Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Suami idaman


__ADS_3

Malam hari Raya masih tertidur pulas di samping Fairus yang juga belum bangun. Tetapi perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi. Raya berniat untuk bangun dan menyiapkan makan malam untuk mereka.


Bruk


Fairus kaget dan terbangun. "Kamu kenapa?"


"Aku mungkin kelaparan, kaki ku sampai lemas dan bergetar." jawab Raya polos.


"Maaf ya, aku yang akan menyiapkan makanan untuk kamu. Kamu jangan banyak gerak, nanti saja kalau sudah tidak lemas lagi boleh kamu gerak." Fairus merasa bersalah dan dia membantu Raya untuk kembali naik di tempat tidur.


Raya dan Fairus masih sama-sama polos, karena kepanikan, keduanya tidak berpikir untuk berpakaian terlebih dulu. Raya segera mencari baju yang tadi di lempar Fairus entah ke mana. Sedangkan Fairus sendiri memilih untuk langsung mandi.


Saat Fairus sedang masak, Raya berusaha untuk jalan ke kamar mandi. Di rasa kakinya sudah tidak bergetar lagi, tetapi sakit di pangkal pahanya masih terasa mengganjang.


Jika biasanya Raya yang masuk tanpa permisi, kali ini Galuh yang masuk bak tamu tak di undang. Memang tidak ada yang mengundang sih. "Kenapa itu muka di tekuk begitu?" tanya Raya?


"Sebel, sudah malem kantor ngubungin katanya ada barang mentah dateng. Jadi Bima mau gak mau harus ngawal." jawab Galuh dengab sedikit jengkel.


"Kasiannya.... mau makan bareng? Sepertinya suamiku masak banyak." tawar Raya membuat Galuh sedikit canggung.

__ADS_1


"Lo kan pinter masak Ray, kenapa nyuruh suami masak?" heran Galuh.


"Tadi aku sudah kelaparan sekali Luh, sampek kaki gue lemes. Makanya laki gue bertindak ngambil inisiatif. Tapi jangan salah, masakannya enak banget." oceh Raya.


Galuh tersipu malu mendengar cerita Raya, bukan karena haru suami sahabatnya itu masak untuknya. Tetapi malu karena tanda yang ada di leher Raya yang begitu banyak dan warnanya terlalu gelap. 'Mungkin pak Fairus terlalu buas.'


Begitulah isi pikiran Galuh saat ini. "Sepertinya aku akan pulang saja. Tadi Bima juga bilang hanya sebentar."


Galuh memang sudah bercerita pada sahabatnya, "siapa Bima sebenarnya". Awalnya gak ada yang percaya, tapi kembali lagi pada rumah yang di beli Bima itu sudah bisa di bilang cukup membuktikan.


" Ya sudah sono, awas lu ngiler gak nyobain masakan suami gue." teriak Raya karena Galuh sudah keluar rumahnya saat mendengar mobil berhenti di depan rumahnya.


"Manjanya.... Ini sudah pulang sayang. Kamu sudah makan?" Tanya Bima dan Galuh menggeleng.


"Ya sudah, kita masuk dulu. Aku mau mandi baru masak buat kamu." Galuh kegirangan mendengar Bima akan masak buat dia.


Bima mandi tidak membutuhkan waktu lama, tetapi Galuh lah yang mandinya lama. Bima masuk dengan membawa steak ayam buatannya sendiri ke kamar mandi. Terlihat Galuh juga masih enggan untuk bangun dari mandinya.


Galuh menyeringai melihat Bima duduk di pinggir bak mandinya dengan membawa nampan berisi makan malamnya. "Kamu berniat menyuapi ku?" tanya Galuh asal.

__ADS_1


"Kalau kamu gak keberatan," Bima menyodorkan gapu yang sudah berisi potongan ayam dan kentang ke arah murut Galuh.


"So sweet banget sih jodoh ku. Jadi makin lophe-lophe." Galum mencium pipi Bima setelah menerima suapan darinya.


"Aku juga makin cintaaaaaaaaa banget sama istri ku yang manja ini," Bima meletakkan nampan makan malam Galuh dan mengambil handuk untuknya. "Sudah jangan lama-lama, nanti kamu masuk angin."


Galuh benar-benar di manjakan sekali oleh Bima. Lelaki itu tidak keberatan sama sekali ketika istrinya memeluk lehernya minta di gendong. Dia bahkan dengan senang hati membawa istrinya ke kamar.


Mencarikan baju sesuai keinginan dia. Bima mengambil bungkusan yang tadi di bawanya saat masuk ke rumah tanpa sepengahuan Galuh. Istrinya itu tampak sumringah menerima papaer bag darinya.


Galuh membuka dan melihat apa isinya. Baju tidur sutra warna ungu. Model piyama dengan lengan pendek dan celana pendek. Baju tidur itu rupanya di beli Bima dua pasang. Satu untuk Galuh dan satu untuknya.


"Suka?" tanya Bima sekilas.


Sebenarnya tidak perlu di tanya juga, melihat dari ekspresi Galuh yang sumringah dengan mata berbinar pun sudah tau. Kalau wanita itu menyukai hadiah yang ia bawakan.


"Kamu benar-benar idaman, Bim. Gak nyesel aku menikahimu." Galuh langsung memakai bajunya, sedangkan Bima masuk ke dalam kamar mandi mengambil nampan makan malam Galuh.


Sebenarnya di ambil nanti juga tidak masalah, hanya saja Bima masih malu-malu melihat Galuh tanpa busana.

__ADS_1


Kalau biasanya cowoknya yang agresif, kini ceweknya yang selalu menyerang dadakan. Ya.... seperti inilah Galuh.


__ADS_2