
Sejak saat itu, Bima sama sekali tidak pernah meninggalkan istrinya sendiri. Bahkan kerja pun, Bima membawa Galuh bersamanya.
Karena sudah mulai mengenal, karena dua bulan belakangan membawa Galuh. Banyak karyawan yang dekat dengan Galuh. Entah hanya sekedar menjilat, atau memang murni ingin berteman.
Namun, sebagai atasan yang baik, Galuh tidak boleh memihak atau terlalu dekat dengan seorang karyawan pun.
"Mbak, sebelumnya memang suka ngikut begini ya, Bu Galuh?" tanya seorang gadis kecil yang saat ini merasa sedikit risih dengan keberadaan Galuh di sekitar tempat kerjanya.
"Enggak kok, baru-baru saja. Kenapa memangnya?" seniornya pun menanyakan tentang pertanyaannya.
"Enggak bebas. Lagian, kan. Pak Bima kerja, kenapa juga di kintilin. Apa enggak ngerasa kalau orang itu bisa risih?"
Anggapan yang begitu berani, sepertinya dia tidak memiliki rasa takut. Atau, dia memiliki sembilan nyawa untuk mengkritik istri dari bos-nya.
"Kamu saja yang merasa, aku biasa saja. Lagian, dia bos, mau bagaimana dan mau ngapain aja juga nggak akan ada yang larang." jawab senior merasa sedikit tidak suka dengan kritikan juniornya.
"Yang bos itu pak Bima, bukan Bu Galuh."
"Ririn, aku rasa kamu cukup berani mengatakan ini semua. Dan seharusnya, kamu lebih fokus pada kerjaan. Jangan perhatikan yang lain!" senior pun semakin tidak tahan dengan pikiran terbuka juniornya. Mau bagaimana pun, mereka hanya seorang pekerja, karyawan. Bagaimana bisa mengkritik begitu banyak pada anak menantu pemilik perusahaan?
__ADS_1
Galuh mendengar dari balik tembok, dia mendengar jelas pembicaraan dua karyawan itu. Tapi Galuh tidak menegurnya, karena kebebasan berkomentar di perusahaan ini sangat terjaga.
Galuh juga tidak ingin mengikuti suaminya kemana pun berada. Dia juga jenuh, menunggu orang yang tak fokus padanya selama delapan jam lebih.
Galuh masuk ke dalam ruangan Bima, dia langsung memeluk suaminya yang tengah duduk di singgasananya. Galuh memeluknya erat tanpa sepatah kata pun.
Isak tangis Galuh mewakilinya mengadu, betapa sakit hatinya. Air mata yang membasahi baju Bima.
"Katakan, siapa yang membuatmu menangis?" Amarah Bima tak terbendung lagi. Tapi Galuh enggan untuk mengatakannya. Hanya gelengan kepala, membuat hati Bima semakin dongkol.
Tok
Tok
Tok
Mendengar pintu di ketuk, Galuh ingin turun dari pangkuan Bima. Namun, tangan kekar Bima menahan dirinya untuk tetap memeluknya.
"Maaf, pak. Saya akan kembali nanti." Kata seorang yang baru saja mengetuk pintunya.
__ADS_1
"Tidak apa, katakan ada apa?" Kemarahan Bima tak pernah di sembunyikan dari siapa pun selain Galuh. Orang yang melihat mata Bima dan aura gelap yang di pancarkan olehnya. Seharusnya karyawan ini tau betapa besar kemarahan Bima.
"Maaf pak...."
"Apa kamu hanya mau meminta maaf saja masuk ke dalam ruanganku? Cepat katakan!" Suara dingin Bima membuat karyawan kecil itu merinding.
Tak bertanya apa-apa, karyawan itu menaruh laporan yang ia bawa untuk di laporkan. Bima tau laporan apa yang di bawa oleh karyawan itu.
"Keluarlah kalau tidak ada lagi yang mau di sampaikan!" Masih terasa menakutkan, karyawan ini baru sekali melihat kemarahan Bima yang menakutkan begini.
Karyawan itu buru-buru keluar dari ruangan tanpa meminta dokumennya di acc.
"Kenapa kamu?" tanya rekan kerjanya.
"Serem, pak Bima habis makan orang kayak e. Tadi aku menyerahkan draf dari model cincin terbaru. Aku melihat pak Bima lagi duduk di kursi, terus Bu Galuh memeluknya. Nah...."
"Rin, aku rasa pak Bima marah karena kamu salah cari waktu buat nyerahin drafnya." Komentar rekan kerja yang juga sama masih magang.
"Yuk, biasanya pak Bima enggak seperti itu. Tapi selama ada Bu Galuh di sampingnya, pak Bima jadi lain. Pasti itu karena pak Bima risih. Lagian, jadi istri kok posesif sekali." Kejengkelan Ririn sangat terasa, dia semakin membenci Galuh.
__ADS_1