Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Jangan senggol


__ADS_3

Siang itu, Bima sangat pusing dengan pekerjaan yang ada di depan matanya. Dia tidak fokus, di tambah dengan keributan yang ia dengar selama sepuluh menit terakhir.


Dia tidak tahan, akhirnya menyuruh sekretaris nya untuk menyilakan orang itu masuk.


"Nak Bima, saya mohon maaf karena kejadian kemarin. Bapak benar-benar tidak tau sudah berurusan dengan orang besar sepertimu..." bibir yang tadi menghardik, kini menjilat dan bermanis kata. Siapa dia, kalau bukan orang tua Rosalin.


Bima tersenyum kecut, kepalanya sungguh pusing saat ini. Di tambah dengan kata-kata manis orang menjilat, dia semakin muak. "Terus, apa yang bapak harapkan dengan minta maaf ini? mencabut tuntutan? atau....?"


"Tidak, bukan begitu. Aku ke sini murni minta maaf, dan...." bapak itu malu-malu menyampaikan keinginannya. "Dan... mau menjalin kerja sama."


bapak itu mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya. Bima tidak mengambilnya, tapi dia juga tidak mengabaikannya. Melihat, hanya sekedar melihat.


Ada beberapa proposal, setidaknya ada dua setiap mapnya. Sungguh miris sekali orang tua yang sudah menyinggung dirinya. Lelaki tua itu bahkan masih saja bermimpi untuk bekerja sama dengannya. Setelah kejadian kemarin.


"Bapak, saya sangat terharu dengan perbuatan bapak yang sudah mengacau di kantorku hanya untuk membawa sampah ke ruangan ku." Bima menunjukkan sikap arogansinya yang selama ini ia sembunyikan.

__ADS_1


Sikap yang selama ini perlahan sudah di jauhkan oleh Galuh. Tapi, menghadapi orang semacam orang tua Rosalin. Mungkin cocok dengan sikap arogan dan tinggi hati semacam ini.


"Nak Bima, lihat dulu...."


"Aku katakan itu sampah, ya itu sampah. Sekarang kamu sudah bertemu denganku, silakan meninggalkan ruangan saya!" tatapan mengintimidasi Bima membuat nyari orang tua itu seketika menciut.


"Jangan sombong kamu! Ingat, roda terus berputar dan kamu sekarang sudah berada di puncak. Aku hanya menunggumu tergelincir." tatapan tajam Bima di balas dengan tatapan bengis yang penuh dendam karena tidak puas akan perlakuan orang di depannya.


"Aku pun menantikan saat itu tiba. Tapi yang jelas, kamu yang akan tergelincir lebih dulu dari pada aku." senyum Bima menakutkan, seakan dia mengisyaratkan sebuah takdir besar yang akan terjadi.


Bima tampaknya terpengaruh juga dengan ucapan orang tua tak tahu diri itu. Sebagai gantinya, Bima harus segera memonopoli perusahaan yang sudah mulai oleng itu. Memberi iming-iming harga yang lumayan tinggi, pasti pemegang saham mau menjual padanya.


Pada saat terakhir, dia mengakuisisi perusahaan kecil itu. Benar, itu pemikiran yang harus segera di realisasikan.


Bima menemui papanya sebelum dia benar-benar mengambil keputusan untuk membeli perusahaan itu.

__ADS_1


"Semua terserah kamu, lagian papa juga nggak suka ada orang susah yang suka mengutuk. Lagian, kalau benar kamu tergelincir. Memang dia mau menanggungmu? kalau papa sih, nggak mau. Enak saja, punya kaki tangan dan otak kok masih minta papa." jawaban yang tak pernah di bayangkan oleh Bima, keluar dari mulut orang tuannya.


"Papa kok jahat sih sama Bima?" Bima merasa dirinya percuma bercerita dengan papanya.


"Kamu kerja di sini, papa gaji. Jangan lupa itu, papa juga masih di gaji sama kakek."


Yang benar saja, bukankah dia CEO di perusahaan ini? dan Bima wakilnya. Kenapa jadi bawa almarhum kakeknya yang mungkin tengah berbahagia bersama sang nenek?


"Mikir apa?" tanya orang tua Bima melihat putranya termenung.


"Papa nggak takut, nanti malam tiba-tiba kakek datang buat ngasih gaji ke papa? Secara sekarang kan akhir bulan." bisik Bima lirih.


Semakin lirih, ternyata semakin banyak bulu kuduk yang bangun. "Jangan menakutiku Bim, Papa mau lembur nanti malam."


"Bima nggak bohong pa, pas papa lagi asik kerja tiba-tiba kakek muncul. Terus memberikan uang ke papa, terus di ajak jalan-jalan. Bima sih ogah. Cukup jaman kecil saja di ajak jalan-jalan." Bima langsung berlari meninggalkan ruangan papanya.

__ADS_1


"Dasar anak setan...!" Teriak papa Bima. Namun setelah beberapa saat, papa Bima kembali tersadar. "Tunggu deh, itu anak kan anakku. Berarti, aku setan dong? hiiii...."


__ADS_2