
"Vio, Mimi bahkan sudah memperingatkan kamu beberapa waktu lalu. Kenapa kamu nggak ngerti-ngerti? Heran deh, bebal sekali jadi orang." Rosmia ngoceh, karena keponakannya ini sungguh tak bisa di kasih tau.
"Tapi Tante, dalam cinta itu butuh perjuangan." Jawab Vio yang sepertinya masih belum kapok juga.
"Aku paham, bahkan sangat ngerti masalah perjuangan itu. Tapi, kamu itu salah berjuang. Tidak seharusnya kamu berjuang untuk suami orang. Cari jodohmu sendiri, jangan jadi wanita gatal begitu." Rosmia di buat geregetan oleh Vio.
"Tante, Tante tau istilah poligami nggak sih? Menikah lebih dari satu, bagi seorang suami itu wajar. Dan sah, di mata negara." Vio masih tetap berusaha untuk mendapatkan status nyonya Bima. Walau itu jadi yang kedua.
"Apa yang kamu inginkan menjadi istriku?" Terdengar memecah suasana.
”Kak Bima, aku.... Aku..."
"Katakan dengan jelas! Semasih aku masih memberimu kesempatan berbicara." Bima membawa Dewangga bersamanya setelah Galuh kembali terlelap karena emosi.
"Aku ingin apa yang di miliki kak Galuh, juga menjadi milikku."
__ADS_1
"Mah, usia Vio sepantaran dengan Candra. Nikahkan saja mereka!" Ini bukan usulan, tapi sebuah perintah.
Sebelum menjawab, Yasa memperhatikan Vio dengan seksama. Ada rasa takut menikahkan salah satu putranya. Tapi, jika Bima sudah mengatakannya, apa masih bisa di bantah?
"Tapi, Candra kan masih belum lama papa...."
"Waktu tiga tahun sudah cukup, pa. Sudah banyak pelajaran yang di ambil selama itu. Suruh saja Candra pulang dan menikah."
Yasa kembali melihat ke arah Vio, baru menelepon putranya yang ke dua untuk pulang.
"Tapi kak Bima, Vio sama Candra bukan seorang teman baik. Bagaimana kami bisa saling menikahi? Apa kehidupan seperti itu bisa aku jalani? Aku cintanya sama kak..."
"Kamu mau atau tidak? Kalau tidak, cepat pergi dari rumah ini dan jangan mengganggu kehidupanku!" Bima memotong ucapan Vio dengan kejam.
"Kalau tidak memperhitungkan keluargamu, aku bahkan tidak Sudi menjadikanmu adik ipar ku. Kalau kamu menginginkan cara lain untuk masalah ini. Hanya ada pengusiran seluruh keturunanmu dari sini. Dan lebih parahnya adalah melenyapkan mu tanpa jejak! ****** sepertimu akan tetap menjadi ****** di mataku!"
__ADS_1
Bima meninggalkan keluarganya dan segera kembali ke kamar. Yasa yang sudah berhasil menghubungi adiknya pun mengatakan yang sebenarnya.
Dari setiap ucapan Bima, Candra mampu mendengarnya di sana. Candra mendengar semua, dia pun juga takut untuk menolak.
Meninggalkan Nanda sang adik yang masih berusaha di negeri orang. Candra tak punya pilihan lain, karena semua atas keinginan Bima.
"Nak Vio, kamu pulang saja ya. Nanti orang tua kamu khawatir. Kamu juga kok enggak bisa belajar dari kesalahan, sih? aduh, kasihan anak keduaku." Yasa menyayangkan ulang Vio kali ini.
Bapak empat anak ini benar-benar tak menyukai Vio. Biar bagaimana pun, wanita penggoda akan tetap menjadi wanita penggoda. Apa dia bisa menjaga marwahnya nanti?
Yasa hanya bisa pasrah, mungkin lebih baik jika Bima melenyapkan Vio saja. Dari pada harus memberikannya pada sang adik.
Petaka, petaka bagi keluarga jika Vio masuk ke dalamnya. Aduh.
Rosmia mencoba untuk menenangkan Yasa. Dia paling mengerti keadaan suaminya saat ini. Rosmia tersenyum dan membawa Yasa kembali ke rumahnya sendiri.
__ADS_1
Vio akhirnya pulang ke rumahnya menggunakan taksi yang di pesan oleh orang tua Bima.