Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Minta tambah


__ADS_3

Kegiatan panas di mobil, tak bisa lebih dari saling mencium. Bima membawa Galuh segera meninggalkan parkiran kantor. Mungkin seharusnya dia membawa Galuh ke hotel terdekat. Karena Galuh sudah mengorok ketika di perjalanan menuju rumah.


Bima yang beru menyadari istrinya tertidur pun hanya tersenyum. "Tadi aja godanya begitu pinter, nyampek rumah malah tidur. Nasib, sudah."


Bima tak marah, dia malah geli, senang dan bahagia. Melihat istrinya yang cemburu padanya.


"Kamu mau tidur apa bangun?" bisik Bima.


"Mau kamu saja.... Gendong." rengek Galuh merentangkan tangan ke atas, minta di gendong.


"Ya Tuhan... Bayi gedeku. Yes baby, come with Dady." ucapan Bima membuat Galuh tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha, berasa jadi peliharaan gadun deh. Geli dan jijik dengernya sayang." Galuh memukul keras lengan Bima.

__ADS_1


"Hahahaha iya, aku memelihara sugar baby sekaligus merangkap jadi istriku tercinta."


Walau sudah bangun, Bima tetap menggendong Galuh ke kamar. Tubuh Bima yang tinggi besar, menggendong Galuh yang hanya memiliki berat empat puluh lima kilo. Jelas seperti mengangkat lidi bagi Bima.


Tawa riang mereka berdua memenuhi ruang tamu. Baby sitter Dewangga mendengar dari dalam kamar sang majikan kecil. Dia juga merasa percakapan yang di celotehkan kedua majikannya itu memang menggelitiknya. Tapi dengan begini, dia tau jika tuan besarnya begitu mencintai nyonyanya.


baby sitter berusaha untuk tidur saat ini. Tapi kamar yang di berikan padanya menidurkan Dewangga ada di lantai yang sama. Dan jarak juga tak begitu jauh dari ruang tamu.


Samar-samar baby sitter itu mendengar suara yang membuat bulu kuduknya merinding.


Suara itu berpusat dari mulut Galuh. Ini semua ulah Bima yang terlalu gemas melihat bibir Galuh.


"Ke kamar yuk." Bisik Galuh yang rupanya ingin lebih dari ciuman Bima.

__ADS_1


Tak menjawab, Bima langsung menggendong lagi istrinya naik ke lantai dua. Bima menidurkan Galuh pelan-pelan, dia tidak pernah kasar terhadap Galuh. Terutama saat seperti ini.


Bima selalu memberikan sentuhan yang paling lembut. Dia mengibaratkan Galuh adalah lapisan es paling rapuh di atas air.


"Bima, janji jangan pernah meninggalkan aku. Janji cinta aku seumur hidup, janji hanya aku yang ada di dalam hidupmu." Di tengah Bima memberikan kenikmatan, Galuh memintanya berjanji setia.


"Ah... Aku janji. Apa kamu butuh hitam di atas putih? Agar kamu percaya padaku seratus persen?" Jawab Bima terengah.


"Tidak perlu, aku mau kamu berjanji saja setiap kita berhubungan. Ingat kalau kamu itu hany aku yang boleh memilikinya. Mata kamu hanya boleh terpesona padaku. Hidung kamu hanya boleh mencium aroma parfum ku. Dan bibir kamu, hanya boleh mengucapkan cinta padaku, hihihi...."


Galuh mengucapkan semua itu denga nada riang. Dia bahkan tertawa senang di akhir kalimatnya. "Iya, aku akan ingat semua itu." Bima yang sudah kelelahan setelah mencapai puncak bersama pun menggulingkan badannya ke samping. Lalu memeluk Galuh erat-erat. "Istriku yang cemburuan, apa kamu juga bisa berjanji padaku?"


"Apa?" Galuh kaget akan Bima yang meminta janji padanya.

__ADS_1


"Jangan pernah meminta cerai padaku. Jangan tinggalkan aku juga. Aku sudah jatuh cinta terlalu dalam padamu. Kamu itu wanita pertama selain ibu yang aku cintai." ucap Bima berbisik tepat di telinga Galuh.


"Ya aku janji, tapi aku mau minta tambah. Nyenggol terus, bikin geli."


__ADS_2