
Malam ini Bima mengajak Galuh pulang ke rumah yang sebenarnya. Ini kali pertama Bima mengakui sepenuhnya siapa dia sebenarnya. Meski Galuh sudah tau kalau Bima adalah pewaris yang sah keluarga Fedrik.
"Bima, rumah mu..... besar sekali." Galuh sangat takjub dengan kemegahan rumah Bima.
"Ini juga rumahmu sekarang sayang." Bima menggandeng Galuh masuk ke dalam rumah.
"Menantuku..... Mami rindu sekali dengan mu," Rosmia, ibu dari Bima sudah menyambut Galuh di ruang tamu.
Galuh sedikit takut dan bersembunyi di belakang Bima. "Mama menakuti Galuh." Bima memeluk Galuh memberikan ketenangan.
"Bukan takut, tapi aku tak percaya diri." bisik Galuh.
"Apa kamu tidak bisa menerimaku apa adanya?" Bima bertanya penuh kelembutan.
"Bukan begitu. Ini membuatku sedikit tidak nyaman. Aku merasa kesempatanmu meninggalkan aku sangatlah besar. Kau tau, Rosaline itu memiliki perusahaan yang sama besar dengan mu. Tapi aku? Hanya cafe yang pernah kau pegang itu saja milikku. Aku merasa seperti remah rengginang di depan mu dan Rosaline sebagai serbuk berlian." Mata Galuh memerah.
Memang benar pernikahan mereka tidak di landasi dengan rasa Cinta. Tetapi, semenjak Galuh memberikan mahkotanya, dia sudah sepenuhnya menyerahkan hidupnya pada Bima.
__ADS_1
"Baiklah kalau kau mau aku bersama Rosaline. Jangan pernah menyesal nanti," jawab Bima dengan sedikit senyum.
"Kau berniat meninggalkan ku?!" Galuh kaget dengan pernyataan Bima.
"Kalau mau mau stop membicarakana remah rengginang dan serbuk berlian. Aku akan tetap berada di sisi mu." Ucapan inilah yang di inginkan Galuh. Tapi, tidak bisa di pungkiri jika level mereka sangat jauh berbeda.
"Tidak bisakah kau hanya memikirkan masa depan kita berdua? Aku tau kau takut kehilangan ku. Tapi aku baru tau kalau alasan mu adalah kekayaan ku. Aku yang mencintaimu lebih dulu, aku pula yang bersedia menjadi lelakimu dan bertahan di tengah badai. Apa hanya karena wanita seperti itu kamu akan tumbang?" Bima menunjukkan kasih sayangnya di hadapan orang tuannya dan ketiga adiknya.
"Aku bisa memaafkanmu, maka aku bisa mencintaimu lebih jika kamu juga mencintaiku."
"Jangan lanjutkan kata-katamu. Aku merasa tengah bermain opera sekarang. Di tonton banyak orang, aku malu." Galuh teripu malu, tetapi para penonton malah tertawa terbahak-bahak.
"Kau adik kelas jahil itu kan? Ternyata memang saudaraan?" Galuh berusaha mengingat-ingat siapa dua lelaki ya g ada di hadapannya.
"Iya, lo aja yang gak pernah memperhatikan kami. Lihatlah, gue sama kak Bima dan Rian itu mirip." Ari menunjukkan kemiripan mereka bertiga.
"Ah, Rian yang suka bikin perkara sama gue." Galuh baru menyadari kalau Ari dan Rian itu kembar.
__ADS_1
Hubungan antara Galuh dan keluarga Bima cepat seki akrab. Istrinya itu bahkan tak sungkan menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Bima senang dengan apa yang ia lihat.
Malam ini Galuh dan Bima menginap di rumah orang tuanya. Galuh kembali takjub dengan pemandangan kamar Bima yang merupakan kamar termewah di rumah ini.
Kamarnya saja terdiri dari dua lantai, lantai dasar itu tempat nonton tv, kamar mandi dan ada dapur mini. Di lantai dua hanya ada tempat tidur dan keluar bisa langsung ke balkon.
Galuh duduk di balkon yang memang sudah di sediakan kasur santai dan beberapa bantal. Bima duduk di belakang Galuh, memeluknya dan memainkan rambut istrinya. "Suka?"
"Aku suka, tapi aku gak betah." jawab jujur Galuh.
"Kenapa?"
"Di sini gak bisa bebas seperti di rumah sendiri."
"Kamar itu bisa tidak di buka kalau kamu tidak membukanya dari dalam. Pembantu di sini tau kalau aku tidak pernah mau di ganggu selama ada di rumah ini. Makanya ada dapur mini di dalam," jelas Bima.
"Jadi makin cinta deh sama kamu."
__ADS_1
Galuh mengalungkan tangannya di leher Bima.