Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Di usir?


__ADS_3

"Widiiihh kakak keren banget." Utari berceloteh menghilangkan rasa takutnya.


Sejatinya, dia takut akan ancaman seorang Nimas. Bagaimana tidak, dia jelas tahu jika kakaknya ini sudah ada janji pernikahan dengan wanita lain. Tapi, malah dirinyalah yang menikahi kakaknya. Ini jelas sungguh membuat dirinya berada di posisi yang tidak tenang.


"Keren apanya?" Tanggapan Dewangga sama persis dengan apa yang di bayangkan oleh Utari.


"Keren, tadi. Itu kak Nimas Lo, kak. Cewek yang selama ini dengan kakak...."


"Terpaksa! Utari, kamu itu istri aku. Apa tidak ada rasa cemburu sedikit pun untuk suamimu ini? Astaga, kakak tanya sekarang, Apa kamu tidak lebih penting buat kakak?" Dewangga gemas sekali dengan apa yang ada di pikiran istrinya.


Utari tidak menjawab, dia malah langsung memeluk suaminya yang tengah mengemudi. "Aku tidak menunjukkan, bukan berarti tidak cemburu. Tapi, aku tidak bisa menunjukkan. Apa kakak tau, aku takut sekarang. Pasti Papa Bima tengah mengumpat karena kelakuanku."


"Hais, mana pernah papa begitu. Sekarang, kamu mau langsung pulang atau mau beli es krim dulu?" Dewangga mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Aku punya es krim di rumah, Papa Bima kemarin belikan banyak sekali. Katanya biar tidak nervous pas nikahan. Tapi tetep saja, itu banyak sekali, jadi aku tidak bisa habiskan." Utari masih tidak melepas pelukannya, karena Dewangga malah membelai dan merangkul adik sekaligus istrinya ini.


"Baiklah, ayo pulang."


Masih mengemudi dengan memeluk, Dewangga tidak seperti biasanya. Dia akan mengomel kalau saja dia di ganggu saat mengemudi.


Di rumah, Galuh sudah menunggu putra putrinya pulang dengan memakan es krim milik Utari yang di belikan Bima.


"Ma, jangan makan es terus. Papa buatin jus buah buat kamu." Bima masih sama seperti dulu. Dia tidak pernah bisa membiarkan istrinya sendirian di rumah.


"Mama, papa Utari cantik sudah pulang." Teriak Utari setelah keluar dari mobil.


"Astaga anak ini, kenapa nggak berubah sama sekali sih?" Galuh dari dalam rumah menggerutu.

__ADS_1


"Namanya juga Utari, anak Galuh Rameswari. Ya pasti ngikutin Mamanya. Sudah sana sambut anak-anak, aku siapin makan siang buat mereka." Bima mengingatkan kelakuan istrinya sejak dulu.


"Hmmm, gini amat punya laki. Kgak bisa liat istrinya seneng liatin wajah tampannya." Galuh terus komat-kamit menyambut kedua bocil yang baru saja menikah itu.


"Anak-anak mama yang cantik dan ganteng, gimana tadi sekolahnya?" walau tadi komat-kamit, muka dan nada suara Galuh langsung ramah ketika harus berhadapan dengan dua anaknya ini.


"Mama, Utari lapar. Papa sudah masak?" Utari dalam hidupnya hanya menyukai masakan Bima, Narendra dan Dewangga saja.


"Hmmm, papa saja yang di cari. Mama kapan di carinya?" Galuh pun menunjukkan jika dirinya juga ingin di tanyai.


"Mama di cari? Mana mungkin, kan Mama selalu ada di hati Utari. Kalo Papa mah, adanya di perut aja." Jawaban ngeles yang selalu di sukai oleh Galuh.


Dewangga hanya bisa tersenyum di belakang kedua wanita tercintanya itu.

__ADS_1


Pulang sekolah, di sambut oleh makanan hangat nan lezat dari papanya. Dewangga juga tak sabar selalu ingin pulang sekolah.


"Dewangga, kapan kamu pergi dari rumah ini?"


__ADS_2