Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Dasar Gila!


__ADS_3

Presentasi prakarya ternyata tidak hanya satu kelas. Melainkan semua kelas dua. Tiap kelas ada lima kelompok, bisa di pastikan hari ini tidak ada kelas belajar.


Bagaimana bisa ada kelas belajar? sedangkan di halaman kelas ada acara yang begitu meriah.


Presentasi prakarya yang ada di pikiran Utari adalah sama dengan presentasi makalah yang sering dia lakukan di depan kelas. Tapi kenyataanya adalah presentasi ini mirip dengan pameran hasil karya satu sekolahan.


Di setiap karya, di dampingi oleh dua perwakilan dari kelompok itu. Utari sangat takjub dengan hasil karya kakak-kakak kelasnya. Terutama karya hasil dari kelompok Dewangga.


Dewangga berdiri sebagai maskot bersama dengan Nimas. Astaga, pemandangan apa ini? Jujur saja, Utari sangat cemburu melihat ini. Tapi, Utari bukan anak kecil yang harus menangis dan meraung-raung, bukan?


Utari hanya tersenyum simpul melihat ke arah Dewangga yang sudah mulai panik. "Utari...."


"Sttt, anggap kita tidak kenal. Kakak jangan sok kenal sama aku." Dewangga kaget, kesambet apa Utari ini?


Padahal, beberapa hari ini kan, mereka akrab-akrab saja. Bahkan tadi pagi dia masih bergelayut di dalam mobil di lengannya.

__ADS_1


Namun Dewangga tak mengambil pusing hal itu saat ini. Lebih tepatnya, nanti saja di urus.


Karya kelompok Dewangga adalah lukisan. Lukisan seorang gadis dari arah belakang. Dia mengenakan seragam sekolah dengan rok di atas lutut sedikit. Rambut lurus sepunggung terlihat indah tersapu angin dari belakang.


Di bawah terlihat inisial pelukis. DF. apakah itu Dewangga Fedrik? Lantas, lukisan ini?


Hanya dengan menatap saja, Dewangga langsung mengangguk membenarkan.


'Oh, rupanya kakak melukisku. Manisnya.'


Utari meninggalkan suaminya yang tengah bertugas. Di depan dia melihat sosok Arif yang merupakan kepala sekolahnya. Arif juga sangat menyayangi Utari, selayaknya putrinya sendiri.


Utari berlari menghampiri Arif, lalu memeluknya.


"Papa! Papa juga melihat ini? apa papa jadi juri?" Keaktifan Utari lah yang membuat dirinya di perhatikan oleh siswa lain.

__ADS_1


Sejatinya, tidak banyak yang tau, selain guru-guru mengenai hubungan Utari, Dewangga dengan kepala sekolah ini.


"Iya, papa juga mau melihat. Tapi tidak ada penjurian, sayang. Yang ada cuma pengawasan, Kan tidak sedang kompetisi. Ayo ikut sama papa." Arif dengan lembut memperlakukan Utari, itu jawaban yang sangat nyata.


"Rupanya, memang ada KKN di sekolah ini. Pantas saja kamu di keluarkan dengan begitu mudahnya." Siska, memprovokasi Patra yang saat itu hadir di acara terbuka itu.


Tapi, tidak terdengar apa-apa dari mulut manis seorang lelaki tampan di sampingnya yang bernama Patra.


Patra malah terlihat sedikit senyum setelah sekian lama dia tidak menunjukkan ekspresi apa pun.


"Kamu tersenyum? Apa yang membuat kamu tersenyum?" Siska sudah kesal karena selama dia menemani Patra, lelaki itu hanya memiliki pandangan lurus seperti saat ini. Hanya saja, dia tidak tersenyum sebagai perbedaan.


"Dia itu manis, cantik dan ceria. Untungnya, dia tidak memiliki trauma setelah kejadian itu. Aku yang bodoh dan berdosa ini. Ingin sekali aku meminta maaf. Tapi.... Aku takut dia membenciku. Air matanya saat itu...."


Ucapan Patra sungguh membuat Siska tidak suka. Bagaimana bisa kekasihnya ini mendiskripsikan wanita lain di depannya dengan ekspresi yang rumit begitu. Memang lelaki bodoh! Seharusnya dia balas dendam karena sudah di keluarkan dari sekolah. Bukan malah menye-menye mengatakan soal depresi di depannya.

__ADS_1


"Dasar gila!"


__ADS_2