
Jam kerja Dewangga di habiskan dengan meeting. Tapi dia kerja jam dua siang atau setelah jam istirahat berakhir. Itu artinya, Dewangga masih beberapa jam saja jika pulang sesuai jam kerja kantor jam enam.
Dewangga kembali ke mejanya, di sana sudah ada tumpukan file yang entah dari mana datangnya.
"Waduh, niat banget sih ngerjain." gerutunya waktu pertama melihat tumpukan file itu.
"Nggak usah mengeluh, kerjakan saja." ucap gadis cantik tadi. "Dan lagi, panggil aku 'KAK Lidya' jangan ibu. Emangnya aku sudah ibu-ibu!" kata gadis itu lagi memperkenalkan diri.
"Baik 'KAK LIDYA'." Jawab Dewangga menekankan kata panggilan untuk gadis itu.
Mungkin selama ini, dia tidak sadar. Jika di kantornya juga ada sistem senioritas. Tapi, apa para anak buah papanya ini beneran buta? Bukankah dia sangat mirip dengan wajah Bima? Kenapa tidak satu pun orang karyawan yang menyadari hal itu?
Dewangga mulai membuka-buka lembar map yang di suguhkan di atas mejanya. Itu semua rencana kerja dan proposal kerja sama.
Kepala Dewangga langsung sakit seketika. "Gini amat jadi kepala keluarga. Susah cari duit." gerutunya.
__ADS_1
"Kamu pikir gampang, cari duit? Biar di kata kerja kantoran juga nggak segampang di sinetron." gadis itu selalu menyahut apa yang di katakan oleh Dewangga.
"Kerjakan kerajaanmu, Kak Lidya!" jengkel Dewangga yang selalu ada sahutan suara saat dirinya ngedumel.
Dewangga tetap mengerjakan kerjaannya. Walau dia tau ini sangat di paksakan. Tapi, kalau tidak dia, siapa yang dia suruh? Bukankah hanya dia putra satu-satunya milik Bima? Pewaris kerajaan bisnis Fedrik yang begitu besar. Sabar Dewangga, ini hanya awal permulaan saja.
Tak terasa jam pulang kantor sudah terlewat beberapa menit yang lalu. Satu persatu karyawan meninggalkan mejanya. Dewangga, karena dia kerja sore. Dengan terpaksa masih harus lembur untuk mendapatkan gaji fullnya.
"Adek kecil, kamu nggak pulang? Ini sudah hampir jam delapan malam Lo. Biasanya yang part time itu kerja dari jam dua sampai jam tujuh aja." Kata gadis itu yang terlihat juga tidak ingin beranjak dari kursinya karena kerjaannya masih banyak.
"Kakak..... Utari bawakan makan malam... Eh, masih ada rekan kerja juga toh. Emmm...."
"Makan saja, aku sudah pesan gogood kok." Lidya mengerti Utari yang tidak melanjutkan ucapannya. Pasti dia kaget saat mengantar makanan untuk kakaknya. Untungnya dia sudah memesan makanan untuk menemaninya lembur malam ini.
"Kamu kok tau ruang kerja kakak?" tanya Dewangga pada istrinya yang terlihat orang seperti kakak beradik yang saling menyayangi.
__ADS_1
"Aku kan punya insting yang kuat dan pelacakan yang ampuh kalau mau cari kakak saja. Ya sudah kakak kerja saja, Utari suapi."
"Adik kamu lucu ya, kalian tinggal dengan siapa saja? Pasti hangat dalam rumah." Lidya terlihat iri dengan kedekatan kakak beradik ini.
"Kami tinggal berdua, kak. Kalau kakak? sudah punya pacar?"
"Utari! Itu tidak sopan." Dewangga kaget dengan pertanyaan Utari yang terkesan ingin tau masalah pribadi orang lain.
"Hahaha, tidak apa-apa. Kakak sudah punya pacar dan tinggal sendiri di rumah kontrakan. Maaf kalau kakak juga terlalu lancang. Jadi kalian tinggal berdua saja? Maaf sekali lagi, sudah membuat kalian sedih." Lidya mengira, jika Dewangga dan Utari adalah anak yang di tinggal mati oleh kedua orang tuanya.
Sehingga membuat mereka berdua harus tinggal saling bergantung satu sama lain. Untuk ukuran anak-anak yang di tinggal oleh kedua orang tuanya. Mereka berdua tampak sangat sejahtera.
Itu terlihat dari baju yang di kenakan oleh Utari begitu modis. Dan jika di lihat lebih jeli lagi, bajunya memiliki merk terkenal dan pasti harganya juga mahal.
Tas yang di pakai Utari juga tas seharga puluhan juta. Walau itu hanya tas slempang biasa. Sepatunya yang casual juga sekali lihat sudah paham itu merk Brand terkenal.
__ADS_1
Utari menyuapi Dewangga dengan penuh kasih sayang. Sembari bekerja, pasutri muda ini tak henti-hentinya mempertontonkan kemesraan sejatinya suami istri. Meskipun terlihat seperti kasih sayang kakak beradik saja. Tapi, ya itulah Dewangga dan Utari. Menjadi lebih intens setelah menikah.