
"Sial! Anak kecil itu minta di beri pelajaran." Lidya emosi sekali dengan apa yang di katakan oleh Dewangga.
"Sepertinya dia mau menunjukkan kemampuan yang hanya seupil itu padamu. Sabar Lidya, dia masih anak kecil. Darah mudanya masih bergejolak, jangan terpancing." Kata rekan kerja Lidya yang bernama Lion.
"Kau tak tau saja dia siapa.... Ah tidak, mungkin benar dia memang anak muda yang tengah bergejolak jiwa mudanya." Hampir saja Lidya keceplosan siapa sebenarnya Dewangga.
"Memang dia siapa? Kalau kamu tau sesuatu, jangan di telan sendiri dong. Kamu ini..." Lion, bisa di katakan teman satu pemikiran dengan Lidya.
Memiliki segudang akal licik untuk bertahan di perusahaan yang besar dengan gaji besar ini.
"Dia... Pencuri hatiku." Dengan suara berbisik, Lidya mengatakan hal yang gila.
"Gila! Dia lima tahun di bawahmu dudul, apa kau tidak geli? Bahkan, kalau kamu bisa bayangkan. Belum tentu burungnya bisa berdiri memuaskan mu. Hahahaha dasar gila!" Lion sepertinya percaya pada apa yang di katakan oleh Lidya.
Walau dia di hina sebagai orang tak waras, Lidya malah tertawa. Karena hanya dia yang tau siapa Dewangga sebenarnya.
"Tertawalah selagi kau bisa tertawa Lion. Nanti, kalau sampai di acara tahunan Dewangga menggandengku. Kamu pasti akan tercengang, membuka mulutmu sampai menyentuh tanah. Dan di saat itulah aku mengabaikan mu!" Kata Lidya memprovokasi Lion.
__ADS_1
"Hahaha lanjutkan mimpimu, jangan lupa bayangkan juga burung emprit yang baru menetasnya. Takutnya kau kaget karena masih belum tumbuh bulu itu." Lion kembali ke mejanya dan melanjutkan makan siangnya.
Mereka berdua memang mendebatkan hal yang berbeda. Tapi yang mereka debatkan adalah satu objek yang sama. Yaitu Dewangga Fedrik.
"Kakak...!" teriak Utari pada Dewangga yang baru tiba dengan motor maticnya.
"Jajan saja kamu. Nih bawain tas kakak." Dewangga menghampiri Utari yang tengah antre membeli es cekek dan cilok.
"Hmm, berat kakak. Mang, aku nggak jadi ya. Belum di buat, kan?"
"Pinternya istriku, ayo kakak traktir es krim." Dewangga senang karena Utari mengikuti apa yang dia mau.
Naik motor gede dengan perempuan lain, biasanya dewangga tidak menunjukkan senyumnya. Tapi, menggunakan motor matic membonceng istri. Membuat Dewangga tidak berhenti tersenyum sepanjang jalan.
Percayalah, ini bukan karena kendaraan. Tapi karena siapa yang ada di belakangnya. Dewangga melajukan motornya tidak secepat dia membawa motornya saat mengantar Nimas.
Dewangga menikmati sekali perjalanan pulang kali ini. Seperti pemuda lainnya, setiap di berhentian lampu merah. Dewangga mengusap-usap lutut Utari. Sedangkan Utari melingkarkan tangannya di perut Dewangga.
__ADS_1
"Kakak, aku tidak mau lagi es nya. Tapi aku mau pulang sama kakak." Utari seperti menahan sesuatu.
Apa itu, Utari?
Dewangga dengan patuh membawa Utari pulang ke rumahnya. Dia melewati rumah mamanya, di sana terlihat rame. Ada apa?
"Mampir dulu?" tanya Dewangga.
"Boleh."
Dewangga langsung menghentikan motornya. Dia memarkir motornya di luar, karena dia tidak berniat untuk lebih lama dari pada sekedar melihat.
Utari, dia langsung berlari ke dalam lewat pintu samping. Karena dia yakin, di ruang tamu pasti ada banyak orang di sana.
"Nah, Dewangga nya sudah datang, pa." Nimas, dia yang terus memperhatikan pintu pun membuahkan hasil.
"Wah, calon mempelai datang juga."
__ADS_1