Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Dinas ke luar


__ADS_3

Bima sudah berusaha untuk cepat, tapi dia masih saja kalah dengan marahnya Galuh. dia sengaja membawa kerjaan kantornya ke cafe, itu semua demi Galuh.


"Sayang, jangan marah lagi dong. Aku buatin makanan lagi, ya?" Bima berusaha membujuk istrinya yang sudah makan beberapa makanan yang tersaji di depannya.


"Apa kamu tidak lihat apa yang ada di depanku? Kamu mau membuat perutku meledak dan mencari penggantiku? Sungguh jahat sekali...." Selalu berujung dengan penggantian.


Ya, memang seposesif itu memang. Itu semua karena Galuh tak ingin di tinggal oleh Bima.


"Mulutnya itu kalau ngomong. Hmmm, makanya bikin adiknya Dewangga nanti aku enggak bakal gantiin kamu sama wanita manapun."


Jika Galuh mengakhiri ucapannya dengan penggantian dirinya. Maka, Bima juga selalu menggunakan senjata pamungkasnya, yaitu adik untuk Dewangga.


"Satu saja masih di titipin, masih mau bikin lagi? Haduh, kuatkan lah mama kamu." Galuh juga merasa malu karena tidak bisa mengurus putranya. Tapi suaminya malah tak tau diri dengan terus meminta adik untuk Dewangga.


"Sayang, kita juga menyertakan baby sitter menemani mama. Jadi, Dewangga hanya di perhatikan saja, bukan full di urus oleh mama."

__ADS_1


"Sama aja, jangan mau enaknya aja kamu. Urusin juga."


"Ok, ayo kita pulang dan ambil Dewangga."


Galuh menyerah, karena dia masih memiliki pekerjaan yang menumpuk. Tidak mungkin bagi dirinya mengambil dan membawa Dewangga bekerja. Galuh memilih diam dan fokus kembali ke kerjaan.


Sedangkan Bima, dia ke dapur dan membuat steak untuk Galuh. Dengan sedikit percakapan di dapur, Bima memberi resep dan cara membuat saus yang sering ia buatkan untuk Galuh.


Bima merasa dirinya mungkin tidak akan berada lebih lama di sisi istrinya. Entah apa yang ada di pikiran Bima saat ini.


"Devi, tolong nanti di perhatikan lagi Galuh. Kalau aku tidak ada, tolong jangan meninggalkan Galuh sendirian." Ucapan Bima ini kelas membuat kaget Devi dan yang lainnya kaget.


"Tidak, kalian sudah benar. Cuma aku kan juga harus dinas ke luar negeri dan keluar kota yang mungkin tidak membawa Galuh." jelas Bima.


"Oh, kami janji tidak akan pernah melakukan itu." jawab Devi.

__ADS_1


Menjadi pegawai dari Galuh, mungkin sedikit melelahkan. Tapi, Devi sama sekali tidak merasa beban atau lainnya.


Galuh masih sangat sibuk dengan beberapa lembar map di depannya. Sedangkan Bima juga sudah kembali fokus dengan kerjaannya setelah membuat makanan untuk Galuh.


Bima membawa sedikitnya empat kerjaan yang paling urgen. Di dalam ruangan tak terjadi percakapan yang berarti selama beberapa jam.


Bima dan Galuh saling mengabaikan karena pekerjaan. Galuh tak serese tadi pagi yang terus mengeluh lapar. Bima juga bisa bekerja dengan tenang bersamanya.


"Galuh, besok aku ke Kendari mau meninjau pabrik emas di sana. Sekalian mau cari lahan untuk mendirikan perusahaan di sana." Inilah komunikasi yang memecah keheningan ruangan.


"Kenapa mendadak?" Suara Galuh bergetar, karena perjalanan ini adalah yang pertama Bima tanpa dirinya.


"Tidak mendadak juga, sudah di bahas dari dua Minggu lalu. Hanya saja baru fix nya kemarin dan tiket baru ada untuk besok. Jadi mungkin aku yang telat bahas ini dengan kamu." Terang Bima sedikit berat hati.


"Berapa lama?" terdengar lancar, tapi kenyataannya.... Galuh meneteskan air mata saat bertanya.

__ADS_1


"Mungkin seminggu. Sayang, jangan membuat aku berat buat pergi. Tapi Candra masih belum paham sama kerjaan ini. Kalau bisa di serahkan padanya, aku pasti akan menyerahkan padanya." Bima tak bisa berbuat apa-apa karena ini juga mendesak.


Dia tak bisa membawa istri dan anaknya. Walau berat, dia juga harus melakukannya.


__ADS_2