Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Cinta Fairus


__ADS_3

Rumah yang tak begitu luas yang biasa di huni oleh dua orang saja. Kini terlihat sangat ramai oleh beberapa orang tua. Dari pihak Fairus, papa dan mamanya terlihat sangat lelah.


Juga ayah dan ibu dari Raya yang menyambut tamu yang datang dengan senyum lebarnya.


"Waduh nak Galuh, sudah berapa bulan?" tanya ibu dari Raya.


"Baru empat empat bulan Bu. Tadinya gak tau kalau hamil, tau-tau sudah umur tiga bulan." jawab Galuh memegangi perutnya.


"Ini temannya Raya juga?" tanya ibu Raya pada Santi dan Yohanes.


percakapan hangat itu bertolak belakang dengan guru killer yang sejak tadi tidak beranjak dari depan boks bayi. Raya yang kelihatan lelah pun masih mempertahankan kesadarannya di tengah rasa kantuk yang menyerangnya.


"Raya, kalau Lo ngantuk. Tidur saja, kami pamit pulang dulu." kata Santi yang melihat betapa lelah temannya itu.


"Pak Fairus, jangan cuma debay nya aja yang di perhatiin. Bundanya juga dong." dengan berani Galuh memprotes dosen dengan wajah segaris itu.

__ADS_1


"Aku sudah menyuruh dia buat tidur dari tadi. Emang dasarnya bandel, heran aku. Gak di kampus, gak di rumah. Susah di benerin." jawab ayah satu anak itu penuh kasih sayang.


Santi awalnya tidak percaya dengan apa yang di katakan Galuh. Kalau dosen killer itu seperti memiliki kepribadian ganda saat menghadapi Raya. Sabar dan penuh perhatian.


"Aku gak gak capek, kamu itu yang belum tidur nyenyak dari aku mulai kontraksi. Aku ada mama sama papa juga ayah dan ibu yang bantu jagain si kecil." kata Raya lemah.


"Ais, ini berdua. Mama, pindah ke rumah ku aja baby nya. Biar Mama sama papa nya tidur." Galuh pura-pura mau mengambil si kecil yang membuat Fairus langsung loncat ke atas kasur.


"Aku tidur, awas kalau anakku di pindah dari boksnya!" seru Fairus dengan nada mengancam.


Menjenguk bayi memang menyenangkan, secara tidak sadar, mereka sudah berada di rumah itu sampai langit gelap.


"Makan malam di rumah gue aja yuk." ajak Galuh pada kedua temannya.


"Gak usah, ngrepotin nanti." kata Santi sungkan.

__ADS_1


"Gak ada yang di repotin, ayo makan malam dulu, baru pulang." kata Bima sedikit memaksa.


Akhirnya keduanya makan di rumah Bima. Santi yang selama ini kurang dekat dengan Galuh pun merasa malu. Galuh orangnya sangat terbuka, selain itu, Bima juga terlihat sangat ramah.


Berbanding terbalik dengan Bima yang ada di kampus. Seorang cowok dingin yang hanya bisa tersenyum pada Galuh seorang.


Tapi, selama perjamuan. Bima terus menerus menunjukkan senyum manisnya. Wajah tampan lelaki itu juga semakin memikat.


Ah, seandainya Bima masih singel, sudah pasti banyak yang mengantri.


Pantas saja Rosaline sangat tergila-gila pada Bima yang terkenal dingin nan bucin pada Galuh ini. Lelaki itu memang memiliki daya pikat yang sangat luar biasa.


Tapi Galuh juga bukan gadis jelek yang memiliki keberuntungan bagus. Galuh wanita cantik dan lugu. Dia juga pemberani, itu terlihat dari dia mampu menaklukan hati Bima.


Bima bisa di bilang idol di kampus, tapi dia selalu mengunci diri. Sayang juga sebenarnya, tapi melihat dia sangat bucin pada Galuh.... itu bisa di katakan wajar, Bima hanya menjaga cintanya untuk sang istri.

__ADS_1


__ADS_2