Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Teror


__ADS_3

"Ini siapa ya?" kembali aku bertanya kepada seseorang yang sedang menangis disana namun tetap saja tidak merespon.


Dengan perasaan bingung dan juga cemas, karena tidak ada respon dari orang misterius itu. Aku langsung saja mematikan teleponnya.


Tiba - tiba beberapa saat setelah aku mematikan telepon itu, perutku terasa sakit hingga tenggorokanku terasa panas.


"Aduuuuhhh buuu..." teriakku kesakitan.


"reell..kamu kenapa nak?" ucap Ibu cemas kemudian berlari keluar untuk memanggil Dokter.


"Aaahhh...sakiiit" Aku meronta - ronta kesakitan menghadap kekiri dan kekanan sembari meremas perutku yang sakit.


Karena sakit yang begitu hebat, aku tidak tau harus berbuat apa. Setelah beberapa saat, Ibu datang dengan seorang Suster yang biasa merawatku.


"Aduuuhhhh..sus... Perutku sakit" teriakku kesakitan perlahan keringatku bercucuran karena memang begitu sakitnya.


"Sebentar , biar saya cek dulu" ucap Suster itu dengan tenang, terlihat dia sangat profesional tanpa ada panik sedikitpun.


Dengan sebuah stetoskop yang menggantung dilehernya, suster itu memeriksa perutku. Aku yang masih saja merasakan sakit, sesekali meronta disaat Suster itu sibuk meraba setiap sudut bagian perutku dan terlihat kerutan didahinya.


"Kelihatannya tidak ada apa - apa" ucap Suster itu heran kepada Ibu


"terus kenapa anak saya kesakitan seperti ini sus?" ucap Ibu menghampiri Suster yang masih berdiri disebelahku.


"saya juga tidak tau buk, apa anak Ibu ada makan sesuatu yang merupakan pantangannya?" tanya Suster.


"setau saya, Farel tidak ada pantangan kalau masalah makanan sus" jelas Ibu sembari sesekali menatapku khawatir.


"aaaakkkhhhh....sakit" Aku kembali berteriak kesakitan.


"Naaak..."Ibu mendekatiku dan memelukku kemudian perlahan mengeluarkan air mata. "tahan ya nak" Ibu mencoba menenangkanku.


Namun anehnya, setelah Ibu memelukku perlahan sakit pada perutku mulai hilang seperti tidak terjadi apa - apa. Tentu saja hal tersebut membuat Suster yang berdiri disana terheran - heran dengan mata membulat ke arahku.


"Bu, perutku udah ga sakit lagi" ucapku melepaskan cengkraman pada perutku dengan perasaan bingung.


"kamu serius nak?" ucap Ibu bangkit dari pelukanku dan mengusap sisa - sisa air matanya.


"iya bu" jawabku heran.


Suster yang melihat kejadian itu hanya bisa bengong dan menatap heran ke arah Aku dan Ibu.


"bagaimana pak?" tanya Suster itu dengan menapatku penuh rasa penasaran dengan menggaruk - garus kepala menggunakan jari telunjuknya.


"udah baikan sus" jawabku seadanya karena memang sakitnya sudah hilang.


"kalau begitu apakah sudah bisa saya tinggal?" ucap Suster itu yang sampai saat ini aku belum tau siapa namanya.


"sudah sus, sakitnya sudah hilang" balasku sembari menatap Ibu yang terlihat sudah mulai tenang.


"kalau begitu, saya keluar dulu ya" ucap Suster itu kemudian pergi meninggalkan kami berdua.


"baik sus , terima kasih" timpal Ibu.


Setelah kejadian itu, Aku dan Ibu merasa sangat heran atas apa yang sudah terjadi kepadaku barusan. Kenapa bisa sakit yang begitu luar biasa tiba - tiba saja hilang disaat ibu memelukku. Semuanya masih menjadi tanda tanya. Seketika aku teringat kembali dengan suara tangis yang aku dengar dari panggilan misterius tadi.

__ADS_1


"bu, apa ini ada kaitannya dengan penggilan misterius tadi ya?" tanyaku kepada ibu.


"ibu ga tau juga nak" ucap ibu heran sekaligus bingung.


"aku pernah dengar sih bu kalau ada ilmu hitam yang bisa membuat orang sakit hanya melalui telepon" jelasku.


"ya lagian siapa juga yang mau guna - gunain kamu nak?" timpal Ibu kemudian duduk dikursi sebelah ranjangku karena Ibu tau kalau aku sangat sopan kepada siapapun yang aku temui.


"ga tau juga sih bu, aku merasa kalau aku tidak punya musuh disini" ucapku dengan penuh tanda tanya.


"kalau gitu, nanti coba ibu telpon kenalan ibu yang di Jakarta. Dia termasuk orang sakti untuk melihat apa yang terjadi sama kamu ya" ucap ibu menggenggam erat tanganku dengan kedua tangannya. Terlihat ibu sangat khawatir dengan keadaanku.


" iya bu" balasku singkat.


 


*Sore hari


Kembali aku teringat mejadian tadi siang sangat membuatku cemas dan juga heran. Kenapa bisa sakit yang begitu tidak tertahankan bisa - bisanya hilang dalam sekejap hanya karena sebuah pelukan. Setelah cukup lama merenung, aku ingat sosok Tika, juniorku dikampus. Tidak tau kenapa pikiranku tertuju kepadanya, apa mungkin ini semua ada kaitannya dengan dia.


"Tika?" aku membathin karena firasatku mengatakan kalau ini semua ulah Tika. Karena hanya dia orang yang kelihatannya mencoba mendekatiku dan dalam waktu dekat ini dan baru saja bertengkar dengan Tiwi.


"Apa mungkin ini ulah Tika?" gumamku menatap langit - langit kamar.


"toookkkk..toookk...tokkkk" suara ketukan pintu.


"Assalamualaikum" suara Tiwi yang membuat aku tersadar dari lamunanku.


"Waalaikumsalam" ucapku menoleh kearah sumber suara. Ku lihat Ibu masih terbaring diatas karpet dengan posisi menghadap kesamping. Aku yakin kalau Ibu merasa lelah semenjak merawatku di Rumah sakit ini.


"kenapa senyum - senyum Wi?" ucapku membalas senyumannya yang terlihat begitu bahagia.


"ga kenapa - kenapa kok rel. Aku bahagia aja bisa ketemu kamu lagi" gombalnya perlahan mendekatiku sembari mengeluarkan sesuatu didalam tasnya dan duduk dikursi sebelah ranjangku.


"gombal teruuuss" ucapku salah tingkah dengan senyum yang tidak mampu ku bendung lagi.


"siapa yang gombal? memang begitu kenyataannya" ucap Tiwi menjulurkan lidahnya.


"nih, aku bawain mie kesukaan kamu lagi" ucap Tiwi memberikan sebuah kotak makanan yang terbuat dari sterofoam yang aku yakin kalau itu adalah Yakisoba.


"hmmmm... Dari aromanya aku sudah tau kalau ini apa" ucapku sambil menghirup aroma mie khas Jepang itu hingga mataku terpejam sesaat.


"kamu lapar kan?" tanya Tiwi.


"iya dong sayang, apalagi kalau sudah mencium aroma ini" ucapku tersenyum karena Tiwi sangat tau makanan kesukaanku.


"kamu bisa aja ya" ucap Tiwi perlahan membuka kotak sterofoam itu dan membuat aromanya bertebaran memenuhi kamar tempatku dirawat.


"yaudah cepat suapin aku, udah lapar banget nih" pintaku manja kepada Tiwi seperti anak kecil.


"manja banget ya anak bunda" ucap Tiwi sembari mencubit hidungku.


"iya dong bunda" balasku meneruskan ucap Tiwi yang tiba - tiba saja memanggil dirinya dengan sebutan bunda.


Setelah cukup lama kami bercengkrama melepas rindu padahal baru beberapa jam saja dipisahkan. Namun hal itu memang sangat terasa bagiku ditinggal beberapa saat oleh Tiwi apalagi dalam keadaan terbaring seperti ini. Membuat Aku ingin selalu ada disampingnya.

__ADS_1


Suapan demi suapan dilayangkan Tiwi memasuki mulutku yang sudah siap untuk menerima asupan dari sang kekasih. Hingga tidak terasa kalau makanan yang begitu nikmat itu sudah habis tanpa tersisa sedikitpun.


"Habiiissss" ucap Tiwi memperlihatkan kotak kosong kepadaku.


"Terima kasih ya sayang" ucapku tersenyum kearah Tiwi.


"sama - sama sayang" balas Tiwi kemudian meletakkan sampah itu kedalam tong sampah yang terletak diluar kamar kemudian membawakan segelas air mineral dan memberikannya kepadaku.


"Angkat dulu badannya rel" ucap Tiwi dengan segelas air ditangannya.


"iya wi" ucapku.


Dengan penuh perhatian dan hati - hati, Tiwi sedikit membantuku duduk untuk memberikan minum. Terlihat dia tanpa segan - segan merangkul tubuhku agar bisa terangkat dari kasur hanya untuk memberikanku minum. Karena rangkulan Tiwi yang begitu erat membuat tubuhku dan tubuh Tiwi begitu dekat dan membuat otak kotorku melihat kearah yang semestinya tidak aku lihat. Bagaimana tidak, benda empuk dan berukuran cukup besar itu bertabrakan dengan lenganku yang membuat otakku berlarian kesana kemari.


"diminum dulu rel" ucap Tiwi perlahan mendekatkan gelas yang berisikan air minum itu ke arah mulutku.


"iya wi" balasku sembari sesekali melirik kearah benda yang terlihat begitu empuk masih saja menempel pada lenganku. Aku tidak tau apakah Tiwi sengaja menempelkannya atau memang tidak sadar. Bisa - bisanya dalam keadaan sakit seperti ini otak kotorku masih saja terus bekerja.


"gimana? Enak kan?" ucap tiwi perlahan membaringkanku kembali.


"enak banget wi , empuk" ucapku keceplosan hingga membuat mulutku langsung terkatup karena takut jika Tiwi menyadari kalau aku masih saja memikirkan benda empuk itu.


"apa rel? Empuk?" Tiwi terkejut mendengar jawabanku dan terlihat heran.


"iii...iiyya maksudnya, mienya empuk wi. Engga keras sama sekali gitu" ucapku gugup mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"owhh.. Kirain apa" ucap Tiwi namun dengan tatapan miring dan senyuman yang terlihat seperti memberi kode.


"apa wi?" tanyaku berpura - pura bodoh.


"hmmmm... engga rel" ucap Tiwi kemudian dia meletakkan gelas keatas meja dan kembali mendekatiku.


Ibu yang masih saja tertidur sedari pukul 03.00 sore tadi belum juga terbangun padahal dari tadi suara Aku dan Tiwi cukup keras namun Ibu tidak juga terbangun, yang aku tau biasanya Ibu sangat peka dengan kehadiran seseorang apalagi sampai bersuara hingga dapat membuatnya terbangun. Namun pada saat ini sangat berbeda sehingga membuatku bertanya - tanya namun tak aku gubris.


Setelah Tiwi meletakkan gelas bekas minumku tadi, Tiwi kembali duduk disampingku dengan perlahan menggenggam tanganku dengan lembut. Tentu hal itu membuat perasaanku menjadi sangat tenang. Namun perlahan Tiwi mendekatkan tanganku ke arah wajahnya dan menciumnya dengan sesekali menatap ke arahku dengan raut wajah yang sendu dan mata yang sayu. Melihat perlakuan Tiwi yang mambuatku nyaman, tentu saja aku hanya bisa pasrah dan menikmati apa yang dia lakukan.


"Rel... Aku sayang banget sama kamu" ucap Tiwi terus mengelus punggung tanganku ke arah pipinya.


"aku juga sayang sama kamu kok wi" ucapku kaget mendengar Tiwi tiba - tiba Tiwi mengucapkan kalimat itu kepadaku.


Masih pada posisi tangan kami yang masih menggenggam dengan erat. Tiba - tiba Tiwi bangkit dari duduknya dan langsung saja memelukku hingga membuat Aku tidak bisa berkata - kata. Dalam keadaan Tiwi menimpa tubuhku dengan pelukan yang cukup erat seperti tidak akan dilepaskan itu. Membuat Aku hanya bisa diam dan terpaku atas apa yang sedang dilakukannya. Bagitupun Tiwi, dia hanya mendekapku dengan penuh cinta. Terasa begitu nyaman berada dipelukannya Tiwi namun perasaanku terasa sedikit aneh.


Sekitar 5 menit kami berpelukan tanpa mengeluarkan sepatah kata, yang terdengar hanya detak jantung yang begitu cepat. Karena ruangan kamar ini cukup hening dan membuat suara detak jantung kami terdengar cukup jelas. Setelah cukup lama Tiwi memelukku dan kemudian mengangkat tubuhnya. Tanpa aba - aba sedikitpun, tiba - tiba Tiwi menciumku yang masih menikmati sisa - sisa pelukannya yang hangat itu dengan sigap. Namun kali ini sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Tiwi menciumku cukup lama hingga membuat nafasku terengah - engah karena mungkin saja aku belum siap dengan serangan yang mendadak seperti itu. Sekitar lebih kurang 2 menit Tiwi melakukannya kemudian langsung keluar dari kamar pasien yang aku tempati tanpa berbicara sepatah kata pun, aku tidak tau setan apa yang sudah merasuki Tiwi sehingga dia berani melakukan hal seperti itu kepadaku walaupun aku juga menikmatinya.


"kemana wi?" ucapku melihat Tiwi yang tiba - tiba berlari kecil menuju keluar kamar. Tanpa respon sedikitpun, Tiwi pergi begitu saja seperti tidak mendengar ucapanku dan membuatku heran.


Cukup lama Tiwi tidak kembali, aku yang merasa panik kemudian bertanya - tanya.


"kemana sih wi? Kok lama amat" gumamku masih menanti kedatangan Tiwi.


"ga bertanggung jawab banget sih jadi cewek" umpatku mencoba bercanda dengan diri sendiri sehingga membuatku tersenyum sendiri sambil mengingat hal yang baru saja terjadi.


Setelah beberapa menit aku menunggu, akhirnya Tiwi datang membawa sebuah plastik hitam namun masih menggendong sebuah tas dan membuatku terpaku sesaat.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2