Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Akulah jalang suamiku


__ADS_3

Tujuh hari itu berlalu begitu cepat, Candra bersama dengan Vio akhirnya tiba di rumah baru mereka. Candra terlihat lesu sekali, padahal dia dan Vio tidak begitu keluar villa saat di Bali.


"Vio, bisa minta tolong ambilkan aku air dingin dong." Candra sepertinya memang sudah tidak bisa bangun lagi dari sofa empuk sejak sepuluh menit ia duduki.


"Candra, ini rumah kamu. Dan aku baru pertama kali menginjakkan kaki di sini. Bagaimana aku tau di mana letak air dingin di rumah ini? Bahkan, adanya air atau yang lainnya di rumah ini saja aku masih ragu." Vio yang berada di dekat Candra pun tak segan menunjukkan rasa jengkelnya.


"Istri macam apa kamu ini. Ya sudah aku saja yang mengambilkan untuk kamu tuan putri." Candra bicara seakan dia adalah pelayan Vio.


"Hahahaha baiklah pelayan." Vio memang orang yang terlihat seperti ****** sebelumnya. Namun, setelah bersama dengan Candra, dia seiring berjalannya waktu pun berubah.


Vio menjadi gadis manis dan penurut. Tapi, bagaimana perasaannya pada Bima? Memang sudah ada pengakuan seperti itu. Tapi yang namanya perasaan, tidak ada yang tau.

__ADS_1


Candra berjalan ke arah belakang yang tak jauh dari tempat mereka tadi duduk. Rupanya, hanya melangkah beberapa langkah saja sudah masuk ke dalam dapur.


Dapurnya lucu, simpel dan yang pasti nyaman. ruangan yang terletak di paling belakang itu ternyata tak berbatas dengan kolam dan meja makan.


Mata Vio terbelalak melihat rumah minimalis nan mewah milik Candra. Dapur minimalis langsung meja makan di sisi kanan. Tanpa dinding langsung di sambut dengan kolam renang.


Di samping meja makan, ada sebuah kasur santai dan sebuah ayunan rotan menghadap ke kolam.


Candra mengeluarkan beberapa jenis buah dan minuman dingin. Sedangkan Vio duduk di ayunan rotan menikmati pemandangan indah di depannya.


"Banget. Siapa arsitekturnya? Aku juga seorang arsitek, kalau kamu tidak tau." kata Vio yang masih menikmati keindahan rumah barunya.

__ADS_1


"Benarkah? Aku pikir kau hanya menjadi ayam di kampus." Ucap Candra frontal.


"Sialan, tidaklah. Aku bahkan lulus dengan predikat cumlaude. Seharusnya kamu bangga dengan apa yang sudah di raih oleh istrimu." Kata Vio berbangga diri.


"Benarkah? Tapi sayangnya kamu itu sudah tertulis di dalam sejarah kak Bima dan kak Galuh sebagai ******." kata Candra benar, sampai kapan pun, namanya tidak akan bersih di mata Bima dan Galuh.


"Benar sih, tapi kalau perjuanganku keluar dari rumah itu harus disertai dengan keegoisan ini. Maka aku tidak keberatan, santai saja. Tapi, aku mau bilang, aku belum pernah pacaran dengan siapa pun." tatapan Vio menerawang dan terlihat pasrah.


Menggoda Bima adalah pilihannya dulu dengan keadaan sadar. Bahkan, dia juga sudah mengkaji dari kejadian yang menimpa salah satu sahabatnya. Rosaline.


Gadis yang terlahir sebagai putri tersayang dari keluarga kaya raya. Tiba-tiba menjadi seorang yang di usir dari negaranya sendiri dan dimiskinkan oleh kakak iparnya atau Bima.

__ADS_1


"Ya sudah, jadi jalangku saja kalau begitu." Kali ini Candra sedikit mengalah pada keadaan. Mungkin memang benar, Vio melakukan itu karena terdesak.


"Hmmm, boleh juga. Akulah ****** dari suamiku sendiri." Kata Vio masih tak bisa di terima oleh Candra akan cara pikirnya.


__ADS_2