Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Jejak Cinta Semalam


__ADS_3

Hari ini kelas Galuh ada kuis dan mengharuskan dia dan Raya masuk pagi. Karena yang mengadakan kuis itu suami dari sahabatnya, wajita itu sedikit lebih nyantai.


Galuh datang bersama dengan Raya tepas beberapa menit sebelum Fairus masuk kelas. Meski bersama nyonya dosen, Galuh sebenarnya juga takut kalau telat.


"Beruntung banget kita gak telat Ray, kalo enggak pasti laki elu itu sudah murka sama gue." Galuh bernapas lega.


"Lu pikir karena gue bininya bakal bebas dari hukuman? Yakali gue anak pejabat atau artis terkenal, gak bakal tu kenal sama yang namanya hukuman." kata Raya random.


"Ah sudah lah, btw lu kenapa pakek syal panas-panas gini?" tanya Galuh memperhatikan sahabatnya itu seperti orang yang penyakitan.


"Diem mulut elu! Ini semua gara-gara kelakuan dosen elu noh." Galuh terkekeh mengingat leher sahabatnya kemarin.


"Kalian yang di pojok sana. Kerjakan di depan." Fairus menunjuk istri dan sahabatnya yang tengah asyik mengobrol.


"Kan bener apa gue bilang, gak bakalan luput dari yang namanya hukuman." bisik Raya pada Galuh yang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


"Jangan malah ngobrol. Cepat!" bentak Fairus di depan kelas.


Raya dan Galuh mengerjakan soal yang di buat khusus untuk keduanya. Raya yang jengkel hanya melirik pada suaminya dengan tatapan menusuk. Bukan tidak peka, Fairus hanya menundukkan pandangan agar tak bertatapan langsung dengan mata Raya.


Dua jam berlalu, Raya dan Galuh segera menyerbu kantin. Mereka berdua memang belum sarapan tadi pas berangkat.


Bima melambaikan tangan pada saat melihat istrinya berjalan ke arahnya. "Laper? Ini aku bikinin sandwich."


Rosaline yang ada di samping Bima pun melirik tak suka. "Biasa aja kali, gak pernah makan sandwich ya?"


"Karena gue menikmati makanan ini setiap hari, makanya sekali gak makan rasanya kehilangan." ucapan Galuh berhasil membakar hati Rosaline.


"Muka gue mulus? Hahaha, lu ngakui? Tapi emang bener sih wajah gue mulus banget, buktinya Bima selalu pengen nempel aja tiap berduaan." Galuh tak lagi segan mengumbar kata-kata yang terkesan vulgar.


"Mesum banget sih otak lu!" Rosaline tak terima.

__ADS_1


Suasana hening sejenak karena Galuh tak menanggapi ucapan Rosaline. Tujuh orang yang ada di meja itu diam tanpa kata, Ashar dan Devi saling berpandangan melihat leher Bima. Sekuat tenaga Ashar untuk tidak menanyakan hal itu pada bosnya, mungkin itu memang kerjaan pacarnya. Tapi kalau pacaran kan masih belum bisa di kata wajar dengan bekas semacam itu. Kalau putus di tengah jalan kan sudah pasti malu nanti ketemu lagi.


"Bim, maaf ni ya mau nanya." Devi menelan salivanya susah payah.


"Itu di leher apa ya?" Emang Devi gak bisa menahan rasa keponya.


Bima mengambil cermin yang di gunakan Rosaline melihat apa yang di tanyakan Devi. Bima kaget adanya jejak cinta yang Galuh bikin semalam. "Ini.... Ini...."


Karena Bima terkesan gugup dan tak bisa menjawab. Rosaline pun menjadi penasaran dan ingin tau. "Apa sih?"


"Sudah jangan di lihat kalau gak mau patah hati. Masih banyak kok semacam itu di dalem, kalau pengen tau." Galuh membenarkan kerah baju milik Bima menutupi kissmark yang ia buat.


"Lain kali jangan di leher," ucap Bima santai.


"Siap, di punggung ya?" Galuh menggoda dan hati Rosalon semakin panas langsung meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Hahahaha pergi sono lampir!!" Teriak Raya merasa menang.


Rosaline mengacungkan jari tengah ke arah Raya.


__ADS_2