Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
TIDAK!


__ADS_3

Malam anak sekolahan adalah belajar mengerjakan pr. Tapi Utari malah sibuk menggoda Dewangga yang mengerjakan pekerjaan rumahnya.


Dewangga duduk di atas karpet bulu yang memang dia sediakan di samping tempat tidur. Dia sengaja hanya memakai meja kecil untuk belajar.


Utari tiduran di paha Dewangga dengan memainkan ponselnya. Sesekali dia mendongak ke atas, melihat keseriusan sang suami.


Cekrek


Terlihat Dewangga yang sangat serius mengerjakan tugas. Dari arah bawah, Utari mendapatkan gambar yang begitu indah baginya.


"Kak, kok kakak ganteng banget sih keliatannya?" Tanya random Utari sambil memandang hasil fotonya di layar ponsel.


"Hmm? Bukankah kakak udah ganteng dari dulu?" Ternyata Utari salah persepsi.


Dia mengira, kalau suaminya ini akan merasa malu dan tidak berani berkomentar. Sehingga dia bisa melihat betapa merah wajah sang suami karena godaan itu.


Tapi sayang seribu sayang, Dewangga malah tidak tergerak sedikit pun. Yang ada, Dewangga malah dengan PD nya mengakui dirinya memang tampan.


"Mana ada, kakak dulu tu dekil banget. Sumpah, entah apa yang buat kak Nimas jatuh cinta sama kakak sampai segitunya." ejek Utari yang malah membuat Dewangga semakin gemas.

__ADS_1


"Kau ini, awas aja nanti selesai kerjain ini." Kata Dewangga masih santai namun malah membuat Utari merasa tertantang.


Utari bangun dari tidurannya. Utari malah naik ke pangkuan Dewangga dan mengalungkan kedua tangannya.


"Awas apa? Utari tidak sabar."


Cup


"Utari!" Dewangga kaget dengan keberanian istrinya. Padahal dia hanya melakukan pengancaman kecil. Tapi ternyata....


Cup


Cup


Gadis kecil ini minta di ajari rupanya. Dewangga menggendong dan membawanya ke tempat tidur.


"Kamu ini semakin berani." Dewangga mencium pucuk hidung mancung Utari.


"Harus, kakakku sayang. Kalau aku tidak berani, nanti aku tidak kebagian dari kak Nimas." Utari masih tidak melepaskan lingkaran tangannya di leher Dewangga. Padahal, posisi mereka sekarang tengah tiduran dengan Dewangga tepat di atas Utari.

__ADS_1


"Kamu cemburu sekali sama kak Nimas? Masih tidak percaya?" Dewangga suka sekali mencium Utari tidak pada tempatnya.


"Jelas, kak Nimas itu selalu bermimpi menjadi nyonya Dewangga Fedrik. Padahal, aku yang menyandang status itu. Bahkan aku bisa mengendus adanya bau-bau caper dari seorang kak Lidya. Jangan lengah...."


"Astaga anak ini. Baiklah, demi istriku, aku akan tetap waspada dari setiap wanita yang berusaha dekat denganku. Tapi, kalau sebatas rekan kerja, boleh dong?"


"Hm! Sana tidur, aku sudah ngantuk. Minggir!" Utari benar-benar sebel sekali dengan apa yang di katakan oleh Dewangga. Bagaimana bisa dia malah bertanya tentang rekan kerja cewek pada seorang yang tengah cemburu? Memang lelaki, kaum yang tidak peka!


"Utari, jangan dong. Kakak udah bersemangat ni, jangan tidur dulu." Dewangga berusaha membalikkan posisi istrinya seperti semula.


"Sana cari kak Lidya atau kak Nimas sana. Jangan ganggu Utari!"


"Yakin?! Ya udah deh...."


"Kakak....." Dewangga ini, suka sekali memainkan emosi Utari.


Tapi, dengan begitu, Dewangga tau seberapa besar perasaannya terhadap adiknya. Ternyata, selama ini Dewangga tidak posesif karena Utari adalah adik angkatnya. Tapi karena Utari adalah wanita yang ingin dia lindungi selamanya.


Dewangga mengecup pundak Utari yang tertutup baju tidurnya. Dewangga sudah tidak ingin berkompromi lagi untuk malam ini. Jujur saja, Dewangga sudah terpancing sejak tadi Utari tiduran di pangkuannya.

__ADS_1


Jadi, setelah provokasi Utari yang seperti itu gencarnya. Apa Dewangga selaku pria normal ini akan bertahan?


Jawabannya adalah TIDAK!


__ADS_2