
"Capek sekali aku hari ini," Galuh duduk tepat di pangkuan Bima yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Baru segitu aja capek, gimana entar, kalau di ajak beneran ke Cappadocia? Pasti udah pingsan berkali-kali." cibir Bima membenarkan duduknya Galuh.
"Hilih, kaya punya uang aja. Ngajak-ngajak ke Cappadocia segala." jawaban Galuh membuat Bima gemas.
Bagaimana dia tidak punya uang, selama ini Bima kerja juga menghasilkan.
"Punya, kamu mau kemana juga aku siap membawamu." jawab Bima yang merasa terprovokasi.
"Kalau punya, beliin jagung bakar dong. Aku kepingin sekali." kali ini Bima menggeleng-gelengkan kepalanya karena kelakuan istrinya.
Bagaimana dia minta jagung bakar? Padahal, baru setengah jam yang lalu, dia makan malam.
"Sayang, baru setengah jam yang lalu loh, kamu makan malam. Kamu gak takut meledak perutnya?" Bima mengingatkan.
"Sayang ku, suamiku tercinta. Ini keinginan bayi kita. Kamu mau, anak kita nantinya ileran? kalau aku sih gak mau." senjata pamungkas keluar.
__ADS_1
Tapi memang ini adalah keinginan yang tiba-tiba saja di rasakan Galuh. Bukankah ini, yang di namakan ngidam? keinginan tiba-tiba, yang akan hilang tiba-tiba pula jika tidak di penuhi sesegera mungkin? Membuat ibu hamil menjadi murka dan mungkin akan membuat sang ayah tidur di luar.
Mengingat ini adalah ngidam pertama dari Galuh, Bima jelas termakan oleh senjata pamungkas ini. Bahkan, Bima yang saat ini lebih bersemangat.
"Ayo, mau jagung bakarnya di mana? Di puncak? Di pantai parang Tritis? Atau di Bali?" pertanyaan Bima yang malah membuat Galuh pusing.
"Em, em. Aku mau, kamu yang bakar jagungnya." Galuh menggeleng-gelengkan kepalanya.
Bima terperanjat dengan jawaban Galuh. Bagaimana bisa dia berpikiran bahwa suaminya ini yang harus membakar jagungnya?
"Sayangku, di mana cari jagung jam segini? Kita beli saja wes, sekalian bantu pedagang kecil." bujuk bima dengan segala cara.
"Ah, sudah gak sabar lagi aku membayangkan makan jagung bakar buatan suami ku tercinta." sambungnya.
"Hmmm, ya sudah. Kamu tunggu di rumah, biar aku yang ke mall cari bahan dan alatnya." kata Bima mengambil dompet di laci meja.
"Gak mau, aku ikut." tak bisa di tahan, Galuh sudah lebih dulu menarik tangan Bima untuk keluar.
__ADS_1
Tujuan utama memang ada di jagung, dan itu sudah di dapatkan. Tapi, lihatlah Galuh saat ini.
Wanita hamil yang mengeluh capek pas di rumah tadi. Kini tengah asyik memilih buah-buahan, daging dan beberapa jenis sayuran.
Bima tidak bisa mencegah, istrinya tengah hamil saat ini. Biarpun sayuran itu tidak semua bisa di habiskan sebelum busuk. Bima juga enggan untuk melarang istrinya.
Bima benar-benar memanjakan istrinya sepenuhnya.
"Sayang... Aku dengar, kalau ibu hamil minum air kelapa hijau. Anaknya pasti bersih," kata manja dari Galuh, tidak sekalipun meleset untuk Bima.
"Beli, aku juga mau." kata Bima lembut.
"Suamiku memang the best deh. Makin cinta deh aku," senyum Galuh mengembang, matanya menyipit indah.
Oh Tuhan, jangan pisahkan kami dengan jurang pemisah.
Di sudut supermarket, ada sepasang mata yang mengamati keduanya. Menatap dengan tatapan menghina dan jijik. Mutiara. Gadis itu sudah seperti panu saja, ada di mana-mana.
__ADS_1
Dia tidak sendiri, tapi orang yang bersamanya tidak menyadari tatapan Mutiara. Isabella, wanita yang sudah merebut cinta Galuh.
Entah apa hubungan keduanya, tapi yang jelas mereka terlihat sangat akrab.