
"Galuh Rameswari, seharusnya kamu menjadi milikku. Kenapa kamu bisa bersama orang yang tak seharusnya ada di sampingmu? Aku cemburu, Luh. Kembali padaku." Jovan membelai pipi Galuh lembut. Dia bahkan tidak segan menyentuh bibir Galuh.
Namun, pada saat Jovan hendak menikmati bibir itu, sebuah tangan besar memaksanya berdiri dan menjauh. Pikiran beras mendarat di pipinya, itu tangan kekar Bima.
Pikiran yang tak tenang Bima ternyata menjadi sebuah firasat untuk istrinya. Jovan sudah di usir oleh Bima tadi pagi. Bagaimana bisa dia masuk ke dalam ruang kantor Bima?
Pasti ada orang dalam yang bisa membuatnya masuk ke dalam. Dan, kenapa Galuh bisa tidak bergerak seperti ini? Bima tidak bisa berpikir sebanyak itu. Karena baginya, menghajar Jovan dan membinasakan lelaki tak berakal sehat ini adalah yang utama.
Yasa membawa Galuh yang sudah lemas ke rumah sakit terdekat. Sedangkan Bima, membuat orang dengan paksa menjadi pasien rumah sakit. Kalau bisa sih, menjadi penghuni salah satu laci dingin di kamar mayat.
"Keberanian mu cukup besar sampai menyentuh istriku!" Setiap pukulan yang Bima daratkan pada tubuh dan wajah Jovan.
__ADS_1
Itu tidak terlihat sebagai rasa kesakitan, tapi kemenangan bagi Jovan.
"Pukul, terus pukul. Aku akan buat kamu di benci oleh Galuh. Kamu itu hanya berandalan yang hidup dari belas kasihan Galuh. Latar belakang orang ternama, apa kamu berpikir itu bisa membuatmu menggantikan posisiku di hati Galuh?"
"Seharusnya kamu berpikir. Kenapa Galuh terus terjerat lagi dan lagi oleh ku? Itu karena di hatinya hanya aku yang bertahta. Kamu tidak ada di hatinya."
Jovan terus menerus memancing emosi dan perasaan Bima. Dengan membabi buta, Bima tak membiarkan Jovan sesuka hatinya mengatakan hal buruk untuk istrinya.
Perkelahian Bima dan Jovan di saksikan oleh banyak orang. Termasuk para investor dan pemegang saham.
Di antara mereka, ada seorang yang paling mengenal Jovan. Dialah yang memberi jalan pada lelaki tak tahu diri ini bisa kembali masuk ke dalam kantor.
__ADS_1
Jovan mengatakan, jika ada sesuatu yang tertinggal di dalam ruangan. Itulah alasan bagi orang itu memberikan izin bagi Jovan kembali masuk ke dalam kantor.
Orang itu tidak tau menahu masalah apa yang sudah di ciptakan oleh Jovan untuk Bima, pada awalnya. Tapi sekarang, dia paham masalah di antara mereka bertiga.
Orang itu memang pernah mendengar, jika istri Bima pernah bertunangan dengan orang ternama. Namun, nama orang itu tidak di terangkan dengan jelas. itu karena orang ternama itu sudah mengalami banyak penurunan. Walau belum di katakan bangkrut, tapi orang itu sudah tidak memiliki nama lagi.
Rupanya, itu semua tidak lepas dari peran serta seorang Bima. Perusahaan raksasa dalam bidang perhiasan, yang selalu menyembunyikan anak emasnya. Pada saat tampil di muka umum, sang putra mahkota ternyata tengah memulai menghilangkan nama orang terkenal tadi.
"Tidak menyangka, orang itu adalah kamu, Jovan. Aku cukup buta mau bekerja sama dengan orang hina seperti kamu. Dan aku cukup memiliki rasa malu untuk kembali ke perusahaan ini. Mati saja kamu!" kata orang itu sebelum meninggalkan Jovan di urus oleh anak buah Bima.
"Kamu sama sampahnya denganku! Jangan sok suci."
__ADS_1