Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Sekali hama, tetaplah hama


__ADS_3

Galuh yang sudah potong rambut sebahu tengah duduk-duduk dengan ibu hamil yang merupakan sahabatnya. Raya, dengan perutnya yang sedikit terlihat dia ingin rujakan bersama sahabatnya.


Di depan mereka berdua sudah ada sebaskom buah-buahan segar di temani bumbu kacang untuk colekan.


Bumbu rujak colek ini khusus di buat oleh Bima sesuai dengan permintaan Raya. Pada saat itu, hanya ada Galuh dan Raya saja yang duduk di teras.


Bima biar diam di rumah, dia tetap bekerja sambil mengawasi sang putra.


Nah, pada saat inilah ada kejadian yang tak di inginkan oleh Galuh terjadi. Vio datang seorang diri dengan mengendarai mobil sport barunya. Vio keluar dengan langkah angkuh menuju rumah.


"Wah kakak iparku makin cantik saja dengan rambut pendekmu. Jangan katakan kalau ini hasil dari frustasi. Ya, karena perusahaan akan jatuh ke tangan suamiku dan..... Siap-siap saja untuk kehilangan rumah ini." Vio seperti sengaja memprovokasi Galuh yang tak ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


"Apa? Jangan semakin kurang ajar kamu! Entah kemana otak Bima saat menyuruh papa untuk menikahkan kamu dengan Candra. Memang hama, sejak dulu sampai sekarang ya tetap saja hama." Galuh tampaknya sudah tersulut emosinya karena mulut pedas Vio.


"Otaknya kak Bima ya ada di tempatnya lah. Tapi aku sangat berterima kasih pada suamimu yang begitu murah hati. Jujur saja, kalau misalnya aku di buang saat itu pun aku sudah bersyukur. Apalagi sekarang, aku mendapat apa yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya."


Vio duduk di kursi yang ada di pojokan sambil mengamati suasana rumah Galuh.


"Mungkin inilah yang membuat aku tak pernah percaya dengan cerita kamu. Apa yang kamu lakukan, benar-benar tidak tulus. Kamu itu beneran borok. Aku enggak tau kenapa mama bisa buta akan hal ini."


Plak


Galuh menampar Vio sekuat tenaga, dia tak pernah ragu untuk melakukan sesuatu demi Bima.

__ADS_1


"Apa kau gila, kakak ipar?!" Vio kaget dengan gerakan cepat Galuh tanpa dia duga sebelumnya.


"Jangankan menampar pipi busuk Lo! Habisi Lo juga gue bisa! Suami gue bukan untuk di cela orang tak tau balas Budi seperti elo! Lebih baik pergi dari sini, sebelum cobek ini mengenai kepala Lo!" ucap Galuh dengan suara dalam dan dingin.


Raya, orang yang selama ini tau jelas perangai sahabatnya pun sedikit kaget. Pasalnya, Galuh sama sekali tak pernah terlihat seperti ini lagi. Vio, adik ipar Galuh ini sungguh hebat, sudah bisa membuatnya menunjukkan sisi yang selama ini tak lagi di tunjukkan oleh Galuh.


"Dasar wanita gila! Pantas saja Mama membenci mu. Kau tau kakak ipar? Selama ini, Mama hanya berpura-pura menyukaimu karena kak Bima. Sekarang, kak Bima bahkan sudah di tendang dari perusahaan. So, bersiap-siaplah sebelum kakak terbuang dari rumah ini." Kata Vio sebelum meninggalkan rumah Galuh dengan pipi yang sudah memerah dan bengkak.


Siapa yang bilang Galuh akan takut kehilangan rumah ini? Galuh hanya tak ingin kehilangan hasil jerih payah suaminya di ambil alih oleh orang lain. Terlebih, itu seorang Vio. Hama yang hampir membuat rumah tangganya hancur berantakan.


Saking emosinya, Galuh yang memegang ulekan pun langsung melemparnya keluar. Siapa yang sangka, ulekan itu tepat mengenai kaca mobil sport mahal milik Vio.

__ADS_1


__ADS_2