan turun dari atas motorku.


"Iya sayang" balasnya singkat dengan wajah yang sudah memerah karena malu.


Setelah Tiwi turun, Aku memarkirkan motorku di tempat yang teduh agar nantinya pantat kami tidak kepanasan karena terlalu lama terkena cahaya matahari.


"Kamu tunggu disini ya wi, Aku mau markir motor dulu" ucapku melihat Tiwi yang terlihat cemberut dan membuatku semakin gemas dengan dirinya.


"Iya" ucapnya kesal namun Aku malah tersenyum karena Tiwi terlihat begitu lucu seperti anak kecil yang tidak mendapatkan mainan.


Aku memarkirkan motor tepat di bawah pohon mangga yang cukup rindang membuat motorku tidak kepanasan. Kemudian Aku dan Tiwi perlahan memasuki warung ayam geprek itu sembari mencari tempat duduk yang tepat.


"Selamat siang kak, ini menunya" ucap seorang pelayan wanita dengan senyum ramah memberikan kami sebuah menu yang ada di warung itu.


"Iya kak" balasku meraih selembar menu yang diberikan pelayan itu kepadaku.


"Nanti kalau sudah selesai silahkan diantar langsung ke depan ya kak, Saya permisi dulu" ucapnya memberikan arahan dan kemudian pamit menuju dapur.


"Baik kak" balasku singkat perlahan mataku melirik semua menu yang ada.


Tanpa jawaban sedikitpun, Aku bertanya kembali kepada Tiwi yang terlihat sedang tidak baik - baik saja.


"Kenapa wi?" tanyaku mencoba mengarahkan tubuhnya ke hadapanku dengan memegang bahunya.


"Kamu kenapa senyum - senyum ngeliat pelayannya?" ucap Tiwi dengan dahi yang mengerut dan nada bicara yang terlihat begitu kesal.


"Ya elah wiii...wiii. Kirain kenapa" ucapku menahan tawa karena tau kalau Tiwi cemburu melihatku tersenyum kepada pelayan tadi. Pelayan itu memang terlihat cantik namun tidak ada sedikitpun niatku untuk menggodanya."Namanya juga pelayan wi, kalau orang senyum tentu harus dibalas dengan senyum juga dong. Kalau Aku senyum ke Dia nya bukan berarti Aku suka sama Dia" jelasku.


"Iya kan...." ucap Tiwi mengentikan pembicaraannya.


"Udah gini aja , mau pergi dengan keadaan senang atau badmood ?" tanyaku memberikan Tiwi pilihan sembari menatapnya dalam dan perlahan kerutan di keningnya mulai menghilang.


"Hmmm... Senang aja deh" ucapnya dan Tiwi kembali tersenyum.


"Nah gitu dong" ucapku kemudian mengucek - ngucek kepalanya seperti anak kecil dengan ekspresi Tiwi tersenyum sambil menutup matanya karena itu salah satu kesukaannya.


Cukup lama Aku membujuk Tiwi agar bisa menghilangkan rasa cemburunya dari seorang pelayan warung itu hingga pada akhirnya mood Tiwi kembali membaik.

__ADS_1


"Mau makan apa wi?" tanyaku kepada Tiwi sembari memperlihatkan menu yang ada.


"Hmmm.. Aku mau ayam geprek level 1 sama jus jeruk aja deh" balasnya sembari menunjuk ke arah menu yang masih Aku bentangkan.


"Oke, kalau gitu Aku kedepan dulu ya" ucapku kemudian mencoba berdiri dari tempat dudukku, namun secara tiba - tiba Tiwi menghentikannya.


"Biar Aku aja yang ke depan, daripada nanti pelayan itu senyum - senyum lagi sama kamu" ucapnya seperti seorang ibu - ibu yang mengumpat karena anaknya yang tidak mau disuruh. Tentu hal itu membuatku tertawa namun Aku menutup mulut dengan telapak tanganku agar tidak menjadi pusat perhatian.


"Aduuhh wi...wiii" balasku dengan tawa yang begitu sulit Aku tahan hingga perutku menjadi tegang." Yaudah, Aku ayam geprek yang level 3 sama jus alpukat wi" ucapku memberikan menu kepada Tiwi.


"Oke" ucap Tiwi meraih menu kemudian menoleh ke arah pelayan dengan tatapan psycopath nya.


Kelakuan Tiwi yang selalu membuatku gemas walaupun kenyataanya hal yang Dia rasakan yaitu cemburu ataupun marah. Namun dimataku Dia terlihat seperti anak - anak yang begitu lucu dan mampu membuatku tertawa bahkan Aku bisa tertawa sampai meneteskan air mata karena sangkin bahagianya.


Setelah memberikan pesanan itu kepada pelayan warung, Tiwi kembali duduk di tempat duduknya semula. Sebelum Tiwi sampai di tempat duduknya, Aku memperhatikannya yang begitu cantik dengan tubuh yang tidak terlalu pendek melenggak lenggok seperti boneka panda yang begitu lucu. Membuatku tersenyum tanpa henti disaat melihatnya seperti itu. Begitu bahagianya Aku memilikinya.


Sekitar 15 menit kami menunggu akhirnya pesanan kami pun tiba.


"Kak, ini pesanannya" ucap pelayan restoran wanita itu lagi masih dengan senyuman ramahnya. Namun Aku sedikit menoleh ke arah Tiwi, dan seperti yang Aku kira. Tatapan Tiwi begitu tajam melihat ke arah pelayan itu tanpa senyum sedikitpun.


"Iya kak, makasi ya" ucapku meraih pesanan itu dan sesekali menoleh ke arah Tiwi dengan raut wajah marah namun tetap imut di mataku sehingga membuatku tersenyum.


"Sama - sama kak" balas pelayan itu kemudian pergi meninggalkan kami.


Disaat pelayan itu berbalik arah, Aku melihat Tiwi masih menatap pelayan itu dengan tatapan yang begitu tajam sampai pelayan itu masuk menuju dapur.


"Hey, kenapa gitu ngeliatnya?" ucapku mencolek Tiwi.


"Aku benci dia rel" ucap Tiwi kesal sambil menggaruk - garuk kepalanya dan alis matanya yang hampir bertemu satu sama lain.


"Kenapa juga benci sama Dia sayang. Dia kan cuman kerja disini. Lagian Aku gak di apa - apain kok" ucapku kepada Tiwi bermaksud agar Dia menjadi tenang.


"Iya iya deh, kamu bela aja Dia terus" ucap Tiwi kemudian mengambil makanannya. Walaupun Dia terlihat kesal ataupun marah, namun untuk urusan perut tetap nomor satu. Segitu lucunya tingkah Tiwi.


"Kesal tetap , tapi makan jalan terus ya buk" ucapku menjahili Tiwi yang mulai mencuci tangannya.


"Biarin...wleeeekkkk" ejeknya menjulurkan lidah ke arahku.


"Memang ya kamu" ucapku kembali mengucek - ngucek kepalanya karena semakin gemas dengan tingkah lakunya yang begitu aneh namun menyenangkan.


Karena makanan dan minuman sudah terhidang di hadapan kami, langsung saja Aku mencuci tanganku. Tiwi yang sudah lebih dulu makan di bandingkan Aku, terlihat begitu lahap hingga ocehannya yang begitu banyak tadi tidak terdengar lagi. Melihat ayam geprek dengan cabe yang berwarna merah pekat itu membuat air liurku berlinang karena Aku yakin makanan ini begitu nikmat. Tanpa ba bi bu, Aku memakannya dengan lahap hingga habis dan yang tersisa hanya tulang belulang saja.

__ADS_1


Aku dan Tiwi merasa begitu kekenyangan dan memutuskan untuk duduk terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Toko Buku.


Bersambung...


__ADS_2