
Setelah tiga jam berada di ruang operasi, Galuh baru di bawa keluar oleh suster. Sedangkan putranya sudah di bawa ke ruang bayi. Rosmia yang mewakili pihak keluarga untuk mengurus bayinya.
"Suster, kok istri saya masih belum bangun?" tanya Bima melihat istrinya di atas brankar.
"Tunggu saja, pak. Sebentar lagi pasti siuman, mungkin masih tidur sekarang." jawab suster yang membantu persalinan.
Bima melihat memang istrinya terlihat seperti tengah tidur. Tapi, sampai kapan? bahkan saat ini sudah mau pagi. Bima tidak ingin meninggalkan istrinya yang masih tidur untuk bekerja.
"Pa, nanti ada meeting dengan investor asing. Apa papa bisa menggantikan ku?" Bima merasa, meninggalkan istrinya yang baru melahirkan adalah tindakan yang sangat keji.
"Apa kamu bekerja ikut orang China yang nggak ngizinin buat cuti? Masalah ini saja kamu masih izin." Yasa memang orang tua yang tegas, tapi dia bukan orang tua tak memiliki hati nurani.
Siang hari, Bima melihat istri dan putranya tidur dengan masih menyusu. Dia merasa kasihan, perjuangan hampir setengah malam Galuh masih belum berakhir. Tapi itu baru awal dari segalanya.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Galuh mengagetkan Bima yang baru saja meletakkan buah-buahan di atas meja.
"Iya, habis ini makan. Kamu mau makan juga?" Bima menunjukkan makanan dari warung miliknya.
"Mau, tapi suapin." meski masih terdengar sangat lemas. Namun kemanjaan Galuh pada Bima sudah kembali di rasakan oleh bapak baru itu.
"Tentu."
Kebahagiaan Bima terasa sangat lengkap setelah kehadiran sang buah hati. Putra yang selama ini di tunggu-tunggu akhirnya lahir juga.
"Cucu Oma belum selesai mimiknya?" Rosmia datang membawa bunga mawar untuk menantunya.
"Ini baru mau di pindah, Ma minta tolong dulu. Galuh mau makan, katanya." Bima dengan takut-takut berani mencoba mengambil putranya dari dekapan sang istri.
__ADS_1
"Aduh... aduh... sini biar mama saja. Kaku begitu, bisa jatuh cucu tersayang Oma." Rosmia ketakutan melihat putranya yang mengambil cucunya dengan kaku.
"Ya maklum ma, Bima baru pertama gendong bayi." Bima masih berusaha untuk sesegera mungkin mengambil putranya dan mengajaknya bersua foto. Lalu memamerkan pada dunia, jika dirinya sudah menjadi bapak dari seorang putra yang dilahirkan secara sesar oleh wanita tercintanya.
"Iya, tapi bayi ini masih merah dan rapuh. Mama tetap tidak bisa membiarkan kamu seenaknya mengambilnya. Kalau kamu mau menggendongnya, biar mama bantu."
Galuh merayakan tangannya untuk mengambil jeruk yang ada di meja samping tempat dia tidur. Dia menikmati perebutan anak dan cucu dengan sebuah jeruk manis yang di bawa oleh Bima.
"Tapi, ma. Bima juga mau bisa...."
"Tunggu bayimu ini berusia dua bulan, baru kamu bisa mengambilnya. Memang sama-sama masih kecil, tapi setidaknya dia sedikit kuat. Kalau sekarang, masih belum. Sudah sekarang suapi istrimu, biar mama yang urus bayimu setelah itu mama urus mantu cantik mama." Tak ingin di bantah, Rosmia menyuruh putranya untuk memberi makan istrinya.
"Dasar nenek tidak mau mengalah." Bima mengambil makanan untuk dirinya dan sang istri.
__ADS_1
Makanan lembek untuk sang istri dan makanan biasa untuk dirinya. Tapi, meski begitu, Bima ikut tidak memakan makanan yang terasa pedas. Itu demi istrinya yang masih di larang makan pedas.