
"Bimaaaaaa...." teriak Galuh dari kamar atas.
Bima yang tengah masak pun buru-buru mencari istri ya yang berteriak. Dia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya. Mengingat istrinya yang suka ceroboh.
"Apa?" tanya Bima ngos-ngosan karena berlari.
"Pasangin ini," Galuh menyerahkan cincin dan kalung pada Bima.
"Astaga, aku pikir kenapa. Cuma pasangin kalung kan gak perlu berteriak, sayang. Sayang pita suara kamu, nanti sakit tenggorokannya gimana?" dengan lemah lembut Bima memasang kalung di leher Galuh.
Tunggu!
"Ini kan kalung yang aku berikan dulu pas masih SMA, bukan sih?" tanya Bima yang menyadari sesuatu.
"Ehem, ternyata memang lebih bagus kalau di pasangkan langsung sama yang memberi." kata Galuh melingkarkan tangannya di leher Bima.
"Aku tidak menyangka, kalau barang murah ini masih kamu simpan." Bima terharu.
__ADS_1
Selama ini, dia hanya memberikan Galuh barang-barang yang murah. Tapi sekarang, Bima berjanji pada diri sendiri untuk memberikan barang yang lebih bernilai pada pujaan hatinya.
"Jangankan kalung sama cincin ini. Aku juga masih menyimpan baju yang kamu belikan di pasar malam waktu kita bohong bilang kerja kelompok."
Bima kaget mendengar pengakuan Galuh, sekaligus malu. Dia tidak menyangka, jika barang pemberiannya zaman dulu itu masih ada hingga sekarang.
"Kamu..." Bima tidak kuasa lagi menahan air mata haru.
Badan Bima memang besar, tapi jika sudah menyangkut dengan Galuh. hatinya tidak akan pernah bisa kuat. Mudah luluh dan terharu.
"Astagaaaaa ini malah peluk-pelukan. Enak bener dah, Luh, gue masak buat lu di bawah. Tapi lu? astaga, tidak kasihan apa sama perut gue yang udah tidak kecil lagi ini? gue aduin lu ke laki gue. Biar di kasih nilai D." jengkel Raya.
"Kenapa lu ada di sini? Ngapain masak di rumah gue?" kali ini Galuh lah yang bingung, kenapa bisa ada sahabatnya.
"Biasa, anak gue kangen sama kalian. Bosen gue di rumah mertua. Apa-apa di layani, ini itu sudah tersedia. Bahkan yang lebih parah, gue gerak dikit aja udah bikin mertua gue siap-siap buat pegangin. Di kira gue ini anak bayi apa." adu Raya yang langsung duduk di tepian ranjang Galuh.
"Hmm, itu artinya mertua lu sayang. Lagian kan emang pak Fairus kaya raya, beda Ama kita-kita ye." ejek Galuh yang melupakan siapa suaminya.
__ADS_1
"Gak usah ngejek deh lu. Laki lu itu yang diem-diem punya perusahaan sendiri, lah gue mah apa atuh. Oh iya Luh, gue mau tanya dong. Laki gue kalau di kampus nakal gak sih?"
Rupanya ini alasan Raya mau capek-capek masak untuk Galuh dan Bima. Bilangnya sudah masa bodo sama yang namanya pelakor, buktinya Raya masih terus bertanya.
Memang, pesona dosen killer itu semakin menyeruak ke permukaan belakangan ini. Rambut panjang dan mata tajam memang tidak bisa membungkam ketampanan Fairuz.
"Mana ada berani pak dosen ngelawan elu. Lagian lu itu takut bener sih itu laki di goda pelakor. Yang ada ni ya, cewek itu kena mental duluan kalau deketin laki lu. Suka ngasih ujian dadakan soalnya belakangan ini." jawab Galuh sebel.
"Hahaha, bener juga ya. Tapi laki gue malem-malem pulangnya, gue bosen Luh. Pengen nongkrong lagi kaya dulu di kantin kampus." Raya mengalami stres ringan selama berada di rumah mertuanya.
Dia merasa kurang bebas karena ini itu di larang oleh ibu mertuanya yang semakin hari semakin sayang padanya.
"Ikut aja ke kampus. Lagian kan ada gue di sono, ada Bima juga yang bisa jagain kita." kata Galuh memberi saran.
"Bener juga, Bim. Jangan gak jagain gue juga ya, gue bisa kena baby blues kalau tetep di kekang begitu." ucap Raya sedih.
"Iya, asal kamu juga jangan bertingkah."
__ADS_1